Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 174 Memberinya Pelajaran


__ADS_3

Setelah membuka mata, ia menajamkan penglihatannya, memicingkan mata sambil mengerjap. Wajah lelaki itu begitu nyata. Dewi menepuk pipinya sendiri.


"Mimpi gak sih?" tanyanya yang terus menepuk-nepuk pipinya.


"Ini nyata, kamu tidak bermimpi," ucap Nathan.


Dewi langsung terbangun dan menarik selimut untuk menutup tubuhnya yang hanya menggunakan tank-top. Jelas ia malu dalam keadaan seperti itu, Dewi bukan gadis yang suka memamerkan bagian tubuhnya. Apa lagi dadanya begitu berisi. Nathan yang sempat melihat hanya menelan saliva.


"Ngapain di sini?" tanya Dewi jutek, dan ia masih menutup bagian dadanya dengan selimut, "keluar!" sentaknya kemudian.


"Maaf, aku tidak bermaksud ..."


"Keluar!"


Dewi mencari bajunya yang sempat ia buka tadi sebelum tidur. Dengan cepat memakainya, setelah itu selesai, ia bangkit dan mendorong tubuh Nathan agar keluar dari kamarnya. Ia mengusirnya tanpa mendengar penjelasan.


"Wi, aku tidak bermaksud begitu. Aku lihat pintu kamarmu terbuka, aku kira kamu tidak tidur," bela Nathan sendiri.


"Aku tidak mau dengar alasan! Kakak sudah kurang ajar main masuk kamar gadis sembarangan. Aku bukan wanita yang menerima lelaki masuk kamarku begitu saja, aku juga bukan wanita yang selalu Kakak ucapkan." Dewi terus mendorong sampai Nathan berhasil keluar dari kamarnya.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Rahayu. Wanita tua itu mendengar kebisingan di kamar Dewi, dan ia langsung menemuinya.


"Bu, Kak Nathan tuh. Masa dia masuk kamarku saat aku tidur, mana lagi pakai tank-top," Dewi mengadu.


"Nathan!" protes sang nenek.


"Salah paham, Nek. Aku gak bermaksud apa-apa, maafkan aku," bela Nathan lagi.


"Minta maaf sama Dewi, bukan sama Nenek!" cetus Rahayu.


"Aku sudah minta maaf, tapi Dewi tidak percaya. Aku bukan laki-laki yang suka kurang ajar sama wanita, aku pria baik-baik. Kalau aku bermaksud jelek sudah sejak awal aku melecehkanmu," jelas Nathan.


"Aku juga bukan wanita murahan." Dewi pun akhirnya meluapkan emosi yang ia tahan sejak dulu, "aku juga wanita baik-baik," ucapnya tak mau kalah.


"Sudah, jangan bertengkar. Nenek masih pusing, kalian berisik sekali," kata Rahayu.


"Dia tuh, datang-datang bikin rusuh." Tunjuk Dewi menggunakan wajah ke arah Nathan.


"Mau sampai kapan kalian selalu bertengkar?" tanya Rahayu.

__ADS_1


"Siapa yang bertengkar, Nek? Ini hanya salah paham saja," ujar Nathan meluruskan permasalahan.


Rahayu tidak mau mendengar alasan, akhirnya ia pergi meninggal sepasang anak manusia itu. Kini hanya menyisakan Dewi dan Nathan.


"Wi." Nathan langsung meraih tangan gadis itu, "apa kamu masih marah? apa kamu tidak mau memaafkanku? Aku sengaja datang ke sini hanya untuk menemuimu, kamu mau 'kan memaafkanku?"


Dewi menarik tangannya sambil berkata. "Ya, aku memaafkanmu. Tapi tolong jangan seperti ini, perubahan Kakak buatku takut."


"Takut kenapa? Aku bukan hantu."


"Sikap Kakak yang buatku takut, Kakak juga aneh. Tiba-tiba saja baik, 'kan itu aneh."


"Tidak ada yang aneh, Wi. Inilah sebenarnya sikapku. Maafkan aku yang lebih percaya pada orang lain, tanpa tahu kamu yang sebenarnya. Kita bisa berteman 'kan?"


Dewi tidak menjawab, ia masih bingung dengan niatan lelaki itu padanya. Apa jangan-jangan perasaannya itu memang benar? Tapi ia tidak boleh menerima persahabatan begitu saja setelah apa yang dia lakukan. Ada hukuman yang harus dibayar oleh lelaki itu. Kapan lagi bisa mengerjai lelaki dingin dan angkuh itu.


"Maaf, Kak. Sepertinya aku harus ke dapur," pamit Dewi tanpa memberi kejelasan akan permintaan Nathan padanya.


* * *


Dewi memang pergi ke dapur, ia melihat stok bahan makanan di dalam kulkas. Karena malam ini ia ingin merayakan akan kembalinya ia di rumah Rahayu. Tak lupa ia menghubungi Nisa untuk ikut bergabung.


"Bu, stok makanan tinggal sedikit. Aku mau ke pasar, aku juga sudah menghubungi kak Nisa agar nanti malam datang ke sini, aku mau merayakan kebersamaan kita lagi, Bu."


"Ya sudah kalau memang mau ke pasar, biar Nathan yang mengantarmu. Uangnya ambil di kamar Ibu, di tempat biasa," kata Rahayu.


"Iya, Bu." Dewi pergi ke kamar untuk mengambil uang belanja.


Sedangkan Rahayu, ia memanggil Nathan. Dan pria itu dengan cepat menghampiri.


"Ya, Nek? Nenek memanggilku?"


"Kamu antar Dewi ke pasar," titahnya.


"Pasar?" tanya Nathan.


"Iya, ke pasar. Apa kamu tidak mau?"


Belum Nathan menjawab, Dewi sudah kembali. Nathan langsung mengangguk karena melihat Dewi sudah siap.

__ADS_1


"Iya, Nek. Aku akan mengantarnya," jawab Nathan, "ayok, Wi. Kakak yang akan mengantarmu."


Dewi dan Nathan akhirnya pergi ke pasar. Dan ini kesempatan Nathan agar terus dekat dengan gadis itu. Tak peduli dengan bau yang menyengat saat di pasar. Ini pertama kali ia berada di pasar tradisional. Dewi cukup banyak membeli bahan makanan. Sayur, daging, dan lain-lain. Nathan nampak kerepotan saat membawa belanjaan itu.


Dewi hanya senyum-senyum melihatnya, itu memang sengaja ia lakukan. Ingin tahu, apa lelaki itu layak dijadikan teman? Atau mungkin bisa lebih dari teman jika lelaki itu sabar dalam sikapnya.


"Masih ada yang mau dibeli lagi?" tanya Nathan.


Dewi berpikir, apa lagi yang akan dibelinya? "Buah, buah juga habis. Kakak saja yang beli, kaki ku pegal," suruhnya.


"Iya, biar Kakak saja yang beli. Kamu duduk di sini." Nathan meletakkan belanjaan di samping Dewi, lalu ia pergi membeli buah-buahan.


Dewi merasa puas karena selama di pasar, Nathan seperti budaknya. Disuruh ini itu, dia mau melakukannya. Sampai Nathan kembali, Dewi masih setia berada di sana.


"Ini buahnya, sepertinya semuanya sudah selesai. Kita pulang sekarang," ajaknya. Nathan sendiri sudah tidak kuat dengan kaki yang terasa pegal. Apa lagi ia baru sembuh dari sakitnya, kepalanya kembali sakit. Keringat mulai bercucuran dari kening.


"Kakak pasti capek?" tanya Dewi sedikit kasihan.


"Tidak, hanya gerah saja. Di sini panas," elak Nathan. Ia harus terlihat kuat di depan Dewi. Ia harus menunjukkan bahwa ia lelaki sigap yang bisa membantu istrinya kelak saat ke pasar.


"Ayok pulang?" ajaknya lagi, "kamu duluan, biar belanjaan aku yang bawa," katanya seolah kuat.


Dewi jalan lebih dulu, sementara Nathan, ia begitu kerepotan. Belanjaan tak semua ke bawa, ia harus kembali untuk mengambil sisa belanjaan.


* * *


"Tidak ada yang tertinggal 'kan?" tanya Dewi saat Nathan tiba di mobil.


"Sepertinya tidak," jawabnya.


Melihat keringat itu terus bercucuran, Dewi jadi semakin merasa bersalah. Lelaki itu tenyata sudah membuktikan bahwa ia memang sungguh-sungguh atas kesalahannya.


"Seharusnya, Kakak tidak perlu repot-repot mengantarku ke pasar. Kakak pasti capek karena tidak terbiasa ke pasar seperti ini."


"Tidak apa-apa, sekalian belajar. Anggap saja Kakak sedang mengantar istri ke pasar." Jawabnya sambil tersenyum.


...----------------...


Mampir di sini gengs sebelum nunggu aku up.

__ADS_1



__ADS_2