Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 16


__ADS_3

Kini kedua pria itu duduk saling berhadapan. Sedangkan Nindya melihat mereka secara bergantian. Kedua pria itu sama tampan, hanya bedanya Bayu berwajah asli Indonesia.


Andra sedikit kesal dengan pria yang ada di hadapannya, kenapa pria itu masih berada di sini? Tidak tahu apa dia ingin bicara berdua dengan si pemilik rumah.


Hingga beberapa saat, ibu Rahayu datang menghampiri. Ia belum tahu akan kedatangan Andra di sana. Setelah ikut bergabung dan duduk di sebelah Bayu, ia baru menyadarinya.


"Tuan Andra," ucap Rahayu.


"Bu," balas Andra dengan senyuman.


Lalu tiba-tiba wajah Rahayu berubah seketika, ia teringat akan penuturan anaknya yang sudah terenggut mahkotanya oleh pria itu.


"Ada apa Anda kemari, Tuan Andra?"


"Saya ingin bicara dengan Ibu."


Rahayu melirik ke arah Bayu, ia tak ingin orang lain tahu akan permasalahan putrinya dengan majikannya. Semua orang akan berpikir jelek tentang anaknya, hingga akhirnya ia menyuruh Bayu pulang dengan alasan sudah petang. Lagian ia kedatangan tamu agung di rumahnya. Siapa yang tak mengenal keluarga Wiliam? Bahkan mereka sering muncul dibarbagai media. Bahkan semua orang tahu kalau Affandra Wiliam sudah menikah.


Tahu dengan tatapan Rahayu, Bayu pun akhirnya undur diri. Mungkin ia akan kembali esok hari.


"Nindya, aku pamit dulu. Besok aku akan kembali," tutur Bayu.


"Tidak kembali juga tidak apa-apa," gumam Andra yang cemburu melihatnya. Bahkan Nindya ikut ke depan untuk mengantar Bayu keluar.


* * *


"Jadi kedatangan Tuan ke sini itu apa?" tanya ibu Rahayu. "Kalau untuk menjemput Nindya kembali bekerja, sepertinya Ibu tak mengizinkan."


"Bu," protes Nindya pada ibunya, entah kenapa Rahayu berubah jadi sedikit galak pada majikan anaknya. "Kalau aku berhenti kita mau makan apa, lagian aku bekerja di rumah Nyonya Anye." Sejujurnya Nindya sudah merasa nyaman bekerja di sana.


"Cari pekerjaan lain 'kan bisa, Ibu tidak ingin kamu ada masalah."


Omongan ibunya ada benar juga, Nindya pun mulai berpikir.

__ADS_1


"Tidak usah menimbang-nimbang lagi, kamu berhenti saja."


"Bu, kedatangan saya kemari bukan untuk menjemput Nindya kembali bekerja, tapi saya mau bertanggung jawab." Andra terus terang mengenai apa yang sudah diperbuatnya, lagian ibunya Nindya pasti sudah tahu. Bisa dilihat dari sikapnya yang berubah drastis, biasanya ibu Rahayu selalu bersikap sopan. Tapi Andra mencoba memahami itu, ibu mana pun tidak akan bisa menerima begitu saja.


"Tanggung jawab? Kalau Tuan menikahi Nindya mau dikemanakan istri Anda? Mudah sekali mengucapkan itu tanpa berpikir apa yang akan terjadi setelahnya."


Nindya yang mendengar penuturan ibunya sangat terkejut, baru kali ini melihat ibunya marah. Bahkan ia marah pada seorang Affandra Wiliam.


"Sudah, Bu. Ibu tahan emosi, lagian aku juga tidak akan menikah dengannya. Tuan Andra sudah beristri mana mungkin aku menjadi seorang pelakor," tutur Nindya, ia menegaskan bahwa ia tak bisa menikah dengan pria beristri, sekali pun dengan pria yang sudah menodainya.


"Kenapa kamu tidak bisa menerimaku? Aku akan menceraikan Aileen, kamu tahu aku tidak mencintainya bahkan aku kecewa padanya," ucap Andra.


"Apa maksud Tuan Andra? Pernikahan itu bukan lelucon, Tuan. Jika memang tidak mencintainya kenapa menikahinya dan malah berbuat seperti itu pada anak saya?"


"Ibu harus dengar penjelasan saya." Meski malu, Andra menceritakan semuanya pada ibu Rahayu. Tak ada yang mesti ia tutupi, karena sebuah hubungan harus dilandai kejujuran. "Saya mencintai Nindya dari dulu, bahkan sebelum saya bertemu dengan Aileen."


"Saya kira dengan menikah saya bisa melupakan cinta saya, Bu. Istri yang saya anggap baik ternyata tak sebaik yang saya kira."


Ibu Rahayu dilanda kebingungan, ini sudah terjadi. Lalu bagaimana dengan nasib anaknya jika sudah begini? Bagaimana kalau Nindya hamil? Tidak bisa dibayangkan akan seperti apa jadinya, semua orang pasti menyinyir Nindya sebagai gadis murahan. Hamil dan memiliki anak tanpa suami sungguh memalukan, tapi ia juga tidak bisa terima putrinya dinikahi oleh pria beristri.


Kedua wanita itu kini terdiam setelah mendengar penuturan majikannya, entah keputusan apa yang akan diambilnya.


"Saya akan menikahi Nindya malam ini juga, saya sudah siapkan semuanya," ucap Andra dengan serius.


Mata Nindya terbelalak, ia tak menyangka kalau tuannya sudah menyiapkan semuanya.


Hingga malam menjelang.


Beberapa orang suruhan Andra datang, mereka menjemput calon pengantin untuk segera pergi ke acara yang memang sudah disiapkan oleh Andra sendiri. Nindya nampak ragu, ia takut menikah dengan tuannya itu. Ia tak ingin bermasalah dengan keluarga Wiliam, apa lagi dengan Aileen. Wanita yang menurutnya memiliki kelainan itu.


"Bu, bagaimana ini?" keluh Nindya.


"Dengarkan apa kata hatimu saja, Ibu juga takutnya kamu hamil," terang Rahayu. Akhirnya ibu Rahayu pasrah anaknya dinikahi oleh majikannya.

__ADS_1


Kedua wanita itu akhirnya memutuskan untuk pergi bersama Affandra Wiliam. Tapi sebelum pergi, ibu Rahayu menitipkan si kembar bersama tetangganya.


* * *


Sedangkan Aileen, wanita itu tengah gelisah. Sudah beberapa kali ia menghubungi suaminya tapi tak kunjung tersambung. Hingga akhirnya ia putuskan menghubungi Roy, sekretaris sekaligus tangan kanannya.


Dan panggilan pun tersambung, tapi sayang Roy tidak mengangkatnya karena ponselnya ter-silent. Karena semua orang sudah berkumpul di tempat di mana Andra akan menikahi Ayunindya, gadis cantik yang baru berusia 21 tahun tersebut.


Ibu Rahayu meneteskan air matanya ketika menyaksikan anaknya dipersunting oleh pria yang bernama Affandra Wiliam yang usianya terpaut 9 tahun dengan putrinya itu. Rela tidak rela, ibu Rahayu pun pasrah karena memang tak ada pilihan. Dari pada anaknya hamil dan memiliki anak tanpa suami.


Andra tersenyum lebar setelah ia berhasil menikahi gadis yang selama ini dicintainya. Tapi sayang, pernikahannya untuk sementara ia sembunyikam dari orang tuanya. Nindya mencium punggung tangan lelaki yang ada di sampingnya, yang kini resmi menjadi suaminya beberapa menit lalu.


Karena semua sudah selesai, mereka akhirnya undur diri dari sana. Penjagaan memang diperketat sehingga tak ada siapa pun yang mengetahui ada acara pernikahan di dalam sana.


"Selamat, Tuan," ucap Roy.


"Terima kasih, Roy. Kerjamu bagus, semuanya sempurna," balas Andra.


Karena urusannya di sini selesai, Roy pun pamit karena masih ada yang harus ia kerjakan. Orang suruhannya belum melaporkan sesuatu tentang Aileen kepadanya.


"Cukup awasi saja, jangan sampai lengah," pesan Andra pada Roy sebelum pergi.


* * *


Di satu ruangan yang nampak sunyi. Nindya masih setia pada tempatnya, gadis itu duduk di depan meja rias yang sederhana miliknya. Padahal ia sudah sangat lelah dan mengantuk. Baru saja hari ini tiba di tempat tinggal ibunya, tapi ia malah sudah menjadi seorang pengantin.


Hingga seseorang datang menghampirinya, seorang laki-laki yang kini sudah resmi menjadi suaminya.


"Kenapa tidak istirahat? Apa kamu tidak lelah? Tidurlah, sekarang kita sudah sah."


Nindya jadi gugup seketika, padahal ini bukan pertama kalinya berada disatu ruangan bersamanya.


...----------------...

__ADS_1


mampir di sini juga yuk



__ADS_2