Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 59


__ADS_3

Mini bus terus melaju, hingga kendaraan itu sudah berada di batas akhir jalan.


"Neng, bangun, Neng." Seorang kenek membangunkannya.


Elena membuka matanya, betapa terkejutnya ia ketika melihat keberadaannya. "Di mana ini, Pak?" tanya Elena.


"Neng mau turun di mana?"


Elena pun memberitahukan di mana seharusnya ia berhenti pada kenek itu.


"Wah ... Itu sudah lewat, Neng. Neng naik ojek saja, di depan ada pangkalan ojek."


"Oh iya, Pak. Terima kasih."


Elena turun dari mini bus, ia segera menacari ojek. Ia ingin segera pulang, berendam di bath-up dengan air hangat beraroma terapi. Ia sudah membayangkan betapa rilex-nya nanti saat berendam.


"Pak, ojek, Pak." Elena melambaykan tangan memanggil tukang ojek itu. Ia segera menaiki motor tersebut, menuju rumahnya.


Saat berada di motor, Elena semakin pusing. Rasa mual semakin menjadi, ia sudah tidak kuat. Sepertinya ia masuk angin. Beberapa menit kemudian, ia pun sampai di rumah om-nya. Ia turun dari motor, lalu membayarnya.


Elena segera masuk memasuki halaman, ia mengerutkan kedua alisnya ketika melihat sebuah mobil terparkir di halaman rumah om-nya. Ia hapal betul siapa pemilik mobil itu, saking tidak percayanya, ia sampai melihat plat nomot mobil itu. Tidak salah lagi, mobil itu milik Roy.


"Sedang apa dia di sini? Tahu dari mana dia rumahku," ucapnya sendiri.


Karena penasaran dengan tujuan pria itu ke rumahnya, Elena segera masuk ke dalam rumah. Ia melihat om dan tantenya bersama Roy, lalu melihat seorang ibu-ibu duduk di samping pria itu. Elena menebak jika wanita itu pasti ibunya. Ia masih ingat akan kejadian tadi pagi di villa, bahwa ibunya Roy ingin bertemu dengannya.


"Itu, Elena baru sampai," kata tante-nya Elena.

__ADS_1


"Sini, El. Duduk dekat, Om." Om-nya melambaykan tangan pada keponakannya itu.


Jantung Elena sudah dag dig dug, wajah om dan tante-nya begitu sangat serius. Apa yang mereka bicarakan? Pikirnya. Sedikit ragu untuk menghampiri, tapi ia tetap menemuinya dan duduk di tengah-tengah om, tante-nya. Sekikas, ia melihat pria yang duduk di hadapannya, lalu melihat ke arah samping pria itu sambil tersenyum tipis.


"Calon menantu Ibu cantik sekali," ucap ibu Rahma tiba-tiba.


"Haaahhh ... Calon menantu," batin Elena tak percaya.


"Sudah berapa lama kalian pacaran?" Pertanyaan yang terlontar dari om-nya membuat Elena semakin dag dig dug tak menentu.


"Pa-pacaran de-dengan si-siapa, Om?" Saking terkejutnya dengan pertanyaan itu membuatnya gugup.


"Dia pacarmu 'kan?" Timpal sang tante sambil menunjuk ke arah Roy dengan wajahnya.


Elena semakin membulatkan matanya, lalu menatap tajam ke arah Roy. Pria itu menunduk, karena tidak tahu harus berbuat apa. Kesalahpahaman kini semakin melebar, sang ibu menceritakan apa yang sudah terjadi dengan Elena. Dan kabar itu meluas karena majikannya.


"Siapa yang pacaran, Om? Aku dengannya tidak ada hubungan apa-apa. Kenapa kalian beranggapan takut aku hamil di luar nikah, itu tidak akan terjadi," bela Elena.


"Kamu! Kamu jangan diam saja, cepat ngomong sesuatu!" Elena mendelikkan mata ke arah Roy, bisa-bisanya mereka semua mengira ia pacaran dengannya.


Namun tiba-tiba ...


Hoek ... Elena sangat mual, ia mabuk perjalanan tadi. Kepalanya semakin pusing, ditambah lagi dengan masalah ini.


"Tuh, pasti hamil?" duga ibu Rahma.


Alamak ... keadaan semikin rumit, bahkan tante Elena pun langsung percaya dengan ucapan ibu Rahma.

__ADS_1


"Mas, kita tidak bisa membiarkan mereka terus. Kita harus segera menikahkan mereka," kata tante.


"Om, Tante. Aku tidak hamil, ini hanya masuk angin," bela Elena. Ia gelagapan karena takut dinikahkan dengan Roy. "Roy! Ucapkan sesuatu, kamu jangan diam saja dong!" kesal Elena.


"I-iya," jawab Roy. "Bu, Dokter Elena tidak mungkin hamil, kami tidak ada hubungan apa-apa," ucap Roy pada ibunya.


"Bisa-bisanya kamu bilang begitu setelah apa yang kamu lakukan pada keponakanku, hah? Pria macam apa kamu ini? Enak saja mau lepas tanggung jawab!" Om Elena menyalak marah pada Roy.


"Ti-tidak, Om. Bukan begitu maksudnya, kami memang tidak ada hubungan apa-apa," bela Roy.


"Panggil penghulu saja, Mas. Kita nikahkan mereka sekarang juga," timpal tante.


"Setuju," antusias ibu Rahma. Pernikahan ini memang sangat ia inginkan dari putranya.


"Aduh bagaimana ini? Kenapa malah akan memanggil Pak Penghulu," batin Elena.


Tanpa menunggu lagi, om Elana segera menghubungi pak rt. Ia meminta untuk menghubungi penghulu datang kemari. Sedangkan ibu Rahma, ia pun sibuk menghubungi Andra. Ia ingin pria itu menjadi saksi akan pernikahan anaknya itu.


Sedangkan Elena, ia memijat pelipisnya, kalau sudah begini mau berbuat apa? Mereka semua tidak percaya dengam kondisi yang sebenarnya. Ia tak ada lagi tenaga untuk membantah, kepalanya semakin pusing.


Mereka semua tinggal menunggu penghulu datang dan saksi di pernikahan Roy dan Elena.


..."Kenapa harus menikah dengan cara seperti ini?" batin Roy....


...----------------...


Nikah, nikah .... Elena dan Roy melepas lajang 🤣🤣🤣 siapkan kado untuk mereka ya readers, wkwk

__ADS_1


Selamat siang semua, tetap semangat menunggu part berikutnya ya ....


__ADS_2