
Marsya berjalan mendekati Aileen, gadis kecil itu langsung memeluknya tanpa ragu. Bahkan ia seperti menemukan sosok ibu dari seorang Aileen. Aileen sendiri merasa terobati akan kerinduannya terhadap Akhsa setelah dipertemukan dengan bocah cantik itu.
"Daddy mana, Aunty?" tanya Marsya.
"Sudah pergi," jawab Aileen "apa daddy tidak sempat pamitan padamu?"
Marsya menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Tadi pagi sempat bilang akan pergi, lalu aku memintanya untuk menjemput, Aunty. Tadinya tidak mau."
"Kenapa?" Aileen mengerutkan keningnya, tidak mau, tapi kenapa menjemputmu? Bahkan terkesan menculikku.
"Aunty kenapa bengong?"
"Tidak apa-apa, kenapa bangun?"
"Belum ngantuk, aku sengaja menunggu Aunty. Ke kamar yuk?" ajak Marsya kemudian.
"Tunggu." Langkah Marsya terhenti saat mendengar suara Aileen.
"Ada apa?" tanya Marsya bingung.
"Aunty tidak bawa baju, daddy-mu tadi memaksa Aunty pergi dengan cara menggendong. Akhirnya, koper milik Aunty tertinggal."
"Pakai baju mommy-ku saja. Ukurannya kayaknya sama dengan yang Aunty pakai." Marsya mengajak Aileen ke tempat pribadi mendiang istri dokter Zack. "Ini kamar mommy dan daddy," kata Marsya setelah membuka pintunya, "tapi sudah tidak di tempati, karena daddy suka sedih kalau melihat barang-barang milik mommy."
"Kalau suka sedih, kenapa mengizinkan Aunty memakai baju mommy?"
"Jadi daddy sudah mengizinkan Aunty?"
Aileen mengangguk. "Kenapa? Kamu tidak percaya?"
"Bukan tidak percaya, aneh saja."
"Aneh kenapa?"
"Tidak apa-apa, lupakan saja." Marsya berharap sang daddy tidak akan marah pada wanita ini, ia tahu kalau daddy-nya pasti tidak sungguh-sungguh mengizinkan orang lain menyentuh barang-barang milik sang mommy. Apa lagi ini, mengizinkan untuk dipakai.
"Aunty pilih saja yang mana bajunya." Marsya membuka lemari pakaian yang terdapat 3 pintu itu lebar-lebar.
Aileen menatapnya tidak berkedip, baju-baju itu nampak bagus. Bahkan masih ada lebel yang terpasang, baju yang sempat belum terpakai oleh wanita bernama Sonia.
"Ini bagus gak? Cocok gak kalau Aunty pakai?"
"Bagus, Aunty. Itu baju kesayangan mommy, Aunty pakai saja."
__ADS_1
"Aunty pilih 2 baju ya?"
"Lebih juga tidak apa-apa, daddy pasti lama berada di luar kota. Soalnya dinas dari rumah sakit."
"Baiklah kalau begitu, Aunty pilih 3 baju. Biar tidak bolak-balik ke kamar ini."
💞 💞
"Aunty cantik sekali pakai baju itu, kalau dilihat-lihat, wajah Aunty tidak jauh beda dengan mommy," tutur Marsya saat melihat Aileen menggunakan piama milik Sonia.
"Masa sih? Aunty jadi penasaran mau tahu gimana mommy-mu."
"Kalau tidak percaya, Aunty bisa lihat gambar ini." Marsya berjalan menuju laci, membukanya lalu mengambil sesuatu dari sana. "Lihat, mirip 'kan?" Marsya memberikan sebuah poto pada Aileen.
Aileen melihatnya dengan tatapan terkejut. Yang ada dalam foto itu memang dirinya, ia ingat betul baju yang dikenakan saat itu. Bahkan poto itu terlihat baru.
"Kamu yakin ini poto mommy?"
"Yakin, soalnya aku menemukan poto ini dalam dompet daddy."
Kenapa dia menyimpan potoku?
"Mirip 'kan?" tanya Marsya lagi, "aku baru tahu kalau itu poto mommy, daddy tidak menyimpan poto mommy jadi aku terpaksa mengambilnya dari dompet daddy."
"Sudah 2 malam ini, aku melihat daddy menatap sesuatu. Aku penasaran, terus mengambil yang daddy simpan di dompetnya. Yang aku temukan poto ini, daddy tidak mungkin menyimpan poto wanita lain 'kan? Apa lagi poto Aunty." Marsya tersenyum konyol, meski dalam hati tak mengapa jika kalau memang benar poto itu adalah gambar wanita ini.
"Sudah malam, sebaiknya kita tidur," ajak Aileen.
Mereka berdua naik ke tempat tidur. Aileen menarik selimut sampai batas dada bocah itu. Reflek, ia mencium kepala Marsya.
"Terima kasih," ucap Marsya.
"Terima kasih untuk apa?" Aileen sedikit bingung.
"Keberadaan Aunty rasa rinduku terobati pada mommy, bahkan aku dapat merasakan kecupan seorang ibu, juga dapat tidir bersama dalam dekapannya." Marsya terlalu jujur akan isi hatinya, dan itu membuat Aileen teringat akan Akhsa. Anak yang ia lahirkan malah seperti orang asing.
Kerinduanku pun terobati denganmu. Aileen tersenyum, lalu kembali membenamkan sebuah kecupan panjang di pucuk kepala Marsya. Dan gadis kecil itu mulai memejamkan matanya. Dan keduanya pun tertidur.
💞💞💞
Mentari mulai menyinari, cahaya menerobos masuk ke dalam kamar yang di tempati oleh Aileen juga Marsua. Sinar sang surya mengarah le wajah Aileen lewat cela jendela. Perlahan, wanita itu pun mengerjapkan mata, dan mulai membuka kelopak matanya dengan sempurna.
Ia beranjak, lalu membenarkan selimut yang dikenakan oleh gadis kecil yang terlihat menggemaskan. Apa lagi saat tidur seperti sekarang. Karena tak ada pembantu, Aileen pun segera ke dapur untuk membuatkan sarapan untuk mereka. Tapi sebelumnya ia membasuh wajahnya terlebih dulu.
__ADS_1
Aroma masakan yang mulai tercium setelah beberapa saat Aileen pergi. Marsya sudah merasa lapar, apa lagi aroma makanan yang ditimbulkan dari dapur.
"Nasi goreng." Pencuiman Marsya cukup tajam, sehingga ia dapat menduga masakan itu. Baru saja gadis kecil itu hendak turun dari tempat tidurnya, Aileen keburu datang menagajaknya untuk sarapan bersama.
"Sudah bangun rupanya, Aunty kira belum bangun," ucap Aileen.
"Bangun karena mencium aroma sedap, Aunty pasti bikin nasi goreng ya?" tebak Marsya.
"Wah ... Tebakanmu benar sekali. Ayok kita makan," ajaknya.
"Mandi dulu," kata Marsya.
"Mending makan dulu, yuk?" ajak Aileen.
"Mandi dulu, nanti daddy marah kalau aku tahu jorok."
"Daddy tidak ada, dia tidak akan marah. Aunty juga belum mandi." Seketika, Aileen terbahak. Marsya pun ikut tertawa.
"Aunty benar, daddy tidak tahu. Mumpung daddy tidak ada, aku akan melakukan apa pun yang tidak daddy bolehkan, seperti sekarang," jelas Marsya.
"Daddy sering melarangmu?"
"Iya, dan aku akan melanggarnya dan akan berhenti saat daddy pulang nanti." Tentu ini merasa kebahagiaan tersendiri baginya, serasa burung lepas dari sangkarnya.
"Baiklah, kita sarapan."
Saat mereka sarapan, Aileen kembali teringat akan poto-nya yang disimpan dalam dompet dokter Zack. Keingintahuannya begitu besar. Kenapa juga bukan poto mendiang istrinya yang terpajang dalam dompetnya? Pikir Aileen.
"Aunty kenapa melamun? belum lapar ya?"
"Bukan melamun "
'Lalu apa namanya kalau bukan melamun namanya?" tanya Marsya.
"Mencoba mengingat kejadian semalam."
"Apa?"
"Rahasia, anak kecil tidak boleh tahu urusan orang dewasa."
"Aunty curang, main rahasia-rahasiaan."
"Bukan rahasia, tapi belum waktunya tahu. Soalnya Aunty pun belum yakin."
__ADS_1
Syukur, Marsya dapat mengerti tentang ini. Jadi Aileen tak lagi membahas soal poto itu. Ia takut kalau anak-anak dokter Zack bersikap buruk tentangnya. Dikira, tengah mendekati seorang duda beranak dua. Ya, dokter Zack adalah duda yang cukup matang, dan dikaruniai dua orang anak.