Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 50


__ADS_3

Dua minggu kemudian.


Setelah dari kampung dan menjemput ibu Rahayu serta adik kembarnya, Andra dan Nindya kini ikut sibuk mengurus persiapan resepsi yang akan digelar secara mewah dikawasan hotel berbintang.


Rahayu pun ikut untuk menemani putrinya, sedangkan Panji dan Nisa tidak ikut. Mereka ada di rumah utama bersama Wiliam, mungkin sudah menginginkan hadirnya cucu, ia begitu ramah pada kedua adik menantunya. Panji dan Nisa terlihat menggemaskan, ia sampai tidak sabar untuk melihat cucunya lahir ke dunia.


"Bagaimana? Apa suka dengan dekorannya?" tanya Andra pada istrinya.


"Suka, semuanya bagus. Iya 'kan, Bu?" jawabnya serta bertanya pada ibunya.


"Bagus, biasanya Ibu hanya melihat di tv. Tapi sekarang di depan mata," jawab Rahayu.


Rahayu begitu bahagia, apa lagi ketika melihat senyum yang selalu mengembang di bibir anaknya. Ia sama sekali tak menyangka bahwa anaknya akan bernasib baik, semoga saja Nindya selalu diberi kebahagiaan. Dijauhkan dari segala hal-hal yang buruk, dan semoga anaknya tak bernasib seperti dirinya.


Ditinggalkan oleh suaminya yang kini entah di mana keberadaannya. Tapi, di mana pun pria itu berada, ia selalu berdoa semoga suaminya itu diberi kesehatan. Tidak pernah mendoakan hal-hal yang buruk terhadapnya meski laki-laki itu meninggalkannya begitu saja setelah melahirkan si kembar.


"Ibu kenapa nangis?" tanya Nindya saat melihat ibunya menitikkan air mata.


Rahayu menghapus sudut matanya lalu berucap. "Ini air mata bahagia, semoga kamu selalu diberi kebahagiaan ya, sayang. Ibu yakin, suamimu pria yang bertanggung jawab."


Nindya tak kuasa mendengarnya, ia yakin kalau ibunya pasti teringat pada ayahnya. Nindya pun memeluk ibunya dengan erat.


"Ibu jangan mengingatnya lagi, tanpanya kita masih bisa bertahan," tutur Nindya.


Karena hari mulai berubah, Andra mengajak istri dan ibu mertuanya untuk pulang. Dan kini mereka tengah berjalan menuju parkiran mobil secara bersamaan.


"Oh iya, apa kamu sudah memeriksa kandunganmu?" tanya Rahayu.


Nindya menggelengkan kepala, ia sampai lupa memeriksa kandungannya. Terlalu banyak masalah yang menimpanya kemarin, belum lagi suaminya harus mengurus masalahnya dengan mantan istrinya, Aileen.


"Ndra, kenapa belum memeriksa kandungan istrimu lagi? Walau sibuk, keluarga nomor satu," ucap Rahayu.


"Iya, Bu. Mungkin setelah acara ini selesai. Sekarang kita pulang saja, Tidak akan lama lagi kok, resepsi tinggal dua hari lagi," jawab Andra.


Obrolan mereka pun akhirnya terhenti karena mereka sudah sampai di depan mobil. Roy yang berada di dalam mobil langsung keluar saat ia melihat tuannya sudah kembali. Ia membukakan pintu untuk mereka.


"Terima kasih Nak Roy," ucap Rahayu saat Roy membukakan pintu untuknya

__ADS_1


"Sama-sama, Bu."


Dan mereka pun langsung pulang ke rumah utama.


* * *


Sesampainya di rumah utama, Rahayu lebih dulu turun dari mobil. Ia merasa tak enak pada Wiliam, kedua anaknya begitu sangat dekat dengannya. Sampai-sampai Panji dan Nisa berada di gendongan pria paruh baya itu.


"Nisa, Panji. Ayok turun," titah Rahayu pada kedua anaknya.


"Ah, Ibu gak asyik," protes Panji. Pasalnya, ia tak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Dan kini ia senang ketika bermain bersama Wiliam. Bahkan mereka menganggap Wiliam seperti ayahnya sendiri.


"Tidak apa-apa, saya suka dengan mereka," ujar Wiliam. "Mereka sangat lucu," terangnya kemudian.


"Wil, kalau cucu kita kembar sepertinya rumah ini akan tambah ramai," timpal Anye. Wanita itu duduk santai di bangku taman depan rumah, meski langit sudah gelap, taman terlihat begitu terang karena lampu-lampu menghiasi.


"Sebaiknya kita masuk ke dalam," ajak Wiliam kemudian. Panji dan Nisa masih menmpel di tubuh Wiliam, sepertinya mereka tak ingin terlepas dan menjauh darinya. Pria sekeras batu itu akhirnya melembut dan tak lagi memandang status perbedaan.


* * *


Para tamu undangan sudah menampakkan diri meski baru sebagian. Walau pun begitu, suasana sudah sangat begitu ramai. Bagaimana tidak, mereka ingin tahu siapa yang menjadi menantu kedua keluarga Wiliam. Karena berita kemarin sangat menyebar luas.


Andra sudah terlihat tampan, senyumnya selalu mengembang. Mungkin ia orang yang paling bahagia hari ini. Sedangkan sang istri, pengantin itu masih berada di ruang make up karena belum selesai didandani oleh pihak WO yang terkenal di daerahnya.


Beberapa menit kemudian, nampaklah pengantin wanita, berjalan dengan sangat anggun mendekati sang pengantin pria. Andra nampak tercengang melihat istrinya bak putri. Lalu, ia mengarahkan tangannya agar istrinya itu menggandengnya. Mereka berjalan menuju ruang pesta yang memang sudah ditunggu kedatangannya oleh para tamu undangan.


Pesta digelar dari pagi sampai malam nanti. Kedatangan mereka menjadi pusat perhatian, pasangan yang sangat serasi. Bahkan Nindya mampu mensejajari tinggi suaminya karena memakai sepatu dengan hak tinggi.


"Pelan-pelan, aku tak biasa menggunakan sepatu seperti ini," bisik Nindya.


Andra mengangguk sambil tersenyum. Dan sampailah mereka divodium. Tamu undangan menghampiri mereka untuk mengucapkan selamat.


"Selamat atas pernikahan keduanya, semoga yang ini langgeng ya, Pak Andra," kata salah satu rekan bisnisnya.


"Terima kasih doanya," jawab Andra.


Hingga tamu terus berdatangan menghampiri mereka. Nindya dan Andra sampai terasa pegal karena terlalu lama berdiri, bahkan bibirnya terasa kering karena mengumbar senyum.

__ADS_1


Pesta terus berlanjut sampai malam, lebih tepatnya sekarang waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Kini dokter Elena hadir, dan beberapa dokter yang lain.


Elena mencari keberadaan sesorang di sana, berharap bertemu dengan orang yang ia taksir selama ini. Dokter Elena melihatnya dan langsung menghampirinya.


"Hai Dokter Alan," sapa Elena.


"Hai juga, Dokter Elena," jawab Alan.


Elena melihat dokter Alan sendirian, ia pikir bahwa selama ini dokter Alan masih jomblo.


"Sendirian, Dok?" tanya Elena.


"Tidak, aku kesini bersama-," ucapnya menggantung karena tengah mencari seseorang.


"Cari siapa?" tanya Elena saat menyadari bahwa dokter Alan mengedarkan pandangannya.


Dokter Alan tersenyum saat melihat seorang wanita. "Itu." Tunjuk Alan pada seorang wanita cantik. "Aku datang bersamanya," sambungnya lagi.


Dokter Elena sedikit terkejut. " Suster Mira?"


"Iya, aku datang bersamanya."


Suster Mira pun datang dan langsung bergelayut manja di lengan Alan. Elena tak menyangka bahwa mereka sedekat itu, bahkan suster Mira terbilang baru di rumah sakit mereka bekerja.


"Kalian-." Elena tak meneruskan kata-katanya.


"Iya, dia kekasihku sekarang," kata Alan.


Tubuh Elena terasa limbung, mungkin jika ia tak mengerjapkan matanya saat itu juga ia pingsan saking terkejutnya. Pasalnya yang ia tahu dokter Alan tak memiliki kekasih.


Sedangkan di sebrang sana, Roy melihat ke mereka. Ia juga melihat mimik wajah Elena yang berubah, seperti sedang kesal tapi ia tahu apa sebabnya. Yang jelas, wanita itu memang terlihat sangat galak.


...----------------...


Hai, maaf baru up, sibuk dunia nyata. 😃😃 sok sibuk ya aku, wkwk


Selamat membaca. Kalau ada typo mohon dimaklum ya, nulis ngebut mumpung jam istirahat.

__ADS_1


__ADS_2