
"Adam, apa kamu tidak merasakan sakit setelah aku mengecewakanmu, terlebih pada orang tuaku?" tanya Aileen disela-sela istirahatnya.
Aktivitas Adam yang sedang membuatkan susu untuknya kini harus terhenti karena pertanyaan yang ia anggap itu adalah pertanyaan konyol. Ia cukup sadar, bahwa selama ini ia belun bisa membahagiakannya. Ia hanya orang tak punya, bahkan saat ini ia tengah merencanakan masa depannya juga anaknya kelak.
"Apa perlu aku jawab pertanyaanmu, jika bukan karena anak yang kamu kandung mungkin aku sudah pergi dan merelakanmu." Dan ia pun melanjutkan aktivitasnya, lalu memberikan susu hamil pada Aileen.
Kehamilan Aileen memang sudah ia rencanakan matang-matang. Ia mengikat wanita itu dengan benih yang telah berhasil ia tanamkan. Mungkin jika ini tidak terjadi, wanita itu masih menjadi istri dari Affandra Wiliam.
"Saatnya aku membuktikan pada orang tuamu bahwa aku layak untukmu, terkecuali kamu yang sudah tidak menginginkan keberadaanku."
Aileen kembali terdiam, ia tak bisa memutarbalikkan fakta. Memang ia yang sudah mengakhiri hubungannya.
"Istirahatlah, mulai hari ini aku mulai bekerja."
Setelah mengatakan itu, Adam pergi karena ia mulai bekerja di perusahaan Andra mulai hari ini.
* * *
Di rumah utama Wiliam.
Setelah konferensi pers diadakan hari kemarin, Andra merasa sudah lega. Ia sudah membuktikan keseriusannya pada Nindya. Dan saat ini, mereka tengah sarapan bersama Wiliam dan Anye.
Seperti biasa, Nindya melakukan tugasnya sebagai istri. Bahkan sebelum menikah pun tugasnya memang melayani mereka makan.
"Duduklah, aku bisa mengambil makanan sendiri," kata Andra.
"Tapi, ini memang tugasku," ujar Nindya.
"Itu dulu sebelum menikah dengan Andra," cela Anye.
"Sudah-sudah ... Ayo lanjut makan," timpal Wiliam.
Jika Wiliam sudah bersuara, mereka pun melanjutkan sarapannya. Mulai hari ini, Andra yang melayani istrinya. Disaat mereka sedang makan, ponsel milik Andra berbunyi. Ia melihat nama yang tertera di layar pomselnya.
"Siapa?" tanya Wiliam.
"Pengacara, Hans," jawab Andra. "Aku angkat telepon dulu." Andra pun melipir dari ruang makan.
Sidang yang harusnya lusa, kini dipercepat. Morano ingin segera menyelesaikan urusannya dengan keluarga Wiliam. Pria itu sudah siap meninggalkan Indonesia, ia pikir sudah tak ada lagi yang bisa ia lakukan di sini. Akibat konferensi pers kemarin membuatnya malu karena anaknya yang telah hamil di luar nikah.
__ADS_1
Setelah selesai berbincang dengan pengacara Hans, Andra kembali duduk di samping istrinya.
"Apa katanya?" tanya Wiliam soal pengacara Hans.
"Sidang dipercepat, jam dua siang nanti aku harus ke pengadilan," jawab Andra.
"Kenapa dipercepat?" tanya Anye "Jadwalnyakan lusa," sambungnya lagi.
"Tidak tahu, pengacara Hans cuma bilang gitu. Dia tidak memberikan alasannya kenapa," jawab Andra.
"Apa mereka merencanakan sesuatu?" kata Anye lagi.
"Awas saja kalau mereka macam-macam! Aku sendiri yang akan menghadapi mereka," timpal Wiliam.
"Mudah-mudahan saja tidak, ya sudah kalau begitu. Aku harus ke kantor sekarang." Andra beranjak dari tempatnya, dan Nindya pun ikut mengantar suaminya sampai depan.
"Aku berangkat dulu ya, aku juga pasti pulang telat hari ini, banyak kerjaan di kantor dan aku juga harus sidang nanti siang," jelas Andra. "Tidak usah menungguku, tidur saja duluan," sambungnya lagi.
Nindya memeluk suaminya dengan erat, seakan ia tak ingin berpisah. Mungkin karena hormon dalam kandungannya, wanita hamil memang tidak bisa diprediksi akan mood-nya.
"Jangan seperti ini, bisa-bisa aku tidak jadi berangkat," kekeh Andra.
Sedangkan Nindya, ia malah cemberut seraya memukul dada bidang suaminya. Bisa-bisanya suaminya itu malah berpikiran aneh-aneh.
"Daddy kerja dulu, baik-baik ya? Jangan rewel di perut Mommy." Andra mengajak berinteraksi dengan calon anaknya itu.
"Iya, Daddy. Aku gak akan rewel, Daddy cepat pulang ya?" Sebagai jawabannya, Nindya menirukan suara anak kecil sambil tersenyum.
"Bisa saja, bilang aja kamu gak bisa lama-lama jauh dariku." Andra kembali menciumnya, namun kali ini di bibirnya.
Bugh, pukulan pun ia terima dari istrinya. "Kok dipukul sih, 'kan emang bener, kamu sudah mulai tidak bisa jauh dariku."
"Malu, kalau ada yang lihat bagaimana?"
"Emangnya kenapa kalau ada yang lihat? Istri, istri ku, kok. Aku berangkat deh kalau gitu."
Andra pun akhirnya pergi ke kantor. Dan, Nindya kembali masuk ke dalam rumah.
* * *
__ADS_1
"Wah, wah, wah ... Semangat sekali pagi-pagi sudah ada di sini," kata Roy yang baru saja tiba di kantor.
"Ini hari pertamaku bekerja, harus semangat demi cita-cita," jawab Adam. "Tidak berangkat bareng sama tuan Andra?" tanyanya kemudian.
"Tidak, aku langsung ke sini karena ingat kamu mulai bekerja sekarang. Ayok, masuk. Aku tunjukkan ruang kerjamu."
Adam mengekor dari belakang Roy. Kini mereka satu kerjaan di kantor. Roy tidak sungkan-sungkan pada pria itu, meski Adam adalah laki-laki yang menjadi selingkuhan mantan bosnya. Ia rasa Adam pria baik-baik, dan pria yang bertanggung jawab.
Adam mulai bekerja sesuai arahan dari Roy.
"Terima kasih, Roy," kata Adam.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Roy.
"Untuk pekerjaan ini."
"Kan kamu sendiri yang datang kemari untuk ikut bergabung, berterima kasih 'lah pada tuan Andra. Dia yang memintaku menghubungimu dan menerima proyek yang kamu tawarkan padanya."
Saat mereka berbincang, Andra pun sampai. Kedua pria itu langsung berdiri karena atasannya sudah datang.
"Pagi, Tuan," sapa Roy.
"Pagi juga, Roy. Apa jadwalku hari ini? Kalau bisa ada yang ditunda, tunda saja. Hari ini aku sidang."
"Sidang? Bukannya jadwal sidang itu lusa?" tanya Roy. Bahkan ia sendiri punya datanya.
"Pengacara Hans tadi menghubungiku, katanya sidang dipercepat."
Adam yang mendengar pun terkejut, bahkan ia tahu kondisi Aileen yang masih belum pulih. Dan kenapa wanita itu tak memberitahukannya bahwa sidang dipercepat.
"Jangan-jangan ...," ucap Adam.
"Jangan-jangan apa?" tanya Roy.
Adam mendengar pembicaraan Aileen dan Morano, lebih tepatnya ia mendengar dari anak buahnya. Katanya, Aileen akan ikut ke luar negri setelah perceraiannya selesai.
"Roy, sepertinya aku harus segera pergi, aku harus menemui Aileen." Tanpa berkata apa-apa lagi, Adam langsung pergi meninggalkan kantor. Ia tak perduli dengan statusnya yang masih karyawan baru, ia lebih rela kehilangan pekerjaan dari pada harus kehilangan wanitanya.
Adam mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, semoga saja ia tak terlambat. Adam menyalip beberapa mobil yang ada di depannya, ia sudah seperti pembalap lihai. Hingga akhirnya, ia sampai di kediaman Morano. Tapi sudah sepi, sepertinya tidak ada orang di dalam sana.
__ADS_1
Bahkan ia tak tahu kemana tujuan mereka pergi.
"Arrgghh ...," Adam furtrasi karena ia kehilangan Aileen. "Bandara.Ya, sepertinya aku harus ke Bandara."