Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 157 Salahku


__ADS_3

Mencoba melawan hati meski hati tetap berkhianat. Tak rela terus menghantui, akal dan pikiran tidak sinkron. Bagai hilang kendali saat mendengar wanita yang disukai selalu menjadi bahan rebutan. Mengakui, bahwa hatinya memang memuja.


Malam semakin larut, Dewi dan Akhsa belum kembali. Nathan putuskan untuk menyusul. Hati yang gelisah membuatnya semakin tak karuan. Belum percaya bahwa mereka tengah berdua, terlebih jika Akhsa sampai mengutarakan perasaannya kepada Dewi.


Mungkin jika itu terjadi, Nathan semakin terluka dengan perasaannya sendiri. Melukai hati dan hati orang lain. Pengecut, pecundang. Mungkin itu yang lebih pantas dengan julukkannya saat ini.


Nathan memakai jaket kulit, meraih kunci motor di atas nakas. Ia pikir, jalanan pasti sedikit macet karena ini malam minggu. Malam di mana para single keluar untuk mencari hiburan. Menggunakan motor akan mempercepat perjalanan yang di tempuh. Kini tujuannya hanya satu, pergi ke tempat favorit-nya bersama Akhsa. Tempat makan dengan nuansa outdoor yang biasa ia kunjungi bersama teman-temannya.


Sesuai dugaan, sosok Dewi terlihat. Gadis itu malam ini sangat berbeda, polesan make-up yang sederhana, bibir mungil berbalut lipstik berwarna pink. Tapi berkesan manis. Nathan membuka kaca helm, hanya dari kejauhan ia memperhatikan.


Tangannya mengepal saat melihat Akhsa meraih tangan Dewi. Menggenggamnya bahkan hampir menciumnya. Kejadian tak terduga menimpa, seorang gadis asing datang lalu menyiram kepala Dewi dengan air yang ia bawa dalam sebuah gelas.


Wanita itu terlihat marah kepada Dewi, Nathan masih diam di tempat melihat kejadian berikutnya. Entah apa yang diucapkan wanita itu kepada Dewi, sehingga Dewi terlihat malu karena wanita itu seperti memakinya. Ia juga melihat Akhsa melerai pertikaian itu.


Nathan bersedekap tangan di dada, ia ingin tahu apa yang akan dilakukan Akhsa kepada Dewi. Ia tak mengenal wanita itu, hingga akhirnya, Dewi terlihat menangis. Sepertinya Akhsa marah kepada wanita yang menyiram Dewi. Dan saat itu, Dewi pun pergi meninggalkan tempat itu.


Nathan menutup kaca helm, dan menghidupkan mesin motornya.


* * *


Nathan berhenti tepat di samping Dewi.


"Ayo, naik!" ajaknya ketus.

__ADS_1


Dewi terdiam, karena tak mengenal siapa yang ada di hadapannya. Tiba-tiba saja menyuruhnya naik. Masih dalam keadaan bingung, Dewi menyeka air matanya lalu melihat kiri dan kanan. Mengira bahwa orang itu salah orang, tapi tak ada orang lain disekitarnya. Hanya ia sendiri di sana, bahkan Akhsa pun tak menyusulnya karena masih bersama wanita tadi.


"Ayo, cepat naik!" ajaknya lagi.


Bukannya naik, Dewi malah pergi begitu saja. Penampilan Nathan menyeramkan, dan itu membuat Dewi ketakutan. Nathan menarik gas motornya dan sedikit memainkannya.


"Cepat naik! Ini aku." Ucapnya seraya membuka kaca helmnya. Dewi diam tak bergeming. Ia mulai kedinginan karena baju yang dikenakannya basah akibat siraman oleh gadis tadi. Nathan menyandarkan motornya lalu ia turun, membuka jaket yang dikenakannya untuk ia pakaikan di tubuh Dewi, lalu menarik tangannya untuk segera naik ke motornya.


Dewi sudah ada di atas motor, duduk di belakang Nathan. Pria itu menyalakan mesin motornya dan motor itu melaju. Tak ada suara dari keduanya. Dewi sibuk dengan pemikirannya sendiri, kenapa pria ini ada di tempat ini? Kenapa kedatangannya begitu pas?


Saat motor itu terus melaju, tiba-tiba Nathan mengerem mendadak. Motor terhenti, dan saat itu tubuh Dewi terdorong ke depan hingga tak ada jarak di antara mereka. Dada dan punggung saling menempel, sehingga Dewi bisa melihat ke depan, dan kini ia tahu kenapa pria ini mendadak berhenti.


Meong ... Seekor kucing melintas. Berjalan santai seolah tidak terjadi apa-apa. Lain halnya dengan Dewi, jantungnya tiba-tiba berdetak dengan sangat kencang. Menghirup aroma tubuh Nathan untuk yang pertema kalinya.


"Pegangan, jangan sampai nanti kamu malah jatuh!" Modus awal pertama bagi Nathan.


Perlahan, Dewi melingkarkan tangannya. Meski ragu, ia tetap melakukannya. Perintah itu seakan ancaman baginya. Nada ketus dan dingin itu begitu dominan. Sebuah senyuman terukir di bibir, Nathan melajukkan motornya.


Hatinya berkecambuk, saat teringat siapa wanita yang menyiramnya. Mungkinkah itu kekasih Akhsa yang ia tidak ketahui? Apa mungkin gadis itu mengira bahwa Dewi kekasih Akhsa? Atau jangan-jangan, Dewi memang benar adanya. Sikapnya memawarisi ibunya yang kian tersudut dengan wanita penggoda.


Rasa empati musnah, Nathan menghentikan laju motornya.


"Turun!" titahnya pada Dewi.

__ADS_1


Mendengar perintah itu, Dewi melepaskan pegangannya. Dan ia pun turun. Nathan melepas helm-nya lalu menatap tajam wajah Dewi. Gadis itu tertunduk tak berani melihat pria yang ada di hadapananya. Suara dingin itu membuatnya menciut.


"Kamu tahu alasan kenapa wanita tadi menyirammu?" Dewi menggelengkan kepala sebagai jawaban, karena ia memang tidak tahu apa alasannya. Mengenalnya pun tidak


"Itu akibat ulahmu sendiri! Ini resiko yang akan ditanggung oleh wanita sepertimu."


"Maksudnya?" Dewi tak mengerti sama sekali.


"Ini karena kamu mencoba merebut Akhsa dari kekasihnya, makanya jadi wanita jangan gampangan! Diajak sana sini terima tanpa tahu bahwa lelaki itu sudah ada yang punya."


Lagi-lagi Dewi menerima sebuah hinaan. Hinaan yang tak benar adanya, mana tahu kalau pria yang mengajaknya jalan sudah memiliki kekasih. Ia tak berpikir ke arah sana karena ajakan itu ia terima atas dasarkan perintah, bukan semerta-merta atas keinginannya sendiri.


Tanpa permisi air mata itu terjatuh, Dewi tak dapat membendung rasa sakit yang selalu ditorehkan oleh lelaki ini untuknya. Ia terisak, betapa sakitnya mendapatkan hinaan untuk kesekian-kalinya.


"Cukup, Kak." Ucap Dewi sambil menyeka air matanya, "Sudah cukup aku mendapatkan hinaan dari Kakak, apa salahku selama ini sehingga Kakak tak pernah berpikir betapa sakitnya perasaanku saat ucapanmu terlontar tanpa berpikir bahwa ucapanmu begitu menyakiti hatiku. Salahku apa?"


Dewi melepas jaket yang dikenakannya, lalu menyimpannya begitu saja di jok belakang di mana ia duduk tadi. Malam indah kian berubah, bintang-bintang mendadak sembunyi. Air hujan turun seakan mewakili perasaan Dewi saat ini. Gadis itu terus berjalan tanpa henti, rasa kecewa sudah tidak bisa ia tahan.


Salah jika aku terlahir tanpa ayah? Salah jika aku terlahir dari wanita hina? Ya, semua salahku, semua salahku.


Dewi berlari tanpa arah, bahkan tanpa ada yang mengejarnya. Padahal ia tahu kalau Nathan masih ada di belakangnya. Dewi menyerah untuk bertahan berada di lingkungan yang tak semestinya. Haruskah ia pergi? Pergi tanpa tahu arah tujuannya. Berada di tempat asing malam-malam membuatnya takut.


Tak ada pilihan selain kembali pulang, ada wanita yang menyayanginya di sana. Ia tak mungkin pergi tanpa pamit kepadanya. Tanpa sepengetahuan Dewi, Nathan mengikutinya tanpa menyalakan mesin motornya. Ia mendorong motornya sampai rumah, memastikan bahwa Dewi pulang dalam keadaan selamat.

__ADS_1


__ADS_2