
Bugh.
Lemparan sebuah bantal tepat mengenai tubuh adiknya, tapi disaat itu juga Dewa langsung menangkapnya dan meledeknya. Pria remaja itu tertawa terbahak seakan itu sebuah lelucon yang sangat lucu. Kapan lagi bisa meledek pria dingin sedingin es batu.
"Ye, gak kena, gak kena." Ucapnya seraya menjulurkan lidah, seakan kemenangan berpihak padanya.
"Dasar adik kurang ajar!" sentaknya lagi sambil melempar bantal yang tersisa di tempat tidur. Sayang, Dewa keburu keluar sehingga bantal itu hanya mengenai pintu yang sudah tertutup.
Teringat akan ucapan Dewa yang mengenai Dewi membencinya dan gadis itu tak mungkin kembali menemuinya, disaat itu juga ia langsung menemui ibunya. Berharap ibunya akan memberitahukan keberadaan gadis itu.
"Mom ... Mommy ..." Panggil Nathan berlari kecil seperti anak kecil yang tengah merengek. Pria itu memeluk ibunya dari belakang, berharap wanita itu berbaik hati padanya kali ini.
"Lepas! Kamu itu kenapa? Mommy risih dengan sikapmu yang seperti ini," cetus Nindya.
Nathan melepaskan pelukkannya, tapi ia langsung memohon. Meminta ampun agar ibunya mau memaafkannya. "Maafkan aku, sudah cukup dengan hukuman ini, Mom. Aku kapok, aku tidak lagi menyakiti orang, tidak lagi berkesimpulan sendiri dengan dugaanku. Aku mohon beritahukan keberadaan Dewi agar aku bisa menebus semua kesalahanku. Aku menyesal!"
Ada rasa iba pada putranya, ia tahu betul karakter anaknya itu. Tapi ia tak bisa memberitahukan keberadaan Dewi tanpa ijin dari gadis itu. Sikap Nathan memang keterlaluan ada ia tak bisa mentoleransi sikapnya itu. Jika ia berada diposisi Dewi, ia pun akan memilih untuk pergi.
Setidaknya ia bisa melindungi gadis itu dari orang-orang yang selalu nyinyir padanya.
"Maafkan Mommy, Mommy tidak bisa memberitahukan Dewi padamu. Mommy sudah berjanji padanya, jika kamu berniat meminta maaf, carilah sampai dia ketemu. Usaha tidak akan mengkhianati hasil."
"Mommy tega padaku? Aku janji tidak akan menyakitinya."
"Apa kamu mencintainya?"
"Iya, cinta terkadang membuat kita kehilangan akal."
"Lalu? Kalau kamu cinta kenapa selalu menyakitinya? Menyudutkan Dewi seakan dia gadis tidak benar? Dewi punya ayah, Nathan. Ada sesuatu yang tak bisa dipaksakan. Hanum gadis baik-baik, ia hanya korban keserakahan seoarang lelaki yang tak bertanggung jawab."
"Maksud, Mommy?"
__ADS_1
"Ayah Dewi bernama Doni, Mommy tahu kehidupan laki-laki itu. Dia memiliki istri lebih dari satu, ibunya Dewi adalah istri ketiga. Dia pergi meninggalkan Hanum selagi hamil."
Nathan terdiam, ia semakin berdosa karena sudah menuduh Dewi yang tidak-tidak. Ia terlalu percaya pada omongan orang, terlebih dengan pria-pria yang selalu mencoba mendekati Dewi sehingga ia percaya akan omong kosong itu.
Percaya pada orang yang salah malah menjerumuskannya. Terjerumus pada lubang yang dalam sehingga ia harus bangkit dan berjuang untuk bisa berdiri. Mencari keberadaan Dewi jalan satu-satunya, ia akan membuktikan bahwa ia serius dengan pengakuannya. Bahwa ia memang cinta kepada gadis itu.
"Doa Mommy menyertaimu, kesempatan tidak akan datang dua kali. Pergilah, dan kejar cintamu. Semoga Dewi memiliki perasaan yang sama padamu."
Nathan menerima saran dari sang mommy, ia percaya kalau perasaan itu pasti ada. Ia yakin kalau Dewi-lah cinta sejatinya. Tak pernah merasakan cinta sebegitu dalamnya pada seorang gadis, sehingga ia dibutakan oleh praduganya sendiri.
* * *
Esok pun tiba.
Dewi sudah siap dengan setelan-nya. Ia siap melamar kerja hari ini. Lenggak-lenggok di depan cermin, mencermati penampilannya hari ini. Tak lupa memberi warna pada bibir mungil sehingga ia terlihat semakin manis.
Ok, aku sudah siap. Semangat, Dewi. Mulai-lah hidup mandiri, kamu wanita kuat. Kamu bisa melewati hidup pahit ini. Dewi menyemangati diri sendiri. Menarik napas dalam-dalam karena ini pengalaman pertama untuknya bekerja.
Saat membuka pintu, ia terkejut saat mendapati seorang pria di sana. Pria yang selalu ramah dan membuatnya nyaman, pria pertama yang menjalin persahabatan dengannya.
"Hai?" sapa Akhsa, "mengantarmu, semalam kamu bilang sudah dapat kerjaan. Maaf, aku belum bisa membantumu cari pekerjaan. Kemarin aku sibuk bantu mamaku, katanya dia mau kembali menetap di sini."
"Oh iya, tidak apa-apa, Kak. Aku ngerti kok, keluarga nomor satu. Serius mau nganter?"
"Iya, kamu mau ngelamar kerja di mana?"
"Di perusahaan swasta, tidak jauh dari sini kok. Terima kasih mau nganter, kebetulan uangku sudah menipis. Ayo, kalau begitu? Aku tidak mau terlambat."
Dengan senang hati Akhsa mengantar Dewi, mereka pun berjalan saling berdampingan. Sesekali Dewi tertawa karena Akhsa sedikit humoris, ia tak menyangka akan sedekat ini dengannya.
Setengah jam kemudian, mereka pun sampai di perusahaan tersebut.
__ADS_1
"Ini, kantornya?" tanya Akhsa.
"Iya, lumayan besar 'kan?"
"Kalau ini aku sudah tahu, pemilik perusahaan ini teman mamaku. Mamaku kembali ke sini karena lagi dekat sama om Doni, om Doni itu pemilik kantor ini."
"Oh ya? Ceritanya mereka lagi PDKT?" Dewi tahu kisah hidup mama-nya Akhsa, bahkan sampai sekarang wanita itu masih menjada karena sudah dua kali gagal menikah.
"Sudah mau jam 7, sebaiknya kamu masuk. Aku langsung pulang ya? Aku harus segera ke kantor."
"Iya, terima kasih sudah mengantarku."
Selama ini, Akhsa menjalankan bisnis yang dimiliki Aileen. Karena percerain kedua orang tuanya dengan cara baik-baik, sehingga jalinan silaturahmi mereka terjaga sampai saat ini. Morano menerima hadirnya Akhsa, sehingga ia mewariskan hartanya kepada cucu satu-satunya itu.
Tapi Akhsa tak bisa menerimanya begitu saja, ia takut belum bisa memegang perusahaan besar. Sehingga Aileen yang memegang secara utama.
* * *
Dewi deg-degan. Ini pertama kali baginya, meski hanya melamar sebagai OB, tetap saja ia nervous. Dewi duduk sendiri di ruang tunggu, menautkan jari-jemari untuk menghilangkan kegugupan. Hingga namanya pun dipanggil oleh staf HRD.
"Dewi," panggil staf itu.
Dewi pun berdiri lalu masuk untuk memulai wawancara, hanya karena melamar sebagai OB, sehingga tak lama baginya saat wawancara. Ia langsung di bawa ke dapur kantor, tugasnya hanya membuatkan kopi dan membersihkan ruangan para staf.
Ini pekerjaan mudah baginya, sudah terbiasa melakukan pekerjaan itu membuatnya tenang. Ia bisa bekerja sambil kuliah, karena pagi ini kerja, saat pulang nanti ia langsung pergi ke kampus. Ia terpaksa harus berpisah dengan Sisil, sahabat barunya itu.
Dan sekarang, Dewi bertugas membersihkan kaca depan bagian loby. Ia bekerja dengan sangat apik.
"Pagi, Neng?" sapa security kemarin yang bertegur sapa dengannya.
"Pagi, Pak ... Anjas." Dewi melihat tag nama di baju security itu sehingga bisa tahu namanya.
__ADS_1
"Semoga betah kerja di sini."
"Insyallah betah, Pak. Soalnya butuh," jawab Dewi tersenyum ramah. Dewi melanjutkan pekerjaannya sampai selesai, ia selalu happy. Apa pun yang terjadi ia hadapi dengan senyuman.