Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 62


__ADS_3

Karena kabar ini kabar bahagia, Wiliam harus merayakan kebahagiaan ini. Tapi nanti, entah esok atau lusa.


"Ndra, ajak istrimu istirahat," titah Wiliam.


"Iya, Dad." Andra mengangguk lalu meraih tangan istrinya untuk segera ke kamar. Nindya bagai anak kecil yang sedang dituntun oleh orang tuanya.


Setelah kepergian Andra dan Nindya. Wiliam mendekat ke arah istrinya, ia menyenggol-nyenggolkan bahunya pada bahu istrinya. Seolah memberi isyarat, entah isyarat apa itu. Hanya Anye yang tahu dengan kode itu.


"Sudah tua, bentar lagi mau punya cucu," celetuk Anye sambil mendelikkan mata.


"Ayolah sayang ... Sudah lama loh kita tidak-," ucapnya terputus karena Anye melengos pergi dari hadapannya. Tapi Wiliam tak menyerah, ia mengejar istrinya itu sampai yang diinginkannya terpenuhi.


* * *


"Lelah gak?" tanya Andra setibanya di kamar pada istrinya.


"Sedikit," jawab Nindya. Bumil itu sudah mendudukkan diri bersandar di sandaran ranjang dengan kaki terselonjor. Lalu, suaminya pun ikut duduk di sampingnya.


"Aku pijat ya?" Tanpa mendengar jawaban istrinya, ia langsung meraih kaki itu dan meletakkannya di atas pahanya. Ia mulai memijat sambil berbincang mengenai Roy.


"Ya ampun, aku lupa." Ucap Andra sambil menepuk keningnya.


"Lupa apa?"


"Aku lupa dengan hadiah yang akan aku berikan pada Roy." Andra merogok saku celananya, ia mengambil sesuatu di dalam sana. Lalu memperlihatkan benda itu pada istrinya.


"Harusnya aku memberikannya tadi pada Roy."


"Masih ada hari esok."

__ADS_1


"Iya, sih. Tapi aku harus ikut bertanggung jawab dengan pernikahannya yang mendadak ini, Roy pasti belum punya rumah."


Pernikahan Roy terjadi karena ulahnya, jadi ia harus menyiapkan keperluan anak buahnya untuk keperluan rumah tangganya. Ia merasa lega bujang lapuk itu kini ternyata sudah mendapatkan jodohnya. Meski dengan cara nekat seperti ini.


"Aku jadi penasaran dengan pernikahan mereka, rumah tangga seperti apa yang akan dijalani oleh mereka? Apa kamu yakin mereka akan bahagia?" tanya Nindya.


"Cinta bisa datang belakangan, aku yakin mereka pasti saling sayang."


Meski butuh waktu lama, tapi Andra yakin kalau dari dalam hati Roy, pria itu sudah memiliki rasa pada Elena. Andra meletakkan kunci rumah yang yang akan diberikan pada Roy di atas nakas. Ia kembali memijat kaki istrinya.


"Enak gak?" tanya Andra soal pijatannya.


"Hmm, asal jangan minta lebih saja."


"Apanya yang lebih?" Andra sok polos seolah tidak tahu dengan apa yang ucapkan oleh istrinya.


Modusnya ketahuan oleh istrinya. Nindya sudah tahu akal bulus suaminya itu. Bahkan pijatannya kini berpindah posisi, Andra memijat bagian pundaknya. Sesekali ia memberikan kecupan di daun telinga istrinya. Sampai Nindya mendesir kala hembusan napas suaminya menerpa lehernya.


"Tuh 'kan, benerkan apa yang aku bilang," ucap Nindya.


Andra langsung saja memeluk istrinya, karena percuma akal modusnya sudah ketahuan.


"Aku lagi pengen, boleh ya? Aku janji tidak akan lama-lama, aku juga janji tidak akan ada gaya-gayaan."


Karena ini sudah kewajiban, Nindya pun akhirnya pasrah. Ia merelakan diri pada suaminya, bahkan ia lebih dulu merebahkan tubuhnya di atas kasur berukurang king size itu.


"Ingat ya, pelan-pelan. Aku tidak mau kamu sampai menyakiti mereka." Ucap Nindya sambil menyentuh perutnya.


"Iya, sayang. Aku janji." Jawabnya sambil mencium kedua pipi istrinya. Dan mereka mulai melakukan rutinitas sebagai suami istri.

__ADS_1


* * *


Roy masih setia menunggu Elena, gadis itu masih belum sadar setelah beberapa jam setelah pingsan tadi. Sebenarnya, gadis itu sudah sadar sejak tadi. Tapi ia bingung harus menghadapi Roy dengan cara apa, ia masih tak percaya kalau pria itu kini menjadi suaminya.


Tak terlintas sedikit pun pada pria itu, pria yang selalu ribut kala mereka bertemu. Elena membuka matanya sedikit, lalu kembali menutupnya rapat-rapat kala Roy mendekat ke arahnya.


Roy melihat lekat-lekat wajah cantik Elena. Bahkan ia berani menyentuh pipinya yang mulus.


"Aduh, mau apa dia?" batin Elena. Jantungnya tiba-tiba berdebar, apa lagi pria itu mendekatkan wajahnya ke arahnya. "Jangan sampai dia menciumku, dia cari kesempatan dalam kesempitan," batin Elena lagi.


Sesaat, Roy menghentikan aksinya. Hingga wajahnya dan wajah istrinya hanya menyisakan jarak satu inci saja. Lalu, Roy kembali menarik wajahnya. Roy sadar dengan apa yang akan dilakukannya.


Roy terbawa suasana karena wajah istrinya begitu cantik. "Tidak, Roy. Ini belum saatnya, di hati istrimu belum ada namamu," batin Roy.


Karena Elena tak sadar-sadar, Roy mencoba menyadarkan istrinya dengan cara lain. Di kamar Elena pasti ada minyak angin, ia pun mulai mencarinya.


Sedangkan Elena, ia membuka sebelah matanya. Ia penasaran saat Roy menjelajah isi kamarnya. "Apa yang dia cari?" Elena tidak tahu apa yang cari oleh lelaki itu.


Roy membuka laci satu persatu, tapi ia tak mendapatkan apa yang dicarinya. Tapi, Roy malah menemukan sesuatu di dalam laci sana. Ia tak percaya kalau wanita itu menyimpan benda ini di dalam laci.


Elena yang melihat, sontak ia terbangun dan mengambil benda tersebut dari tangan Roy. Bahkan lelaki itu sempat melayangkannya ke udara. Segitiga itu berwarna merah, seperti wajah Elena yang kini memerah karena malu.


"Kamu sudah sadar?" tanya Roy.


...----------------...


Hallo para readers, semoga dalam keadaan sehat ya? Semoga yang nulis juga sehat-sehat, hanya sekedar ingin curhat. Othor nulis setelah pulang kerja, kerjaan othor lagi sibuk-sibuknya. Tapi aku usahakan setiap hari up.


Beri othor dukungan biar tambah semangat, jangan lupa like, komentar, hadiah dan vote sebagai dukungannya. Sekali lagi terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai di sini. Love-love untuk kalian semua 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2