Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 38


__ADS_3

Akhirnya, dokter pun berlalu karena ia merasa lelah setelah menangani pasiennya selama beberapa jam. Kini tinggal Morano dan Adam.


"Pergilah, Aileen tidak membutuhkanmu," usir Morano pada Adam.


Seketika, Adam menoleh ke arah pria sombong itu. Mungkin iya sekarang Aileen tak membutuhkannya, tapi Morano harus ingat akan satu hal. Anak yang dikandung anaknya membutuhkan sosok ayah. Bagaimana nasib anaknya kelak jika tak ada sosok suami dalam hidupnya?


"Tapi anak yang dikandung Aileen membutuhkanku, aku ayah kandungnya."


Morano semakin menatap tajam pada Adam, ia pikir dia siapa berani berkata seperti itu? Laki-laki itu membuatnya semakin geram, semua ini karena Adam. Jika pria itu tak membuat anaknya hamil mungkin semua tidak akan seperti ini.


"Aku tidak akan pergi sebelum Aileen sadar, bila perlu aku yang merawatnya," kata Adam.


"Sudah kubilang Aileen tak membutuhkanmu! Lebih baik aku menyewa perawat sepuluh dari pada anakku dirawat olehmu! Pergi kataku!" sentaknya.


Suara lantang itu sangat meninggi, Lidia yang hendak menemuinya langsung berlari untuk menenangkan suaminya. Kedua lelaki itu pasti sama kerasnya, pikirnya.


"Ini rumah sakit, kenapa teriak-teriak? Harusnya kamu berdoa demi keselamatan putrimu," ucap Lidia pada suaminya.


"Aku tidak ingin dia ada di sini." Tunjuk Morano pada Adam.


Ekor mata Lidia pun tertuju pada pria itu, ia memejamkan mata sejenak sambil menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Menurutnya keberadaan Adam tak jadi masalah, justru itu bagus. Ia masih peduli pada wanita yang kini menjadi anak tirinya.


"Biarkan saja dia di sini, mungkin dia khawatir pada Aileen. Seharusnya kamu bersyukur masih ada lelaki yang mau bertanggung jawab pada putrimu. Apa kata orang nanti, melahirkan anak tanpa ayah."


Morano sedikit berpikir, ditambah lagi Andra akan menceraikan putrinya. Mana ada yang mendapampingi putrinya kalau bukan Adam? Pria itu memang ayah biologis anak yang dikandung putrinya.


"Pikirlah baik-baik, jangan egois. Bagaimana pun mereka sempat saling mencintai, biarkan Adam menyembuhkan luka putrimu," kata Lidia lagi. Meski ia membenci anak tirinya, setidaknya ia masih punya hati nurani.


Morano sedikit menurut pada istrinya itu, jadi ia tak bisa membantah lagi. Dan ada benarnya juga apa yang dikatakan Lidia, melahirkan anak tanpa sosok ayah akan menjadi bahan pembicaraan orang. Apa lagi status Aileen yang orang tahu adalah istri dari lelaki yang terhormat seperti Affandra Wiliam.


Kini Morano pun sedikit tenang dan tak mengusir Adam lagi, menyesal pun percuma, semua tak akan bisa mengembalikan kondisi putrinya sedia kala. Adam pun tak lagi bersuara, kedatangan Lidia cukup membantunya berada di sini untuk menunggu kabar Aileen.

__ADS_1


* * *


Di apartemen.


Sejak kejadian di rumah sakit membuatnya selalu terbayang akan Aileen. Wanita itu ambruk di hadapannya dengan bersimbah darah. Andra terus melamun, sampai kedatangan Nindya di sampingnya tak disadarinya.


Nindya terus memperhatikannya, dan beberapa saat, Andra tersadar akan kehadiran istrinya. Ia menarik tangan Nindya dan menggenggamnya.


"Kamu kenapa?" tanya Nindya. "Apa yang kamu pikirkan?"


"Aku tak habis pikir, Aileen akan menaruhkan nyawanya untukku," jawabnya dengan lirih. "Aku hanya kepikiran bagaimana nasib anak yang dikandungnya, apa mereka baik-baik saja?"


"Kenapa tidak menemuinya? Bagaimana pun kamu masih suaminya."


"Papanya Aileen tidak mungkin membiarkanku untuk menemui putrinya, bahkan orang yang akan menusukku pasti anak buah Morano."


Nindya jadi takut mendengarnya, apa lagi kalau sampai Morano tahu bahwa Andra kini telah menikah dengannya, apa keselamatannya juga akan terancam? Bagaimana kalau mereka dendam? Mungkin ibu dan adik-adiknya juga dalam bahaya.


"Pulang sekarang," ucap pada sambungan itu. Belum Andra menjawab ponselnya sudah tak tersambung lagi.


"Siapa?" tanya Nindya.


"Daddy, daddy menyuruhku pulang."


"Lalu aku?"


"Kamu ikut denganku, bagaimana pun kamu istriku kemana pun aku pergi kamu harus ikut," ajaknya.


Dan akhirnya, Andra dan Nindya pun segera pergi menuju rumah utama. Ia berjalan secara bersamaan melewati lorong apartemen. Nindya berjalan di belakang suaminya, ia rasa harus menjaga jarak antara ia dengan suaminya. Bagaiman pun, yang diketahui orang Andra memiliki istri dan tentu bukan ia yang menjadi istrinya.


Karena kabar di televisi dan sosial media adalah tentangnya pasca kejadian di rumah sakit tadi. Tentu para wartawan selalu berkeliaran untuk mendapatkan kabar berita tentangnya. Dan benar saja, mereka bertemu dengan beberapa wartawan di luar apartemen.

__ADS_1


Ketidakadaannya di rumah sakit membuat wartawan curiga dengan pernikahan mereka.


"Tuan Andra, kenapa Anda tak berada di rumah sakit menemani istri, Anda?" tanya wartawan.


"Iya, apa kejadian tadi ada hubungannya dengan pernikahan Anda, Tuan Andra?" tanya wartawan yang satunya lagi.


"Lalu, siapa wanita yang bersama, Anda? Apa terlibat skandal?" Beberapa wartawan melihat keberadaan Nindya.


Beberapa wartawan sibuk mewawancari Andra meski pria itu tak memberi jawaban. Andra bagaikan gula yang sedang digerumuti semut, sampai ia sedikit jauh dengan Nindya. Menyadari akan hal itu, Andra langsung menarik tangan istrinya dan segera masuk ke dalam mobil yang memang sudah ditugaskan Wiliam untuk menjemput putranya.


Andra dan Nindya berhasil masuk ke dalam mobil, tapi wartawan terus mengejar karena tidak mendapatkan informasi apa pun. Wartawan itu kembali dan malah akan datang ke rumah sakit, siapa tahu mereka mendapatkan informasi di sana.


"Sial," rutuk Andra karena terciduk oleh wartawan akan kebersamaanya dengan Nindya. Dan kejadian ini pasti tersebar di beberapa awak media.


Mobil terus melaju, Nindya pun merasa takut akan hal ini. Apa lagi setelah kejadian barusan, wajahnya diliput oleh beberapa media. Wajahnya terlihat pucat, ia hanya takut akan keselamatan keluarganya. Bahkan Morano berani mencelakai Andra, apa lagi pada keluarganya? Pikir Nindya.


Andra menggenggam tangan istrinya, dan tangan itu terasa sangat dingin.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Andra.


"Aku takut," jawab Nindya lirih. "Berita itu pasti diliput di tv, bagaimana kalau mereka tahu siapa aku? Aku takut."


"Tenanglah, selama ada aku kamu akan baik-baik saja."


Mobil yang membawanya pergi pun akhirnya sampai di rumah utama. Wiliam sedari tadi sudah menunggu, pria itu sangat murka ketika melihat beberapa tayangan di tv. Kini nama keluarganya tercoreng dengan berita miring tentang putranya. Kejadian di rumah sakit membuat semua orang tahu akan kabar rumah tangga anaknya.


Ia melihat Morano di televisi yang sedang diwawancari oleh awak media. Dia menyebutkan bahwa Andra tak memiliki hati karena berniat menceraikan istrinya yang sedang berada di rumah sakit.


Dan Andra pun akhirnya masuk bersama Nindya, sedari tadi Andra menggenggam tangan istrinya. Dan Wiliam melihat itu.


"Lepaskan tangan itu, Andra. Sebenarnya ada apa dengan kalian?" Wiliam memang sedikit curiga terhadap mereka, terlebih dengan Anye yang mengajaknya ke apartemen. Kini ia bisa menyimpulkan sendiri, tapi ia ingin mendengarnya secara langsung dari putranya.

__ADS_1


__ADS_2