Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 142 Aktivitas Keramat


__ADS_3

Di kantor, Andra dan Roy menjalani aktivitas seperti biasa. Seharian bekerja membuatnya lumayan lelah.


"Roy, aku pulanf duluan ya? Pinggangku pegal sekali. Mungkin sudah beberapa hari aku tidak masuk kantor jadi seperti ini," terang Andra.


"Bukan, bukan itu penyebabnya. Tuan mulai menua," ledek Roy.


"Anak buah kurang ajar," cetus Andra.


"Canda, Bos. Apa Adam sudah selesai dengan sidangnya?" tanya Roy.


"Mungkin, coba saja kamu hubungi dia. Aku pulang dulu." Andra pulang lebih awal, 1 jam sebelum karyawan pulang dan itu untuk menghindari kemacetan.


Jalanan lancar, membuatnya tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah. Jam setengah empat ia sampai, rumah keadaan sepi. Biasanya jam segini anak-anak sedang bermain di taman belakang bersama bibi yang biasa menemani kedua anaknya.


Lalu di mana istrinya berada?


Nindya sedang duduk bersantai sambil membaca majalah. Sesekali ia mengambil makanan di dalam toples, cemilan yang menemaninya sore ini. Kehamilan kedua, ia tak bisa banyak gerak. Gampang lelah, padahal usia kandungannya masih sangat muda.


Sedang asyik membaca, Nindya diganggu dengan sosok yang selalu membuatnya kesal akhir-akhir ini. Tapi ia mencoba melawan perasaan itu, perasaan yang membuatnya jauh dari suaminya sendiri.


"Mas ..." Kata Nindya saat sebuah tangan melingkar di bagian perut dari arah belakang.


"Kok tahu sih? Kenapa tidak terkejut saat aku seperti ini?"


"Dari aroma mu saja aku sudah hapal, tumben pulang cepat?" tanya Nindya.


"Kangen." Andra mencium bagian pundak istrinya, "kapan kita bulan madu kedua? Anggap saja babbymoon." Ucapnya lagi sambil menghirup aroma tubuh istrinya, dan itu berhasil memabngkitkan sesuatu di bawah sana.

__ADS_1


"Udah mandi belum? Mandi bareng yuk? Sudah lama kita tidak mandi bersama." Andra terus memepet tubuh istrinya, "mumpung tidak ada yang mengganggu," sambungnya.


Posisi Nindya yang awalnya membelakanginya kini berubah menghadap ke arahnya. Nindya langsung duduk di paha suaminya, hingga posisi mereka saling berhadapan. Andra semakin mendesir saat istrinya membelai pucuk rambutnya.


Kehamilan kedua membuat Nindya sedikit agresif. Tentu, Andra menyukai itu. Istrinya juga memberikan gigitan kecil di daun telinganya.


"Sayang ..." Suara Andra mulai serak karena merasakan sesuatu yang masih ia tahan.


"Apa, Mas? Kita bermain sebelum mandi ya?" tawar istrinya. Andra langsung semangat empat lima, saking senangnya ia langsung membuka kemeja sendiri dan membantingnya secara asal di lantai. Setelah itu, ia membopong tubuh Nindya ala bridal style dan membawanya ke atas kasur.


Dari mulai pucuk kepala, kening, turun kemata, dan hidung. Dan yang terakhir di bibir. Puncak di mana keduanya menagih haus cinta yang sudah beberapa hari ini tidak terlaksanakan. Di mana selalu ada yang mengganggu waktu mereka. Siapa lagi kalau bukan para bocah? Entah, kedepannya akan seperti apa setelah lahirnya anak yang ada dalam kandungan dan masih berupa darah itu.


"Yea baby, terus mendes*hlah untukku." Andra memulai aksinya yangbkini sudah berada di atas tubuh istrinya.


Dengan sangat hati-hati ia lakukan, ia tak ingin menyakiti calon anaknya yang baru mulai tumbuh itu. Pergelutan sore itu berlanjut, disertai kucuran keringat yang tak tertahankan. Antara nikmat, gerah menjadi satu. Dan dimenit berikutnya, mereka berdua sama-sama mengerang dengan hebatnya.


Dan saat itu juga, terdengar suara panggilan seorang bocah. "Mommy ... Mommy ...," panggil Nala.


"Ada apa?" tanya Andra pada Nala setelah membuka pintu.


"Kenapa Daddy yang keluar? Mommy mana?" tanya Nala sambil melongokan wajahnya di ambang pintu, "Daddy habis ngapain? Itu keringat apa baru selesai mandi?" tanya Nala kepo.


"Gerah, Daddy kegerahan. Mommy-mu sedang mandi, mau apa memangnya? Nanti Daddy sampaikan."


"Nanti saja sama Mommy langsung, ini urusan wanita."


Andra geleng-geleng kepala, anak gadisnya sudah seperti orang dewasa saja jika sedang bicara. Dan setelah itu, Nala pun undur diri karena yang dicari sedang beradam di dalam kamar mandi. Andra kembali masuk ke kamar, dan disaat itu juga Nindya baru keluar dari dalam kamar mandi

__ADS_1


"Cepet banget mandinya?" tanya Andra.


"Darurat," jawab Nindya. Semenjak lahir si kembar, ia tak lagi bisa berlama-lama berada di dalam kamar mandì. Seakan sudah ada jatah waktu masing-masing. Hanya butuh 15 atau 20 menit saja, dan itu pun harus sudah benar-benar bersih. "Nala mau apa mencariku?"


"Tidak tahu, katanya ini urusan perempuan," jawab Andra.


"Ya sudah, nanti aku temui dia." Nindya mulai mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut. Sementara Andra, ia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


* * *


"Ada apa cari Mommy?" tanya Nindya pada anak gadisnya yang sedang menonton tv sendirian.


"Tidak ada apa-apa, hanya ingin ditemani Mommy saja. Aku BT tidak ada teman," keluhnya.


"Kan ada Nathan, di mana dia sekarang?"


"Ah, Mommy. Kayak gak tahu saja sikapnya dia. Mana mau Nathan menemaniku nonton tv. Dia asyik main game di HP."


"Ya sudah, Mommy temani sambil nunggu magrib. Nanti kita shalat berjama'ah." Nala mengangguk.


Tak lama kemudian, Andra datang sambil bersenandung ceria. Mood-nya kembali normal, tidak ada lagi kata lelah. Lelah sudah tergantikan oleh sesuatu di atas ranjang.


"Daddy berisik, kayak suaranya enak didengar saja," omel anak gadisnya.


"Terserah Daddy dong, 'kan Daddy yang nyanyi kenapa kamu yang repot? Cukup jadi pendengar setia saja," kata Andra dengan PD-nya.


"Mommy cinta apanya sih sama Daddy? Kalau aku jadi Mommy, aku gak mau nikah sama Daddy, Daddy itu jelek, kalau tidur juga berisik," celetuk Nala.

__ADS_1


"Ish ... Tidak boleh begitu, bagaimana pun dia tetap Daddy-mu yang wajib kamu hormati," jelas Nindya.


"Sudah, tidak apa-apa. Nala belum cukup mengerti, yang dia tahu memang benar 'kan? Aku tidur memang berisik." Kata Andra sambil terkekeh.


__ADS_2