Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 124 Nangis Karena Merasa Dibentak


__ADS_3

Tubuh Nana terseok-seok, menahan antara pusing dan mual. Hingga dalam perjalanan tubuhnya ambruk seketika, Nana tergeletak di sisi jalan. Tak lama, ada sebuah mobil yang berhenti di sana. Beruntung, yang menemukannya ternyata mengenalnya.


"Nana." Ucapnya setelah melihat wajah yang jatuh pingsan itu, "Yah, cepat bantuin," pintanya pada suaminya. Dan akhirnya, Nana dibawa oleh mereka ke dalam mobil.


* * *


Setelah hujan reda, Adam dan Andra langsung berangkat mencari Nana.


"Kamu di mana? Apa kamu setega ini meninggalkanku?" Kata Adam sambil menyetir. Ia harus menemukan Nana dan membawanya pulang.


Sedangkan Andra, ia meminta pada istrinya untuk menunggu di rumah orang tuanya. Nindya pun terlihat pucat, mungkin ia kelelahan saat di jalan tadi. Pasalnya, Nindya sempat muntah. Tak biasanya ia mabuk perjalanan.


"Aku mau ikut, Mas. Aku gak mau menunggu di rumah Ibu," rengek Nindya yang tetap kekeh ingin ikut. Saat dalam perjalanan, ia melihat mobil orang tuanya. "Mas, bukannya itu mobil Ayah?" Nindya memicingkan matanya saat melihat kendaraan di depanya.


Dari plat nomor sudah dapat dikenali, plat yang berinisial P&N, siapa lagi kalau bukan Panji dan Nisa. Mobil itu hadiah dari Wiliam saat si kembar ulang tahun.


"Iya benar, itu mobil Ayah," yakin Andra. Andra pun memberi klakson pada mereka, sehingga Halim menoleh dari kaca spion.


"Siapa itu, Yah?" tanya Rahayu pada suaminya.


"Itu seperti mobil menantu kita, Bu," jawab Halim.


"Apa keberadaan mereka ada hubungannya dengan Nana?" duga Rahayu.


"Mungkin saja, Bu." Halim memberi lampu sen, tanda ia akan berhenti. Dan mobil Andra pun ikut berhenti. Nindya lebih dulu turun dan langsung menemui orang tuanya.


"Ibu," kata Nindya saat Rahayu menurunkan kaca jendelanya.


"Dya, kamu ada di sini?" tanya Rahayu, lalu wanita paruh baya itu turun mobilnya, "apa keberadaanmu kesini mencari Nana?"


"Ibu kok tahu, apa Ibu sudah bertemu dengannya? Di mana sekarang dia, Bu? Aku harus bertemu dengannya." Nindya meraih tangan ibunya, memohon agar dapat memberitahukan keberadaan Nana.

__ADS_1


"Dia ada di dalam," jawab Rahayu. Nindya pun langsung melengokan wajahnya ke dalam mobil, dan benar saja ia melihat Nana tengah berbaring di dalam sana. "Nana pingsan, Ibu dan Ayah tak sengaja menemukannya di pinggir jalan," jelas Rahayu lagi.


"Bawa ke rumah sakit, Bu. Aku takut kandungannya kenapa-kenapa," kata Nindya.


"Nana hamil?" tanya Halim.


"Iya, Yah. Kita bawa Nana sekarang juga," ajak Nindya. Dan dari situ, Andra baru menghampiri. Ia belum tahu kalau Nana berada di dalam mobil mertuanya.


"Kamu tunggu sama Ibu saja ya, aku mau lanjut mencari Nana membantu Adam," ujar Andra.


"Tidak usah, biarkan saja Adam mencarinya sendiri," kesal Nindya.


"Kok kamu gitu? Katanya aku harus membantu mencari Nana."


"Nana sudah ketemu, dan biarkan Adam keleyengan mencari Nana, biar tahu rasa." Setelah mengatakan itu Nindya langsung saja masuk ke dalam mobil orang tuanya untuk menemani Nana di dalam sana.


Sedangkan Andra, saking bingungnya ia menjadi sedikit bodoh. Kalau Nana sudah ditemukan lalu di mana wanita itu? Pikirnya.


Lalu, Nindya membuka kaca pintu dan berkata. "Kamu jangan beritahukan soal ini pada Adam, biarkan saja dia mencarinya dulu," ucapnya pada suaminya.


"Ayah permisi dulu," pamit Halim.


Andra kebingungan, antara menghubungi Adam atau membiarkannya. Tapi bagaimana pun, Andra pasti tidak akan tega kepada temannya itu. Akhirnya ia memberitahukan soal Nana kepada Adam, tak peduli jika ia kena amukan istrinya nanti. Ia harus ikut tanggung jawab karena bagaimana pun Adam dipertemukan dengan Nana karena usulnya.


Dan ia tak mau berdosa dengan mengikuti perintah istrinya yang mungkin itu sangat konyol menurutnya. Apa semua wanita akan marah seperti ini saat temannya terluka? Ya mungkin begitu dan itu atas kesetiaan seorang kawan. Pikir Andra. Akhirnya ia menyusul mobil yang lebih dulu melaju di depannya.


Dan ia juga langsung menghubungi Adam untuk segera ke rumah sakit.


* * *


Adam senang bukan kepalang, ia langsung menyusul ke rumah sakit setelah Andra memberi alamatnya. Karena tidak tahu alamat tersebut ia memilih ponsel untuk memberitahu jalan menuju lokasi melalui GPS.

__ADS_1


Adam mempercepat laju mobilnya, dan ia pun selamat sampai tujuan. Saat tiba di sana, Nindya memicingkan matanya kepada suaminya. Ia tengah kesal karena suaminya tidak menuruti apa yang diperintahkan olehnya.


"Kenapa kamu beritahu dia? Aku sudah bilang jangan beritahu dia dulu. Biar dia merasa kehilangan tidak adanya Nana, apa dia bisa hidup tanpa istrinya? Apa lagi ada Aileen sekarang, aku tidak mau Nana terluka," jelas Nindya.


"Sudah dong, kalau seperti itu apa bedanya kamu sama orang tuanya Aileen? Tega memisahkan anak dari orang tuanya." Andra jadi kesal sendiri.


Nindya lebih kesal, dan ia pun akhirnya pergi meninggalkan suaminya. Ia memilih duduk bersama orang tuanya. Sedangkan Nana, ia tengah berada di dalam ruangan tengah diperiksa oleh dokter.


"Siapa suami pasien?" tanya suster yang baru saja keluar dari ruangan di mana ada Nana di dalamnya.


"Saya, Sus." Adam menghampiri, lalu setelah itu ia pun masuk ke dalam dam bertemu dengan dokter. Nana sendiri sudah sadar, pakaian yang hangat membuatnya merasa lebih nyaman. Saat Adam masuk, Nana merubahkan posisinya. Ia meringkuk membelakangi arah pintu. Dan Adam langsung menghampiri dokter.


"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Adam


"Baik, hanya saja tidak boleh kecapean. Kondisinya sangat lemah, sepertinya terlalu banyak pikiran yang dipendam. Kalau boleh saya sarankan, jangan terlalu banyak pikiran karena itu menyebabkan si Ibu jadi stres," jelas dokter.


Adam mengangguk, itu tandanya ia mengerti. Dan dokter pun pergi memberi ruang untuk mereka, suster pun ikut keluar. Kini hanya menyisakan Nana dan Adam di dalam sana. Posisi Nana masih seperti tadi.


"Na, jangan pergi lagi. Kamu buatku gila dengan cara meninggalkanku," ucap Adam.


Hening, ruangan itu mendadak sunyi. Hanya detak jam di dinding yang terdengar. Karena Nana masih tak merubahkan posisinya, Adam mendudukkan diri di sisi brankar. Ia menyentuh pundak lalu merubahkan posisi Nana agar menghadap ke arahnya. Meski sudah begitu, Nama masih enggan untuk melihatnya.


Nana membuang wajah ke sembarang arah. Ia tak ingin melihat suaminya, ia kesal, ia marah. Tapi ada kerinduan di dalam sana yang ia tahan dengan kuat. Meski hati memberontak bahkan ingin sekali ia menumpahkan air matanya dalam keadaan memeluk suaminya.


Adam meraih dagu Nana agar wanita itu melihat ke arahnya. Hingga akhirnya tatapan mereka bertemu karena Nana tak dapat lagi menoleh ke mana pun, Adam menahan wajah itu dengan menyentuh dagunya.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membohongimu," kata Adam.


"Kamu tidak salah, dari dulu aku tahu kalau kamu punya istri. Dan ini jalan yang aku pilih saat istrimu kembali, aku siap mundur, Mas. Akhsa akan lebih bahagia jika orang tuanya bersatu," terang Nana. Sedikit pun ia tak marah, ia hanya sadar diri.


"Tapi bukan begini caranya, kamu memikirkan perasaan Akhsa sampai begitunya. Lalu kamu tidak memikirkan nasib anak kita, kamu tega memisahkanku dengan darah dagingku sendiri. Kenapa tidak katakan padaku kalau kamu tengah hamil? kenapa?"

__ADS_1


Bukannya menjawab, Nana malah menangis karena merasa dibentak.


__ADS_2