
Keesokkan harinya.
Adam sudah siap dengan aktivitas yang akan dijalaninya hari ini. Ia juga tengah sarapan bersama dengan anak dan istrinya. Aktivitas Nana seperti biasa, ia akan mengantarkan Akhsa ke sekolah.
"Pa, Papa nanti jemput aku ya? Papa sudah janji akan mengajakku pergi jalan-jalan ke mall," pinta Akhsa.
"Papa tidak janji hari ini, Papa hari ini sibuk."
"Tunggu hari libur ya?" kata Nana, "Papa pasti tepatin janjinya."
Akhsa cemberut, ia inginnya pulang sekolah hari ini. Tanpa mengkhiraukan Akhsa, karena Adam sudah tahu karena anaknya marah hanya sebentar. Seusai sarapan, mereka pun pergi sama-sama.
Adam mengantar anak dan istrinya ke sekolah. Sesampainya di sana, Adam langsung pamit. Dan Nana menunggu Akhsa sampai jam pelajaran selesai. Tak terasa, jam sekolah berakhir. Saat Akhsa keluar dari dalam kelas dan menemui Nana, ia langsung meminta pada Nana untuk ke tempat kerja Adam. Akhsa menagih janji papanya.
"Tapi papa sedang kerja, kita tidak boleh mengganggunya." Nana mencoba memberi pengertian pada Akhsa. Tapi Akhsa tidak mengerti ia tetap ingin menemui papanya.
Akhsa memaksa, Nana pun tidak bisa mencegah. "Baiklah, kita temui Papa. Tapi bukan untuk mengajaknya pergi, kita makan siang bersama papa saja di sana, bagaimana?"
Akhsa mengangguk, meski hanya sekedar makan siang bersama ia sudah senang. Akhirnya, Nana membawakan makan makanan siap saji ke kantor di mama tempat suaminya bekerja. Sampailah mereka di sana. Nana bertemu dengan Roy, dan mereka saling menyapa.
"Hai Akhsa?" panggil Roy, "tumben kalian kemari?" tanyanya.
"Mau makan siang sama papa," jawab Akhsa.
Roy mengerutkan keningnya, apa Nana tidak tahu kalau Adam tidak ke kantor hari ini. Baru saja Roy akan bercakap, Andra lebih dulu datang dan memotong pembicaraan mereka.
"Akhsa, Nana? Kalian bawa apa?" tanya Andra saat melihat Nana membawa buah tangan.
"Makan siang, Akhsa ngotot mau ketemu papanya Mas Adam ada 'kan?" tanya Nana.
"Ada, tapi dia sedang kekuar sebentar. Bentar lagi juga balik ke kantor, iyakan, Roy?" Andra mengedipkan matanya ke arah Roy. Sedangkan Roy, ia mengerutkan keningnya karena bingung. Yang ia tahu Adam tidak masuk kantor hari ini.
Andra membenturkan kakinya pada kaki Roy, memberi kode untuk menjawab iya. Akhirnya, Roy mengerti apa yang harus dilakukan olehnya. "I--iya, Adam keluar sebentar. Kamu tunggu saja di ruangannya."
__ADS_1
Akhirnya, Nana dan Akhsa pergi ke ruangan Adam.
"Kenapa harus berbohong? Adam 'kan tidak ada di kantor, apa yang sedang terjadi?" tanya Roy pada Andra.
"Itu bahas nanti saja, sebaiknya kamu hubungi Adam dan suruh dia ke kantor sekarang juga. Aku mau menemui Nana."
* * *
Adam tengah berada di rumah sakit, ia sedang menunggu hasil pemeriksaan Aileen. Bahkan hasilnya pun sudah keluar. Sekarang ia tengah berada di ruangan bersama dokter Zack. Hasil pemeriksaan sangat mengejutkan, Aileen harus dioperasi karena pengaruh obat yang dikonsumsinya selama ini berdampak buruk pada otaknya.
Kalau tidak segera dioperasi, selamanya ia akan hilang ingatan. Dan rasa sakit dibagian kepala akan terus berlanjut dan mengakibatkan melumpuhkan otaknya dan berakhir dengan kematian.
Tidak ingin itu terjadi, Adam menyetujui operasi itu. Dan operasi akan dilakukan hari ini juga. Saat mereka sedang berbincang, ponsel Adam berbunyi. Ia melihat ID pemanggil.
"Ada apa dia menghubungiku?" Tak ingin diganggu, Adam memilih untuk mematikan ponselnya. Paling urusan kantor, pikirnya. Karena operasi akan segera dilakukan, Adam harus mengisi formulir terlebih dulu.
* * *
"Kenapa dia mematikan telepon dariku? Sebenarnya dia kemana? Kenapa Nana tidak tahu kalau suaminya tidak masuk kantor?" Roy menghela napas karena sudah gagal menghubungi Adam.
"Teleponnya tidak angkat, bahkan ponselnya mati tidak bisa dihubungi lagi," jawab Roy.
Sedangkan Nana, ia sudah lama menunggu suaminya. Bahkan Akhsa merengek karena kesal.
"Ma, Papa kemana sih? Kok lama tidak balik-balik ke kantor," kesal Akhsa.
"Mama 'kan sudah bilang kalau Papa sibuk, Papa sedang kerja, sebaiknya kita pulang ya? 'Kan bisa pergi nanti bareng papa kalau tidak sibuk lagi."
Akhsa tidak mau pulang sebelum ketemu papanya, bocah itu terus menunggu sampai ia ketiduran di sofa bersama Nana. Dan itu disaksikan oleh Andra, ia jadi kasihan melihat mereka sampai tertidur.
Mau tak mau, ia sendiri yang harus pergi menemui Adam di rumah sakit. Hanya dirinya yang tahu soal keberadaan Adam.
"Tuan mau kemana?" tanya Roy saat melihat sang bos tengah pergi.
__ADS_1
"Aku ada urusan sebentar," jawab Andra.
"Lalu Nana?"
"Mereka tidur, aku harus menemui Adam dulu. Jangan katakan apa pun pada mereka, aku akan menjemput Adam kembali ke kantor."
Roy semakin kebingungan, sebenarnya apa yang terjadi? Kalau tuannya pergi, itu artinya Andra tahu soal kepergian Adam. Tidak mau pusing karena ini, lebih baik ia pergi makan siang.
Waktu terus bergelir, Nana terbangun jam 2 siang. Suaminya masih belum kembali ke kantor, ia pikir suaminya memang lagi sibuk. Karena Akhsa masih tidur, ia pun putuskan untuk pulang dan tidak membangunkan Akhsa.
* * *
Jalanan sedikit macet, dan itu menghambat perjalanan Andra menuju rumah sakit. Setelah satu jam lebih, akhirnya ia sampai di rumah sakit. Ia tengah melihat Adam sedang menunggu di depan ruang operasi. Andra tahu keberadaannya dari resepsionis akan pasien bernama Aileen.
Ternyata Adam tengah menunggu operasi istrinya. Perlahan, Andra mendudukkan diri di samping Adam. Merasa ada yang duduk di sebelahnya, Adam pun membuka matanya karena ia duduk dalam keadaan mata terpejam.
"Tuan," ucap Adam, "kenapa ada di sini?"
"Kamu kembalilah ke kantor, di sana ada Nana dan Akhsa. Biar aku di sini menunggu Aileen," tutur Andra.
Adam terkejut, jangan-jangan Nana tahu soal ia tidak ke kantor. Harus menjelaskan apa padanya nanti, pikirnya.
"Santai saja, dia tidak tahu kamu tidak masuk kantor," jelas Andra.
"Roy, apa dia mengatakan sesuatu pada Nana?
"Tidak, aku sudah bilang padanya. Sebaiknya kamu segera ke kantor, kasian mereka menunggumu."
Tanpa berpikir lagi, Adam segera pergi dari rumah sakit. Ia akan menemui Nana.
Tibalah Adam di kantor.
"Kamu kemana saja? Nana di dalam sama Akhsa," terang Roy. Ia sendiri tidak tahu kalau Nana dan Akhsa sudah pulang. Adam langsung saja pergi ke ruangannya, tiba di sana ia tak melihat siapa pun.
__ADS_1
Mengecek ke tiolet pun tidak ada, hanya ada paper bag di atas meja. Ia pastikan itu pasti Nana yang mebawanya, lalu melihat isinya. Adam menjadi merasa bersalah kembali, bagaimana ini? Ia harus pergi kemana? Rumah sakit atau pulang?
Ini benar-benar membuatnya pusing.