Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 135 Cemburu


__ADS_3

Suara teriakan tak lagi di dengar oleh Andra, bahkan ia menempelkan telinganya di pintu. Sepi, tak ada suara apa pun. Merasa sudah aman, ia membuka pintu secara perlahan. Mengintipnya terlebih dulu. Macan betina sudah tidak ada, akhirnya ia keluar dengan mengendap-ngendap.


"Mau lari kemana lagi?" Suara itu mengejutkannya, Andra membalikkan tubuh lalu melihat sang istri tengah berkacak pinggang. Matanya begitu mengintimidasi, Andra menghela napas panjang.


Ia tak pandai bersembunyi, apa lagi menghindar dari istrinya. Alhasil, Andra kena cubitan di pinggang. "Aduuuhhhh ...," keluh Andra.


"Siapa suruh lari?" tanya Nindya.


"Gak ada yang nyuruh, ampun." Andra mengatupkan tangan seraya memohon ampun.


"Aku segalak itu ya, Mas? Kamu takut sama aku?" Bumil itu mendadak melow, hatinya malah rapuh tak tega melihat suaminya begitu menunduk.


"Bukan takut, aku gak mau kamu marah. Makanya aku milih menghindar," jelas Andra.


"Menghindar dariku, aku semakin sakit." Seketika tangis Nindya pecah, ia benar-benar seperti anak kecil.


"Ssstttt ... Jangan nangis, nanti dikira aku menyakitimu. Sudah, gak apa-apa. Kamu mau apa sekarang?"


"Rujak, Mas. Aku mau rujak!" kekeh Nindya.


"Bukannya di sebrang rumah ada yang jualan rujak? Kenapa tidak beli di sana?"


"Gak ada yang mau beli di sana, Mas."


"Terus, kamu juga tidak mau? Siapa tahu enak. Kita coba beli di sana ya?" ajak Andra.


"Bukan soal rasanya, tapi penjualnya yang tidak disukai warga sini. Sebenarnya aku kasihan sama dia loh, Mas."


"Kenapa memangnya?" Andra jadi penasaran.


"Warga di sini menyebutnya wanita jala*g, tiap malam keluyuran tidak jelas. Tapi aku sendiri tidak tahu apa yang dilakukannya, orangnya tidak terbuka. Meski banyak yang menghina dan mengatainya wanita tidak benar dia diam saja, Mas."


"Kita beli saja rujaknya, dan jangan ikut campur urusan dia. Jangan menuduh orang sembarangan apa lagi tidak ada buktinya, itu fitnah."


"Aku gak ikut campur, ibu sama ayah juga gak. Bahkan ibu sering mengajaknya bicara, tapi dia masih tertutup."


Tak lama dari situ, Rahayu datang menghampiri anak dan menantunya. "Rupanya kalian di sini, sudah siang sebaiknya makan dulu. Dya, ajak suamimu makan, kasian dia belum makan apa-apa dari pagi," kata Rahayu.


"Nanti saja, Bu. Kami mau keluar dulu sebentar," ucap Andra.


"Mau kemana memangnya?" tanya Rahayu lagi.

__ADS_1


"Beli rujak dulu, Bu. Mas Andra takut anaknya ileran." Padahal itu cuma akal-akalannya saja agar ibunya tak melarang pergi.


"Ya sudah, jangan lama-lama. Makanannya nanti keburu dingin," ucap Rahayu.


"Iya, Bu. Kita hanya ke depan saja, beli rujak di sana," ujar Andra.


"Beli di warung Hanum?" tanya Rahayu.


Oh, namanya Hanum. Tak lama, Andra langsung meraih tangan istrinya untuk segera pergi beli rujak karena ia sudah sangat kelaparan.


* * *


"Mbak, rujaknya masih ada?" tanya Andra pada penjual rujak yang bernama Hanum itu.


"Ada, Tuan. Mau beli berapa bungkus?" tanya Hanum.


"Dua saja," jawab Nindya, "pedes ya?"


"Tidak, jangan pedes-pedes. Sedang saja," timpal Andra.


Nindya cemberut, kesal karena tidak dibolehkan makan pedas. Nindya juga terus memperhatikan Hanum, tidak ada yang aneh dengan gadis itu. Bahkan pakaiannya terlihat kumel, kalau dia wanita nakal mana mungkin penampilannya seperti ini, pikirnya.


"Ini, Tuan. Rujaknya sudah selesai." Hanum memberikan dua bungkusan kepada Andra, tapi Nindya yang menerimanya karena ia langsung meraihnya karena tidak sabar ingin segera melahapnya.


"Dua puluh ribu, Tuan."


Andra mengeluarkan uang lima puluh ribu, dan langsung memberikannya pada Hanum. "Ambil saja kembaliannya," ujar Andra.


"Terima kasih, Tuan." Hanum membungkukkan tubuhnya sebagai ucapan terima kasih.


"Ayok, Mas. Aku sudah tidak sabar ingin memakannya." Nindya merangkul lengan suaminya dengan manja sambil berjalan menuju rumahnya.


Sedangkan Hanum, ia hanya bisa melihat sepasang suami istri. Terlihat begitu mesra, lantas ia pun menyentuh perutnya dan mengusap-usapnya dengan lembut.


* * *


"Makan dulu, sayang. Jangan makan rujak sebelum makan." Andra menarik wadah yang berisikan rujak di hadapan istrinya.


"Aku gak selera makan, Mas. Aku cuma mau makan itu," rengek Nindya.


"Mommy kenapa sih? Manja banget," celetuk Nala.

__ADS_1


"Husss." Rahayu langsung membekap mulut Nala, ia takut anaknya malah memahari cucunya karena Nindya marah tak kenal siapa orangnya, bahkan Nisa saja kena semprot karena nakal bersama Nala.


"Jangan buat Mommy marah, nanti dede bayi yang ada dalam perut Mommy nangis," bisik Rahayu pada cucunya. Nala pun tak lagi mengucapkan kata-kata yang membuat sang mommy marah padanya, jika sudah menyangkut adiknya, Nala akan melakukan apa itu.


Semua berkumpul di ruang makan, mereka makan siang bersama. Terkecuali Halim, pria itu tengah bekerja, ditemani oleh Roy. Tapi tak lama dari situ, Halim dan Roy datang.


Perusahaan memang tak begitu jauh dari kediaman Halim, jadi ia putuskan untuk pulang dan makan siang bersama-sama di rumah, mumpung lagi ngumpul, pikirnya.


"Aku mau makan rujak aja, Mas." Nindya kembali menarik wadah itu kembali.


Dan Roy mendudukkan tubuhnya di sebelah Nindya. "Mana ada gizinya kalau makan itu," ucap Roy.


"Ini enak, Mas Roy mau?" tawar Nindya.


Roy menggelengkan kepala sebagai jawaban, melihatnya saja sudah bergidik. Pasti itu rasanya tidak enak karena ia benci makanan berbau cabai apa lagi extra pedas.


"Cobain, Mas. Ini enak, gak pedes kok," kata Nindya.


"Tidak, terima kasih. Aku tidak suka rujak," tolak Roy. Tapi Nindya tetap kekeh menawari Roy makan rujak, sampai perlakuan Nindya di luar dugaan suaminya. Nindya menyodorkan satu sendok ke dekat bibir Roy.


"Aaa, cobain!" paksa Nindya.


Roy menoleh pada tuannya, ia merasa sangat tidak enak dengan perlakuan istrinya. Bahkan raut wajah Andra terlihat murka, wajahnya merah seperti menahan amarah. Andra cemburu, jelas saja. Sikap istrinya baik pada Roy, sedangkan padanya sangatlah garang. Bertolak belakang membuat Andra cemburu.


"Cobain!" Nindya kembali memaksa, mau tak mau Roy membuka mulutnya. Saat rujak itu mendarat di mulutnya, rasanya enak. Bahkan Roy minta nambah, dan itu disuapi lagi oleh Nindya.


Andra benar-benar murka, ia sampai mengepalkan tangan. " Tadi saja nolak, tapi sekarang malah ketagihan," gerutu Andra.


"Ini enak, Tuan. Kalau tidak percaya coba saja," ucap Roy tanpa dosa dan ia juga tidak memikirkan bagaimana perasaan bosnya itu.


"Ini, habiskan saja." Nindya menyodorkan rujak itu pada Roy, padahal ia sendiri belum memakannya sedikit pun.


"Kok dikasih dia, 'kan kamu yang mau," kata Andra.


"Itu tadi, sekarang tidak. Aku mau makan saja," jawab enteng Nindya.


Ya, begitulah ibu hamil. Hanya lapar mata. Andra semakin kesal, tahu begitu ia tak sudi membeli rujak itu kalau akhirnya Roy yang memakannya.


"Aku pecat tahu rasa kamu!" Andra masih menggerutu.


"Siapa yang mau dipecat?" tanya Nindya.

__ADS_1


"Tidak ada, mungkin kamu salah dengar," elak Andra, "gak tahu kalau aku lagi cemburu!"


__ADS_2