
Karena mendapatkan tugas dari tuannya, Roy mulai bekerja. Ia mengerahkan beberapa anak buahnya untuk mengawasi Aileen. Dan beberapa lagi ia tugaskan di rumah utama untuk menjaga Nindya.
Andra sengaja melakukan itu karena ia tak ingin ada orang yang menyakiti Nindya, bahkan ia tahu kalau Lee sudah mulai kurang ajar pada gadis itu. Ia harus memiliki bukti yang cukup untuk melaporkan kelakuan Lee pada Wiliam.
Karena Lee orang kepercayaan tuan Wiliam di rumah itu, tak mudah bagi Andra memecat pria itu tanpa bukti yang cukup. Karena anak buah Roy berjaga di rumah utama, dan mereka melihat seorang gadis keluar dari rumah tersebut. Pria yang berjaga di depan rumah itu langsung menghubungi tuannya.
"Tuan, gadis itu membawa tas besar. Apa dia pulang hari ini?" lapor Roy pada tuannya.
Andra yang tahu akan informasi itu langsung menutup rapatnya hari ini.
"Maaf semuanya, meeting hari ini selesai. Dan untuk Tuan Adam, kita bicarakan proyek ini nanti. Saya harus pergi karena ada urusan.
* * *
Ayunindya sudah siap untuk berangkat hari ini. Gadis itu keluar dari rumah utama sambil menjinjing tas besar miliknya.
Keberangkatannya tidak diketahui oleh Andra, ia sengaja memajukan jadwal kepulangannya hari ini untuk menghindar dari majikannya itu.
Nindya menggunakan kendaraan umum menuju stasiun, perasaannya yang mulai merasa bersalah muncul karena tak bisa menjaga mahkotanya. Ia ingat betul pesan dari sang ibu. Hidup di kota metropolitan itu tidak mudah, jaga kehormatan agar orang tak menganggapnya sebagai wanita murahan.
Pada kenyataannya, kehormatannya sudah terenggut oleh majikannya sendiri. Ia juga tak tahu harus bagaimana, apa ia terima akan majikannya yang akan bertanggung jawab. Tapi itu tidak 'lah mudah, status sang majikan yang kini sudah resmi menjadi suami orang.
Nindya sudah sampai di stasiun, ia hendak menaiki kerata api. Semoga dengan kepulangannya hari ini menjadi merasa lebih tenang. Gadis itu terus melamun, entah apa yang ada dalam pikirannya. Hingga lamunannya buyar ketika ada seorang pria ikut duduk di sampingnya. Nindya menoleh ke arah pria tersebut.
Pria berpakaian serba hitam serta menggunakan topi dan masker di wajahnya sehingga Nindya tak bisa melihat wajah pria itu. Tapi aroma yang terhirup oleh Nindya mengingatkannya pada majikannya. Wangi parfum yang sama persis dengan pria itu.
Tidak, ini tidak mungkin. Banyak orang yang memiliki parfum sepertinya. Nindya menggelengkan kepalanya, pria yang duduk di sampingnya bukan 'lah majikannya. Lagian, pria itu tidak tahu akan kepulangannya hari ini bukan. Tidak ingin berpikir yang tidak-tidak, akhirnya Nindya memilih untuk tidur saja karena perjalanan masih jauh. Ia menangkup tas miliknya dan mulai memejamkan mata.
Semoga dengan begini perjalanan jauh tidak akan terasa. Lama ia berada dalam tidurnya, hingga tak terasa kereta yang ia tumpangi berhenti. Nindya membuka matanya.
"Sudah sampai ternyata." Ucapnya seraya beranjak. Kereta sudah mulai kosong dengan penumpangnya, bahkan pria yang duduk di sebelahnya pun sudah tidak ada. Nindya jadi merasa yakin bahwa yang duduk bersamanya bukan 'lah majikannya.
Meski ia menolak perranggungjawaban dari majikannya, tapi hatinya tidak bisa mengelak. Ada perasaan bahagia jika berada di sampingnya, namun semua itu tertahan hanya dalam hati. Karena ia sadar bahwa ini tidak boleh terjadi.
Akhirnya Nindya turun dari kereta api tersebut, ia melanjutkan perjalanan menggunakan angkutan umum. Sejenak, ia menoleh ke belakang. Tapi tak ada orang yang ia curigai, tapi ia merasa ada yang mengikutinya. Takut hal buruk terjadi padanya, ia buru-buru menghampiri angkutan yang memang sudah berjejer di tepi jalan. Dan Nindya menaiki mobil dari salah satunya.
__ADS_1
Mobil masih menunggu beberapa penumpang untuk memenuhi kendaraannya, sampai Nindya merasa bosan.
"Pak, kapan mobilnya berangkat?" tanyanya.
"Sebentar lagi, Neng. Itu masih ada tempat kosong, tunggu penuh dulu ya, Neng," jawab supir.
"Oh gitu ya, Pak." Akhirnya Nindya hanya bisa menunggu sampai mobil itu penuh dengan penumpang. Dan akhirnya, yang ditunggu-tunggu tiba. Mobil mulai melaju karena sudah terisi dengan penumpang.
Nindya tersenyum kecil, ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kedua adiknya.
Tak lama, ia pun sampai ditujuannya.
"Kiri, Pak."
Mobil pun berhenti, Nindya turun dari mobil. Ia memilih untuk membeli mainan terlebih dulu untuk kedua adiknya yang kembar. Sepasang anak yang berumur enam tahun yang masih menggemaskan baginya.
Nindya memilih dua mainan, boneka dan mobil-mobilan yang ia pilih.
"Ini berapa, Pak?" tanya Nindya tentang harga boneka berukuran sedang.
"Dan yang ini." Tunjuknya pada mobil-mobilan.
"Seratus sepuluh, Nenk."
"Ya sudah, saya pilih ini dua, Pak." Nindya pun mengeluarkan uang dua ratus ribu dan langsung memberikannya pada pedagang itu.
"Laris manis tanjung kimput." Pedang itu senang karena jualannya ada yang membelinya.
"Terima kasih, Pak." Nindya undur dari sana, dan mulai melanjutkan kembali perjalanannya menggunakan ojek. Rumahnya tak jauh dari sana. Dengan perasaan bahagia ia selalu tersenyum ketika melihat dua mainan itu. Kedua adiknya pasti senang dengan mainan yang ia bawa.
Perjalanan menggunakan motor hanya lima belas menit saja, dan akhirnya ia sampai di rumah sederhana milik orang tuanya. Nindya turun dari motor dan membayarnya.
"Ibu," panggil Nindya.
Gadis menghampiri ibunya, setibanya di hadapan sang ibu ia memeluknya erat.
__ADS_1
"Aku rindu." Ucap Nindya dalam pelukkan itu, bahkan ia mulai terisak.
"Kamu kenapa? Kok, nangis."
"Hanya kangen saja, Bu. Mana si kembar? Aku bawakan mainan untuk mereka." Ia menyeka air mata yang sudah membasahi pipi.
Belum ibu Nindya menjawab, sepasang anak kecil berlari ke arahnya.
"Kakak ...," teriak dua bocah itu.
"Asyik ... Kaka bawakan kita mainan." Adik perempuannya yang bernama Nisa itu begitu riang.
"Hore ... Aku dapat mobil-mobilan." Adik laki-laki bernama Panji tak kalah seru dari Nisa.
"Tumben pulang cepat?" tanya ibu. Mungkin ikatan batin yang cukup kuat membuat ibu Nindya merasa curiga, apa jangan-jangan sesuatu sudah terjadi pada putrinya?
"Iya, Bu. Aku sudah janji pada Nisa dan Panji. Aku inget terus karena mereka meminta mainan bulan lalu," jawab Nindya bohong. Padahal bukan itu alasan yang sebenarnya.
"Oh begitu." Meski curiga, tapi ibu Nindya tak memperpanjang kepulangan anaknya yang pulang cepat.
"Kakimu kenapa?" tanya sang ibu kala melihat anaknya yang berjalan sedikit tertatih.
"Ceritanya panjang, Bu. Nanti aku cerita, tapi sekarang aku capek mau istirahat dulu."
* * *
"Siapkan persiapannya, aku akan datang malam ini juga ke rumahnya." Andra menghubungi Roy untuk menyiapkan semua persiapan pernikahannya dengan Nindya.
Ia tak ingin mengundur-ngundur lagi, ini kesempatan baginya untuk menikahi Nindya.
...----------------...
Mampir di karya teman othor juga ya, yuk kepoin. Tapi jangan lupa tinggalkan jejak untuk memberi dukungan ya di novel GELORA CINTA SANG MAJIKAN, terima kasih😘😘
__ADS_1