Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 125 Dicap Sebagai Pelakor


__ADS_3

Adam gelapan saat mendengar Nana terisak.


"Maaf, aku tak bermaksud membuatmu sedih. Sungguh!"


Nana tak mengkhiraukannya, ia merasa suaminya sudah berubah. Padahal, bukan Adam yang berubah melainkan dirinya yang terlalu sensitif. "Aku ingin sendiri, kamu pergi saja," usir Nana kemudian.


"Kenapa mengusirku? Apa kamu tidak suka dengan keberadaanku?"


"Itu membuatku semakin sakit, Mas. Aku tidak mau mengharapkan lebih setelah Mbak Aileen kembali, dia istri sah-mu. Sedangkan aku hanya istri siri, Mas. Aku tak berhak memilikimu."


"Kamu istriku, dan selamanya kamu akan menjadi istriku!" Adam tidak tahu lagi harus meyakin Nana dengan cara seperti apa. Jujur, jika ia harus memilih ia akan memilih Nana. Tapi ia tak setega itu jika harus melepaskan Aileen setelah mendapatkan penggantinya.


"Tapi aku tidak mau, Mas. Biar aku saja yang mundur, kamu tidak akan kehilangan anakmu. Setelah aku melahirkan kamu tetap bisa menemuinya. Sekarang kamu pulanglah, Mbak Aileen dan Akhsa menunggumu."


"Tidak, Na. Itu tidak akan, aku tetap akan membawamu kembali seperti hari-hari yang telah kita lewati. Akhsa membutuhkanmu."


"Itu dulu sebelum ada Mbak Aileen, Mas. Sekarang sudah tidak lagi, Ibu kandungnya sudah kembali itu artinya aku sudah tidak butuhkan. Sudahlah, Mas. Jangan memperkeruh keadaan, kamu tinggal pulang dan menjalani hidupmu dengan istri dan anakmu."


Saat mereka bicara serius, Andra dan Nindya masuk. "Na, gimana keadaanmu?" tanya Nindya. Ia melihat sahabatnya dengan mata sembab, sudah dipastikan bahwa Nana tengah menangis. Nindya tak bisa diam saat sahabatnya tersakiti.


"Kamu apakan temanku? Belum cukup sudah membuatnya pergi?" Nindya jadi lebih galak tidak seperti biasanya. Andra pun terheran-heran, sejak ia ingin memiliki anak lagi, istrinya menjadi lebih sensitif. Siapa pun yang salah pasti ia marahi habis-habisan. "Apa semua lelaki bisanya cuma nyakitin perempuan?"


"Aku tidak termasuk daftar itu, kapan aku menyakitimu?" bela Andra.


"Aku tidak mengajakmu bicara, aku bicara padanya." Tunjuk Nindya pada Adam, "oh iya, kamu juga ikut skongkol 'kan menutupi masalah ini dari Nana? Kamu juga ikut salah dalam hal ini."


Adam menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bahkan ia tak bisa mencela ucapan wanita itu karena bagaimana pun Nindya itu istri dari atasannya, ditambah lagi sahabat dari istrinya.


"Sebaiknya kita mengalah saja," ucap Andra, "ayo, kita keluar mencari udara segar," ajak Andra kepada Adam.


"Aku keluar dulu," pamit Adam kepada Nana, "panggil aku jika butuh sesuatu," sambungnya lagi.


"Ada aku, Nana tidak akan membutuhkanmu selagi ada aku di sini!" cetus Nindya.

__ADS_1


Adam dan Andra pun keluar, mereka tidak ingin mendapatkan amukan dari macan betina. "Istrimu ada masalah apa denganku? Bawaannya sewot terus padaku?" tanya Adam pas saat keluar dari ruangan Nana.


"Bukan cuma sama kamu saja, padaku juga." Mereka jadi saling berbisik, dan Andra pun menoleh ke belakang untuk melihat istrinya, "sepertinya kurang servisan dariku," bisiknya.


Sayang, Nindya mendengar ucapan itu, hingga ia melepas sepatunya dan membantingnya. Hampir saja sepatu itu mengenai tubuh suaminya, untung mereka sudah keluar. "Kurang ajar," rutuk Nindya.


"Kamu kenapa sih? Akhir-akhir ini aku sering melihatmu marah pada suamimu?" tanya Nana.


"Entahlah, aku bawaannya emosi terus padanya," jawab Nindya.


"Bawaan dede bayi kali, kamu tidak sedang hamil lagi 'kan?" tanya Nana.


"Gak 'lah. Aku 'kan ikut KB," jawabnya.


* * *


"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya Andra pada Adam, mereka tengah berada di kantin rumah sakit.


"Itu beda ceritanya, kamu mencintai keduanya. Sedangkan aku tidak, kamu pikirkan siapa yang akan menjadi pasanganmu," kata Andra lagi.


"Sudah sore, sebaiknya kamu cari hotel. Aku rasa, Nana sudah boleh pulang." Adam pun mengangguk. Setelah itu mereka kembali menemui kedua istrinya. Setibanya di sana, Adam melihat istrinya tengah diperiksa dokter.


"Dok, istri saya sudah boleh pulang 'kan?" tanya Adam.


"Iya, sudah. Tapi ingat, istri Anda tidak boleh stres. Harus selalu happy," pesan dokter.


"Iya, Dok. Sebelumnya terima kasih." Dokter pun undur diri, dan Adam membujuk istrinya untuk pulang.


"Aku tidak mau pulang bersamamu, aku mau sama Nindya saja," ujar Nana, "Dya, aku ikut pulang bersamamu saja. Rumah kita 'kan tidak jauh, Mas Adam pulang saja ke kota kasian Akhsa." Saat Nana turun dari brankar, tiba-tiba Nindya oleng nyari jatuh pingsan.


"Sayang, kamu gak apa-apa?" tanya Andra khawatir.


"Kok kepalaku pusing ya, Mas." Nindya menyentuh kepalanya sambil memijatnya, baru saja mau berjalan kembali, Nindya langsung jatuh pingsan. Dengan segera Andra membopong tubuh istrinya dan merebahkannya di atas brankar.

__ADS_1


"Kalian pulang saja, biar aku yang menunggu istriku. Kasihan Nana," tuturnya pada Adam.


"Aku juga di sini saja, aku khawatir sama Nindya, aku tidak mau pulang," tolak Nana.


"Jangan ngeyel, Nana. Ini sudah sore sebentar lagi gelap," kata Andra menyuruh Nana pulang. Mau tak mau, Nana pun akhirnya pulang bersama Adam.


* * *


"Kita mau kemana?" tanya Nana saat melihat jalan pulang bukan arah jalan pulang ke rumahnya.


"Hotel, kita nginap di sana," jelas Adam.


"Tidak! Aku tidak mau ke hotel. Aku mau pulang ke rumah," tolak Nana.


"Tapi di sana keadaannya tidak memungkinkan, banyak debu yang akan bisa mengganggu kesehatanmu." Niat hati ingin menjaga istrinya, tapi itu malah membuat Nana salah paham.


"Iya rumahku memang jelek tidak layak, makanya aku tidak mau kamu ikut. Kamu cukup mengantarkanku pulang, aku tidak juga tidak mau ada gosip tentangku."


"Gosip apa?" Adam penasaran.


Menikah siri dan tidak banyak diketahui orang membuat pandangan para tetangga Nana menjadi buruk padanya, dari itu ia tak ingin membuat mereka semakin tidak menyukainya.


"Gosip apa?" tanya Adam lagi.


Nana tidak menjawab, kalau sampai Adam tahu itu artinya sama saja ia menuntut lebih akan kejelasannya sebagai seorang istri. Ia tak ingin semua orang menyebutnya sebagai perusak rumah tangga orang, apa lagi dicap sebagai pelakor.


"Sudah, lupakan saja. Mas cukup antar aku pulang ke rumah saja setelah itu Mas pulang."


Susah sekali meyakinkanmu, Na. Aku tidak bisa hidup tanpamu."


Dan akhirnya mereka pun sampai di rumah reot milik Nana. Nana langsung turun dari mobil karena ia tak ingin para tetangga melihatnya. Tapi sayang, tetangga yang sering bergosip melihatnya diantar oleh seorang pria. Terlebih, Adam langsung menyusul dan ikut masuk ke dalam rumah.


"Dasar pelakor, kita harus hati-hati, Bu. Jangan sampai menantu kita jadi incaran Nana." Para tetangga mulai bergosip di depan rumah mereka.

__ADS_1


__ADS_2