
Di rumah sakit.
Nindya baru saja dipindahkan ke ruang rawat, tentunya ruang VIP. Ia baru bisa menggerakkan tubuhnya pasca obat bius yang diberikan padanya setelah operasi tadi. Ia juga tahu kalau orang tuanya tidak bisa datang karena Hanum pun melahirkan. Tidak ada yang memberitahukan soala Hanum padanya, jadi wanita itu mengira kalau Hanum baik-baik saja.
"Mas, aku mau vidio call Hanum. Coba tolong ambilkan handphone-ku," titahnya pada suaminya.
"Ini sudah malam, besok saja ya? Hanum juga sudah istirahat jangan mengganggunya, kasihan dia," jawab Andra.
Maaf, Mas. Mas belum bisa jujur, Mas takut kamu malah kepikiran soal ini. Kamu masih dalam pemulihan.
"Ya sudah kalau begitu, besok saja aku hubungi dia. Oh iya, anaknya benar perempuan?" tanya Nindya.
"Iya, perempuan. Kata ibu nama anaknya Dewi," jawab Andra.
"Dewi? Nama yang bagus, bagaimana kalau nama anak kita Dewa?" usul Nindya, "kita 'kan belum siapkan nama untuknya, Mas." Kata Nindya sambil melihat ke arah box bayi mereka.
"Iya, nama Dewa bagus. Sebaiknya kamu istirahat, tidur yang nyenyak. Mas tidur di sebelah box," tutur Andra.
"Iya, Mas." Nindya pun tidur. Tidak ada yang mengganggu mereka malam ini. Wilian dan Anye pun sudah pulang setelah melihat cucu mereka, dan akan kembali esok pagi.
* * *
Pagi ini, semuanya sudah berkumpul di ruangan VIP. Wiliam juga istrinya sudah hadir, bahkan Roy, Adam, juga istri-istri mereka.
"Anakmu lucu sekali, Nin," kata Nana saat melihat bayi merah yang ada di dalam box, "aku jadi tidak sabar dengan kelahiran anakku," sambungnya lagi.
__ADS_1
"Bentar lagi juga lahir," jawab Nindya, "Mas, mumpung lagi kumpul, aku mau hubungi Hanum."
Ucapan Nindya membuat semua orang yang ada di sana melihat ke arahnya sampai mereka terkejut. Dan Nindya pun melihat ekspresi mereka.
"Kalian kenapa melihatku seperti itu? Aku mau hubungi Hanum, walau jarak jauh membatasi tapi kami selalu dekat, iyakan, Mas?" Andra tahu betul sedekat apa mereka, meski jarang bertemu, tapi istrinya bisa lima kali dalam sehari menelepon Hanum.
"Na, coba tolong ambilkan tasku yang itu." Nindya menunjuk sebuah tas berwarna merah maroon yang berada di dekat tv. Nana pun mengambilnya, ia tak berani mengatakannya secara langsung. Ia takut Nindya kenapa-kenapa setelah mengengar apa yang terjadi pada Hanum.
Nindya mulai menghubungi nomor Hanum, tapi tak dapat tersambung. "Mas, kok nomornya gak aktif sih? Apa dia masih di rumah sakit?" duga Nindya, "tapi dia 'kan melahirkan dengan normal, pasti sudah pulang dari kemarin. Aku hubungi nomor ibu saja."
Semua yang ada di sana hanya bisa memperhatikan Nindya, wanita itu sangat antusias saat akan menghubungi Hanum, mereka sampai tak tega mengatakan apa yang terjadi pada Hanum kepadanya.
"Nyambung, Mas." Wajah Nindya begitu ceria, ia tidak sabar ingin melihat wajah Hanum juga anaknya. "Bu," sapa Nindya lewat panggilan vidio cal, "Ibu habis nangis ya?" tanya Nindya saat melihat mata ibunya sembab. Rahayu tak menjawab, ia hanya tersenyum tipis.
"Bu, aku ke makam Mbak Hanum dulu ya, mau menebarkan air bunga ini," kata Nisa. Dan itu di dengar oleh Nindya.
"Ibu kenapa malah nangis? Hanum kenapa, Bu? Makam yang dimaksud Nisa itu makam siapa?" Nindya begitu penasaran, dan tubuhnya mulai bergetar karena Rahayu tak kunjung menjawab. Tiba-tiba ponselnya mati karena wanita paruh baya itu mematikannya.
"Kok, malah dimatiin sih? Apa yang terjadi? Kalian pasti tahu?" tanya Nindya pada semua orang yang ada di sana, "jawab, Mas!!!" Nindya dibuat kesal karena tak kunjung mendapatkan jawaban. Lalu, Andra memeluknya.
"Yang sabar ya, Hanum sudah tenang di sana. Dia sudah bahagi," kata Andra.
Nindya melepaskan pelukkan suaminya, lalu mendongakkan wajahnya karena posisinya ia tengah duduk di brankar. "Apa maksudmu bicara seperti itu?"
"Ha-hanum ... Hanum sudah meninggal," sahut Nana.
__ADS_1
"Apa? Meninggal?" tanya Nindya tak percaya, "Mas, katakan padaku kalau semua itu bohong! Kemarin saja sebelum aku masuk rumah sakit keadaan Hanum baik-baik saja, kami masih mengobrol lewat telepon. Dia bilang dia bahagia menjadi bagian keluarga kita, Mas. Dan sekarang kalian bilang Hanum meninggal, kalian prank aku 'kan?" Nindya tetap kekeh tak percaya.
"Ini tidak lucu! Jangan buat lelucon seperti ini, aku tidak suka!" ucapnya, namun sembari menangis. Hatinya setengah percaya, karena Nana tak mungkin bicara seperti itu tanpa kebenaran.
"Jangan menagis, Hanum sudah bahagia," tutur Andra. Ia kembali memeluk istrinya agar tetap tenang, "lukamu belum kering, jangan seperti ini." Karena Nindya tak menyadari akan posisinya, ini yang ditakutkan Andra. Nindya tanpa sadar sudah menyakiti dirinya sendiri.
"Hanum, Mas, Hanum ..." Nindya masih tak percaya kalau wanita itu sudah meninggal. Melihat keadaan Nindya menangis histeris membuat mereka ikut menitikkan air mata. Terlebih pada Nana karena ia pun tengah hamil, ia takut bernasib sama seperti Hanum.
Nana menyentuh perutnya yang besar, lalu Adam pun ikut menyentuhnya, seolah memberikan kekuatan pada istrinya. Karena tidak ingin mengganggu, tamu yang berkunjung mengunjungi Nindya pun ikut pamit.
"Nindya, kami permisi dulu ya? Kamu istirahat saja, jangan banyak pikiran. Semua sudah takdir, dan ini sudah takdir Hanum," tutur Nana.
Nindya hanya mengangguk.
* * *
"Mas, aku masih tidak percaya kalau Hanum pergi meninggalkanku," kata Nindya yang sedang memberikan asi pada anaknya.
"Mas juga tidak percaya, nanti kita kepemakamannya. Tapi tunggu kamu pulih dulu."
Nindya memberikan asi sambil melihat poto-potonya bersama Hanum, banyak sekali poto mereka berdua selagi masih sering bertemu saat perut mereka masih kecil. Tak terasa, buliran air mata terjatuh dari pelupuk matanya. Ia ingat betul dengan apa yang mereka lewati bersama saat ia masih sering berkunjung ke rumah orang tuanya. Bahkan Hanum sering tidur bersamanya kala Andra tak ikut bermalam.
Nindya meletakkan ponselnya karena anaknya menangis. Menagis karena terlepas dari asi yang ia berikan.
"Sini, biar Mas yang menidurkannya." Andra meraih anaknya dan merebahkannya di tempat tidurnya, "kamu serius mau memberikan nama Dewa untuknya? Kamu tidak berniat menjodohkan Dewa dengan Dewi besar nantikan?"
__ADS_1
"Kenapa berpikir seperti itu? Biarkan anak-anak kita yang memilih jodohnha, aku tidak mau ikut campur soal pasangan anak-anak. Yang penting dari latar belakang yang baik, sopan, ramah. Pokoknya baik saja, tak jadi masalah meski mencintai orang sederhana sekali pun."
"Dewa dan Dewi pasti berteman sepertimu juga Hanum," kata Andra.