
Dewi menatap tajam, ia tidak suka atas perlakuan Nathan yang seenak jidat. Kemarin menghina, sekarang peluk-peluk, maunya apa pria itu? Dewi kesal sendiri.
"Sakit, Wi," keluh Nathan.
"Siapa suruh peluk-peluk?" Dewi mendelik.
"Maaf," sesal Nathan. Ia begitu antusias saat melihat gadis yang dirundukannya, seakan tidak ingin lagi ditinggalkannya. Cukup dua hari saja ia menderita.
"Awas saja kalau seperti itu lagi!" ancam Dewi. Ia melihat jam di tangan, ia tak ingin terlambat kelas hari ini. Jam pelajaran tak banyak seperti di jam pagi, ia harus menggunakan waktu sebisa mungkin. Tanpa pamit, ia segera pergi karena mengejar waktu.
"Wi, Dewi?" panggil Nathan.
"Biarkan dia pergi, dia mau kuliah," sahut Akhsa.
Sadar akan keberadaan pria itu, Nathan yang sedang kesal kepadanya langsung menghampirinya. "Bagaimana ceritanya kamu bisa bersama dia? Kenapa tidak memberitahu ku? Sengaja mau mimisahkan aku dengan Dewi?" tanya Nathan tanpa jeda.
"Harus aku bilang padamu? Bukan 'kah itu keinginanmu jauh dari Dewi?" Menurut Akhsa seperti itu karena selama ini ia selalu jutek dan selalu menghinanya, padahal di balik itu Akhsa tahu ada perasaan dalam hati Nathan untuk Dewi.
Kedua pria itu bak seperti musuh yang sedang mempertahankan benteng dengan tujuan yang sama. Siapa cepat dia dapat. Sudah terlanjur maju, sehingga Akhsa tidak akan mundur dalam peperangan ini berakhir. Di mana Dewi menetapkan hati dan kepada siapa ia melabuhkan hatinya, disitu ia siap. Siap dalam segala hal, entah sakit atau bahagia ia akan terima dengan lapang dada.
Tidak peduli jika harus bersaing dengan sahabat sendiri. Semuanya sudah terlanjur, terlanjur menghukum Nathan sampai ia sendiri merasa nyaman akan sikap ceria Dewi. Tidak rela jika gadis itu harus kembali tersakiti. Ia akan selalu di depan, menjaga wanita itu sampai Dewi mendapatkan seseorang yang benar-benar bisa menjaganya.
"Aku tidak suka dengan caramu, caramu itu licik!" cetus Nathan.
"Licik dari mana?" tanya Akhsa.
__ADS_1
"Kemarin kamu bilang, siapa pun yang lebih dulu menemukan Dewi maka salah satu di antara kita harus menghubungi. Tapi nyatanya mana? Menerima panggilanku saja kamu tidak menjawab. Dua hari ini kamu menghilang, tahu-tahu sudah bersamanya. Siapa yang tidak kesal? Kalau mau bersaing secara sehat, jangan seperti ini. Kalau mau lebih jelas, kita tanya sama Dewi, siapa yang dia suka. Aku atau kamu?"
"Ok, siapa pun yang Dewi pilih nanti, persahabatan kita harus terjalin seperti biasa. Meski kita bersaing aku tidak ingin persahabatan kita hancur, bagaimana?" tanya Akhsa.
"Ok, aku deal." Nathan mengulurkan tangan, lalu saling berjabatan dengan sahabatnya itu, "Dewi tidak boleh tahu soal ini, aku tidak mau dia salah paham."
"Iya," jawab Akhsa.
"Di mana Dewi tinggal selama ini? Dia tidak satu tempat denganmu 'kan? Kamu tidak macam-macam padanya 'kan?"
"Hilangkan kecurigaanmu itu, itu bisa membuatmu terjerumus sendiri. Dewi wanita baik-baik, semua dugaanmu salah."
"Iya, aku akui aku salah. Makanya beri aku kesempatan untuk dekat dengannya, kamu boleh pulang, biar aku yang menunggu Dewi di sini. Aku tidak akan menikung, jangan ada yang menyatakan cinta sebelum perang dimulai."
"Iya." Jawab Nathan tersenyum kikuk. Betapa bodohnya jika ia teringat akan kecemburuannya yang berlebihan itu. Tunggu, apa ia sadar dengan ucapannya pada temannya? Dengan seperti itu bisa saja ia kehilangan Dewi untuk selama-lamanya bukan?
Nathan tidak tahu seperti apa hubungan Akhsa dengan Dewi. Mereka begitu dekat, terlebih dengan Dewi yang semakin hari semakin nyaman. Lain hal dengannya, Nathan sendiri tidak tahu isi hati Dewi yang sesungguhnya. Ada perasaan atau tidak, ia akan terima itu karena sudah janji pada Akhsa. Siapa pun yang dipilih Dewi mereka harus terima dengan lapang dada.
Bisa saja keduanya bukan jodohnya. Berpikir positif bahwa semua akan baik-baik saja. Perasaan bukan lelucon, mereka harus menjaga rahasia ini rapat-rapat dari gadis itu. Dewi bisa saja marah besar kepada mereka karena secara tidak langsung gadis itu adalah andil utama. Menjadi sebuah rebutan seperti barang, siapa cepat dia dapat.
Jam pelajaran usai. Dewi keluar dari kampus dengan teman-temannya yang lain, hanya beberapa siswa yang ikut pelajaran sore ini. Sebagiannya pagi tadi. Dewi pun akhirnya memiliki teman baru karena jam pelajaran yang diikutinya berbeda dengan Sisil si gadis berkacamata tebal itu.
Nathan menunggu kehadiran gadis itu, menatap satu persatu siswa yang keluar. Takut Dewi tidak tahu akan keberadaannya karena gadis itu memang tidak tahu bahwa ia menunggunya. Dan benar saja, gadis itu terus berjalan melewati mobil yang terparkir di sisi jalan. Entah tidak melihat atau berpura-pura. Dewi berjalan tanpa menoleh.
Sampai pada akhirnya, langkahnya terhenti karena sebuah cekalan menggenggam tangannya. Dewi menoleh ke arah tangannya, merambat sampai pada si pemilik raga. Keduanya saling bertatap, kemudian, Dewi melepaskan cekalan itu. Terlepaslah. Nathan tak berekspresi, terlalu terkejut saat Dewi melepaskan tangannya begitu saja.
__ADS_1
Marah, kesal, kecewa. Semua berkecamuk dalam dada. Lebih tepatnya terasa sesak jika teringat akan segala tuduhannya. Tidak tahu apa tujuannya datang kemari. Jika hanya ingin melukai, Dewi lebih memilih untuk tidak bertemu. Untuk selamanya pun tidak apa-apa.
"Maaf, aku tidak bermaksud," ucap Nathan.
Tidak ada suara dari gadis itu, Dewi terpaku. Pikiran yang berkelana akhirnya buyar saat mendengar teman-temannya yang lain.
"Wi, kita duluan." Dewi menoleh ke sumber suara, yang di mana ada teman-teman barunya yang ia kenal saat mengikuti jam pelajaran.
"Ah, iya." Jawab Dewi sembari tersenyum. Senyum yang dapat dilihat secara dekat oleh Nathan. Sebuah senyuman yang membuatnya mabuk kepayang. Andai tidak ada kesepakatan dengan sahabatnya, mungkin saat ini juga ia akan menyatakan perasaannya.
Siapa cepat dia dapat. Tidak akan mengulur waktu, tidak akan memberi cela kepada musuh. Musuh yang ia anggap teman sekaligus saudara. Sayang, semua janji sudah terucap. Nathan bukan tipikal orang yang suka berkhianat. Ia akan bersaing secara sehat. Keputusan sudah mutlak.
Sebagai lelaki gentel, ia harus mengikuti aturan permainan yang sudah disepakati.
"Aku antar pulang, ini sudah malam." Tiba-tiba, nada itu terdengar lembut. Tidak ada sikap dingin dan ketus, Dewi terdiam sesaat. Tak percaya dengan apa yang telah terjadi barusan.
Matanya beberapa kali berkedip, mencoba percaya tapi ragu. Kenapa dengan pria ini? Apa ini nyata? Sikap dingin dan ketus itu kemana? Kenapa mendadak lembut?
Ingin bertanya tapi tertahan, mencoba percaya tapi tetap saja tidak. Saking tidak percayanya, ia meminta pada pria di hadapannya itu mencubitnya.
"Sakit," keluh Dewi.
"Tadi suruh cubit." Nathan berbunga-bunga dengan sikap Dewi. Menurutnya itu sudah ada perubahan. Andai perjanjian itu tidak ada, mungkin ia sudah mengutarakan niatannya.
Jangan berkhianat, Nathan. Bersainglah secara sehat. Yakin bahwa Dewi jodohmu, dia juga mencintaimu.
__ADS_1