Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 107


__ADS_3

"Akhsa terbiasa seperti itu, kamu jangan terlalu khawatir," jelas Adam, "kamu ambil paracetamol yang ada di laci kamarku, itu obat Akhsa," titahnya.


Dengan cepat, Nana langsung pergi ke kamar dan mengambil obat itu. Saat mengambilnya, ia melihat sebuah poto yang terselip di sana. Karena penasaran ia pun mengambilnya, terlihat Adam dan seorang wanita di sana.


"Oh, jadi ini istrinya Mas Adam." Nana tak banyak berpikir akan siapa wanita yang ada dalam poto itu, siapa lagi kalau bukan istrinya, "pantas Mas Adam tidak bisa move on, ternyata istrinya cantik. Kalau dibandingkan denganku jauh sekali." Nana menepuk kepalanya sendiri, kenapa ia malah membandingkan dirinya dengan istri Adam? Ada apa dengan dirinya?


Nana kembali ke dapur, menyiapkan obat untuk Akhsa. Bayi itu masih ada dalam gendongannya, dan Adam melihat Nana kerepotan. Ia pun menghampiri dan mengambil alih Akhsa dari gendongan sang pengasuh.


"Sini, Mas yang gendong Akhsa."


Nana membuka tali gendongannya terlebih dulu, tapi ia sedikit kesusahan.


"Mas, coba tolong bukain talinya." Pinta Nana sambil membalikkan tubuhnya. Ternyata rambut Nana terbelit pada tali gendongan itu, mau tak mau, Adam menyentuh rambut gadis itu. Bahkan tangannya mengenai kulit leher Nana.


Adam malah merasakan jantungnya berdebar dengan sangat cepat. Leher jenjang Nana sangat mulus dan putih, ia malah menatapnya fokus ke lehernya.


"Mas, cepat buka!" pinta Nana.


Suara Nana membuyarkan lamunan Adam, dan ia mulai membuka tali itu, merapikan rambut Nana yang kusut.


"Sudah," ucap Adam setelah tali itu terbuka dengan sempurna. Akhsa pun mulai ia gendong dan membiarkan Nana dengan aktivitas-nya.


Dengan sangat hati-hati, Nana memberikan obat itu pada Akhsa. Dan anehnya, bayi itu tidak menangis saat diberi obat.


"Akhsa anteng ya sama kamu? Aku sering kewalahan saat memberikannya obat," kata Adam.


"Ada caranya memberikan obat pada bayi, Mas-nya aja yang gak tahu," jawab Nana, "Akhsa sering sakit?" tanyanya kemudian.


"Iya, dia lahir prematur. Jadi gampang sakit," terang Adam.


"Emang gitu kalau bayi lahir prematur? Kok, aku baru tahu. Di kampung banyak yang lahir prematur, Mas. Tapi mereka sehat-sehat saja tuh."


"Mungkin asi yang diberikan pada bayi itu, kalau Akhsa 'kan susu formula. Asi jauh lebih bagus, Na."

__ADS_1


Nana hanya manggut-manggut saat mendengar penuturan Adam.


"Kenapa gak coba memberinya asi?" tanya Nana, "Banyak kok sekarang yang menjual asi."


"Akunya yang gak mau, Na. Aku gak mau menerima asi sembarangan dari orang, apa lagi tanpa tahu siapa orangnya."


"Iya juga sih, takutnya malah berpenyakit ya, Mas."


Akhirnya memberikan obat untuk Akhsa sudah selesai, dan hari pun semakin larut. Karena Akhsa sedikit demam, Nana menyarankan Akhsa untuk tidur bersamanya. Takut sewaktu-waktu malam terbangun, dan ia malah repot kalau harus ke kamar papa-nya Akhsa.


"Tidak apa-apakan kalau Akhsa tidur bersamaku?"


"Apa tidak terlalu merepotkanmu?" tanya Adam.


"Mas ini aneh-aneh saja, 'kan ini memang tugasku. Akhsa juga tanggung jawabku, Mas."


"Baiklah, untuk malam ini saja ya? Aku sudah terbiasa tidur bersamanya, aku pasti merasa kehilangan kalau tidak ada Akhsa di sisiku."


💞


Tidak bisa tidur kalau tidak ada Akhsa, ia pun beranjak dari tempatnya. Ia memilih untuk melihat anaknya terlebih dulu, semoga dengan begitu ia dapat tidur dengan nyenyak.


Klek, pintu dibuka olehnya, dan ia langsung masuk. Adam tersenyum saat melihat Nana mendekap Akhsa, gadis itu memang sangat baik. Tak sia-sia ia menerima Nana jadi pengasuh anaknya.


Adam membenarkan selimut yang digunakan Akhsa, lalu beralih ke selimut yang dikenakan Nana. Menariknya sampai batas bahu. Lalu mengelus pipi anaknya dan menciumnya. Tanpa sadar, ia malah ikut merebahkan diri di samping Akhsa. Niatnya hanya sebentar, tapi malah kebablasan sampai esok hari.


Semalaman, Akhsa tidak rewel. Bayi itu seolah mendapatkan kehangatan dari orang tuanya. Nana mau Adam, mereka masih tertidur dalam satu ranjang yang sama. Bahkan kedua tangan mereka memeluk bayi itu, tangan mereka saling bersentuhan saat memeluk Akhsa.


Waktu menunjukkan pukul 6 pagi, karena Nana memang sengaja memasang alarm jam 6. Ia sedang libur shalat karena sedang mendapatkan datang bulan. Suara alarm terus berbunyi, Nana pun akhirnya terbangun. Gadis itu sedikit mere*mas tangan yang menyentuhnya, ia kira itu tangan Akhsa.


Tapi ada yang beda dari tangan tersebut, jari itu bahkan lebih besar dari jarinya. Seketika Nana langsung beranjak dan membuka matanya, betapa terkejutnya ia melihat Adam tidur bersamanya.


"Mas, kamu kenapa tidur di sini?" tanya Nana.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Adam malah menggeliat. Ia terlalu lelap dari tidurnya.


"Mas, bangun Mas. Ini sudah pagi, kamu gak ngantor?" kata Nana lagi.


Adam membuka mata, lalu melihat langit-langit kamar. Saat menyadari akan keberadaannya, ia langsung terbangun dan melihat ke arah Nana.


"Maaf, Na. Aku ketiduran, aku tidak bermaksud tidur di sini. Semalam gak bisa tidur, niat ke sini cuma mau liat Akhsa saja tapi malah ketiduran," jelas Adam.


"Iya, gak apa-apa. Lagian ada Akhsa sebagai pembatas kita tidur."


Nana pun beranjak dari tempat tidurnya, saat itu juga Adam melihat bercak darah di sprai.


"Itu darah apa, Na?" tanya Adam.


Wajah Nana langsung merah karena malu, itu adalah darah menstruasi-nya. Bagaimana ini? Rasanya, Nana ingin mengumpat ke lobang semut.


"Maaf, Mas. Aku lagi datang bulan."


"Oh," Adam pun mengerti.


Tanpa menunggu lama lagi, Nana buru-buru ke kamar mandi niatnya untuk mengganti pembalut. Setibanya di sana, pembalut itu tidak ada. Lupa kalau stok sudah habis.


"Bagaimana ini? Aku tidak mungkin keluar dalam keadaan tidak memakai pembalut. Aku coba cari dulu lah, semoga aja masih ada."


Nana kembali ke kamar, membuka isi tas termasuk lemari pakaiannya. Tapi hasilnya nihil.


"Kamu cari apa, Na?" tanya Adam.


Kenapa dia masih ada di sini? Nana membalikkan tubuh. "Mas belum keluar?"


"Belum, karena hari ini ke kantor agak siang. Soalnya mau meninjau lokasi saja. Kamu cari apa?"


"Pembalut, tapi tidak ada. Sepertinya aku kehabisan stocke."

__ADS_1


Nana mulai berpikir, tidak ada orang lain lagi selain Adam yang dimintai tolong.


"Mas, boleh aku minta tolong?" Nana memasang wajah melas agar Adam mau menolongnya


__ADS_2