
Di sinilah Dewi berada, duduk di taman ditemani oleh Akhsa. Pria penyayang nan lembut saat memperlakukan wanita. Soal kejadian semalam, ia tak tahu musibah itu akan datang menerpa Dewi. Seorang gadis yang sempat ditolaknya namun tetap saja mengejarnya. Tak terima saat melihatnya bersama wanita lain.
Akhsa tersenyum saat melihat Dewi makan dengan lahapnya. Seolah tak memiliki benan hidup di dalamnya. Dewi menyadari bahwa pria di sampingnya terus memperhatikannya.
"Kakak mau?" tawar Dewi. Akhsa menggelengkan kepala, terus melihat bukan berarti ia mau akan makanan itu. Tanpa sadar, ia menyentuh sudut bibir Dewi yang menyisakan makanan.
Dewi yang pertama-kali mendapatkan perlakuan itu terdiam. Bagai patung. Bahkan untuk bernapas pun terasa sesak, jantungnya berdebar tak beraturan.
"Ada sisa makanan," ucap Akhsa, "ayo lanjutkan makanmu, ini sudah malam. Kamu tinggal di mana sekarang?" Belum Dewi menjawab, ponsel miliknya berdering. Akhsa tak menjawab, melainkan ia langsung mematikannya. Sengaja melakukan itu karena tak ingin membuat mood Dewi kembali kacau.
Ia yakin kalau kepergiannya bukan karenanya, semua ini pasti disebabkan oleh sikap Nathan yang berlebihan menilai Dewi.
"Kenapa tidak diangkat? Siapa tahu penting," ucap Dewi.
"Tidak penting, hanya teman biasa," jawab Akhsa
Dewi merasa nyaman di dekat Akhsa, tapi ingat akan kejadian semalam. Ia pun memberanikan diri menanyakan soal perempuan tadi malam yang sudah menyiramnya tanpa perasaan.
"Apa wanita semalam itu pacar, Kakak?"
"Bukan, maka dari itu aku mau minta maaf padamu. Aku tidak punya pacar, masih mencari yang benar-benar cocok. Cantik itu relatif, aku mau mencari gadis yang sederhana," jawab Akhsa.
"Tapi, kayaknya wanita itu suka sama Kakak. Kenapa tidak mencobanya?"
"Kamu pikir baju harus dicoba?" Akhsa geleng-geleng kepala dibuatnya, "kamu sendiri belum punya pacar, Wi. Kenapa?"
"Belum siap, tujuanku ke sini hanya satu. Kuliah, mengejar cita-cita jadi disainer terkenal. Membuat bangga ibu, ibu Rahayu maksudku." Jawabnya sambil nyengir memperlihatkan gigi putihnya yang berjejer rapi.
"Kamu sayang sama nenek-nya Nathan?" Dewi mengangguk, bukan sayang lagi. Ia sangat menyayanginya karena wanita itu ia sampai berada di titik ini. Memberikannya hidup layak, selalu menjadi dewa penolongnya. Rahayu melebihi apa pun, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata rasa sayangnya itu.
Hingga Dewi pun menyelesaikan makannya. Akhsa mulai menanyakan di mana Dewi tinggal.
"Sudah malam, aku antar kamu pulang. Di mana tempat tinggalmu sekarang?"
"Tidak usah diantar, tempat tinggalku tidak jauh dari sini. Kakak jangan bilang siapa-siapa aku tinggal di daerah sini, termasuk kak Nathan."
__ADS_1
"Kenapa dia tidak boleh tahu? Mungkin saja dia khawatir karena kamu pergi tanpa pamit padanya."
Dewi langsung tertawa. "Khawatir? Mana mungkin, dia 'kan membenciku, Kak. Bahkan selalu menghinaku, aku tidak tahu kenapa dia sampai membenciku. Seingatku, aku tidak pernah ada masalah dengannya. Dulu, saat masih sering bertemu, aku sempat dekat. Semenjak dia kuliah di luar negri terus kembali, sikapnya berubah."
"Dekat? Maksudnya dekat?"
"Hanya dekat biasa, curhat-curhat gitu. Terakhir dia curhat, dia bilang sedang suka sama seseorang. Belum tahu siapa orang itu, dia keburu kuliah. Pergi tanpa memberitahuku."
"Kalau yang disukai Nathan itu ternyata kamu bagaimana?"
Lagi-lagi Dewi tertawa. "Sudah ah, jangan membahas masalah itu."
"Kenapa? Apa kamu membencinya?"
"Tidak, aku tidak membenci siapa pun. Aku menerima takdirku apa adanya, dia selalu menghinaku karena latar belakangku. Jangankan jadi wanita penggoda, dekat sama pria pun aku belum pernah. Sepertinya pacaran hanya membuat pusing saja, iya gak?"
"Gak tahu, aku juga belum pernah pacaran."
"Masa ...?? Gak percaya, masa pria setampanmu tidak punya pacar?"
"Emang aku tampan?"
"Sudah malam, sebaiknya kamu pulang," titah Akhsa.
"Iya, aku pulang. Oh iya, boleh aku minta tolong," pinta Dewi.
"Apa?"
"Carikan aku pekerjaan, pekerjaan apa saja. Kalau bisa paruh waktu."
"Untuk apa kerja? Bukannya hidupmu sudah ditanggung Aunty Nindya?"
"Aku tidak mau bergantung pada mereka, mereka terlalu baik. Aku sudah besar, waktunya aku hidup mandiri."
"Anak pintar." Akhsa meyentuh kepala Dewi dengan cara mengacak rambutnya dengan gemas. Ia merasa bangga mengenal gadis sepertinya, sayang sekali jika Nathan menyia-nyiakannya.
__ADS_1
Dewi benar-benar nyaman berada di dekat Akhsa, padahal sudah lama tidak bertemu. Dan ini kedua-kalinya mereka bertemu kembali. Akhsa mengantar Dewi sampai gedung apartemen.
"Oh, jadi kamu tinggal di sini sekarang?"
"Iya, ini apartemen milik Aunty. Tidak ada pilihan lain, lagi-lagi aku merepotkannya."
"Aku tidak di ajak mampir?" tanya Akhsa basa-basi.
"Tidak boleh, ini sudah malam. Tidak baik menerima tamu laki-laki, apa lagi aku tinggal sendiri."
"Ok, nanti aku mampir ajak Nadien."
"Siapa Nadien? Pacar?"
"Bukan, dia adikku satu-satunya."
"Aku kira pacar Kak Akhsa."
"Ya sudah sana, kamu masuk. Langsung tidur, jangan memikirkan masalah yang membuatmu sakit hati. Apa lagi sampai mikirin Nathan."
"Apaan sih, siapa juga yang mikirin dia."
Pertemuan mereka berakhir. Dewi langsung masuk dan mengunci pintu. Perasaannya sedikit lega setelah mencurahkan semuanya pada Akhsa. Ia tak menyangka akan terbuka pada lelaki itu. Malam ini, ia dapat tidur nyenyak karena mulai malam ini tidak ada lagi yang membuatnya merasa tertekan.
Yang ia pikirkan sekarang, besok ia harus mencari kerja. Untuk kuliah, ia belum bisa karena pekerjaan nomor satu. Ia harus hidup mandiri mulai saat ini.
* * *
Rasa kantuk belum dirasa, ia malah penasaran akan sosok Akhsa. Ia mencari info tentangnya lewat media sosial miliknya yang memang sudah lama berteman. Mulai mengetik namanya, hingga muncul foto profil-nya. Terus membuka foto-fotonya, hingga terpangpang foto Nathan bersama Akhsa. Kedua pria itu sama tampannya. Tapi rasa sikap dan empati yang amat jauh sehingga Dewi mulai malas saat melihat wajah pria yang selalu menghinanya itu.
Memilih mematikan ponsel, tapi sebelumnya ada dua pesan masuk. Ia membukanya satu persatu. Pertama pesan dari Akhsa ia baca.
"Langsung istirahat, besok jangan bolos kuliah." Dewi hanya tersenyum menanggapi perhatian kecil dari Akhsa.
Lalu ia membuka pesan berikutnya.
__ADS_1
"Tadi ada pria jahat itu mencarimu ke kampus." Pesan itu yang ia baca dari Sisil.
"Pria jahat?" Dewi jadi kepikiran, siapa yang dimaksud pria jahat? "Apa mungkin kak Nathan?" Tidak mau ambil pusing, Dewi mengabaikan pesan itu karena ia tak ingin membahas pria jahat itu. Ia akan tidur nyenyak malam ini, istirahat untuk mengawali hari esok.