Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 119 Tidak Akan Membiarkan Mimpi Buruk Menjadi Nyata


__ADS_3

Setelah membersihkan tubuhnya, Adam segera menyusul Nana di ruang makan. Wanita itu tengah menunggunya, dan kali ini ia tak ingin mengecewakannya lagi setelah kejadian yang menimpanya hari ini.


"Mas, duduk." Nana menarik kursi dan mempersilakan suaminya untuk duduk. Ini masakan pertama yang ia buat setelah menikah.


"Bagaimana?" Tanya Nana soal rasa makanan yang ia buat penuh dengan cinta.


"Enak, apa pun yang kamu masak selalu enak dan pas sesuai di lidahku."


Nana terlihat kurang puas dengan pengakuan suaminya, itu terbilang standar dan itu sering ia dengar selagi belum menjadi istrinya. Adam melirik ke arah Nana, istrinya sedang mengambil makanan dan meletakkannya di atas piring. Namun dengan cepat Adam mengambil piring itu.


"Biar Mas suapi." Adam tak ingin membuat istrinya sedih, sebetulnya ia sadar dengan pengakuannya yang seperti biasa saat ditanya soal masakannya. Harusnya kali ini berbeda, karena status Nana sudah menjadi istrinya.


Nana langsung tersenyum, bahkan suaminya terlihat manis dan romantis. Padahal, sejak pagi tadi ia sudah sangat khawatir dengan perubahan suaminya yang mendadak seperti tidak peduli padanya.


Sedang asyik suap-suapan, Akhsa datang sambil merengek. Bocah itu terbangun dari tidurnya. Nana yang melihat langsung menghampiri anak itu dan menggendongnya.


"Kenapa nangis, hmm?" tanya Nana.


Bukannya menjawab, Akhsa semakin terisak sambil memeluknya dengan dagu yang bersandar di bahu sang mama. Tulus kasih ibu, Akhsa dapatkan dari Nana, bukan dari ibu kandung yang ia belum tahu akan keberadaannya.


Nana tak mengajak Akhsa duduk di kursi meja makan, ia malah pergi ke ruang tamu untuk menenangkan anaknya itu. Padahal, Nana belum selesai makan dan ia mengenyampingkan rasa laparnya. Tak lama dari situ, Adam menyusul.


"Akhsa kenapa? Papa denger nangis terus?" tanya Adam, "sini, biar aku yang gendong. Akhsa berat." Adam mengambil alih anaknya dari pangkuan Nana, "kamu selesaikan makanmu, biar Akhsa aku yang menenangkannya."


"Tapi kamu juga belum selesai, Mas."


"Gak apa-apa, kamu saja dulu."

__ADS_1


Nana pun kembali ke ruang makan dan menyelesaikan makanannya dan setelah itu membereskannya terlebih dulu sebelum menemui suaminya.


Di ruang tamu, Adam terus menggendong Akhsa. Bocah itu nampak ketakutan. "Kamu mimpi?" tanya Adam. Akhsa mengangguk cepat.


"Mimpi apa sampai kamu menangis? Apa itu menakutkan?"


"Iya, aku mimpi Mama pergi meninggalkanku juga Papa. Aku takut, kalau Mama pergi itu artinya aku tidak punya Mama lagi," jawab Akhsa yang masih berada di pangkuan papa-nya.


"Itu hanya bunga tidur, Akhsa pasti tidak baca doa sebelum tidur, ya 'kan?"


"Baca, kok! 'Kan Mama yang selalu mengajarkanku, Papa mana pernah mengajarkanku!"


Adam jadi malu sendiri, karena selama ini memang Nana yang mengurus Akhsa. Dari belajar ngaji sampai mengerjakan PR sekali pun. Sikap Nana melebihi ibu sambung, dan itu yang membuat Adam jatuh hati padanya. Tidak pernah terbayangkan kalau Nana akan pergi meninggalkannya juga Akhsa.


Tidak! Mimpi itu tidak akan pernah terjadi! Aku tidak akan membiarkan mimpi itu menjadi nyata! Nana istriku, dan selamanya akan menjadi istriku.


"Mas, bawa Akhsa ke kamar. Aku mau menidurkannya lagi," pinta Nana.


Dengan senang hati, Adam menuruti keinginan istri tercintanya. Setibanya di kamar, Adam merebahkan tubuh Akhsa.


"Aku ke ruang kerja dulu, kamu tidurkan saja Akhsa," terang Adam.


"Iya, Mas. Jangan terlalu lama, kamu juga harus istirahat." Adam mengangguk, sebelum pergi ia mengacak rambut anaknya sambil menciumnya dengan gemas. Tak lupa mencium pucuk rambut Nana.


Kini hanya menyisakan Nana dan Akhsa. "Tidur ya?" Nana menarik selimut untuk menutupi tubuh Akhsa sampai batas dada, lalu ia ikut merebahkan tubuhnya di samping anaknya dengan posisi memiring menghadap Akhsa.


Ia menepuk-nepuk paha Akhsa dengan sangat lembut, agar anaknya itu cepat terlelap. Beberapa menit kemudian, bukan cuma Akhsa yang tertidur. Nana pun ikut tertidur karena malam memang sudah larut.

__ADS_1


Sementara Adam, ia sedang mengerjakan pekerjaan yang dikirim oleh Andra lewat email. Karena seharian tadi ia tidak bekerja karena sibuk di rumah sakit. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 02.00. Adam melirik jam di dinding, lalu ia menyudahi pekerjaannya.


Ia beranjak dari posisinya, ingat kalau istrinya berada di kamar Akhsa, ia pun segera ke sana. Saat membuka pintu, ia melihat orang yang dicintainya tengah tidur dengan pulas. Ia juga ikut duduk di samping Nana. Menatap wajahnya sambil membelai pipinya.


Si pemilik raga sampai terjaga dari tidurnya. "Sudah selesai, Mas?" tanya Nana soal pekerjaan.


"Sudah."


Nana hendak beranjak, tapi Adam langsung meraih tubuh istrinya. Membawanya dengan cara menggendongnya ala bridal style. Nana juga mengalungkan tangannya di leher suaminya. Setibanya di kamar, Adam merebahkan tubuh Nana dengan sangat pelan. Tatapan mereka terus beradu.


Adam naik ke tempat tidur, lalu mematikan lampu tidur yang ada di atas nakas. Ruangan tak begitu gelap, karena cahaya remang-remang dari lampu luar cukup memberi terang. Perlahan, Adam merayap, merangkak di atas tubuh istrinya. Menyibak anak rambut yang menutupi wajah Nana, lalu menyelipkannya di telinga.


Perlahan, ia memajukan wajahnya sampai kedua bibir itu kini saling menempel. Ingin menjadi istri yang berbakti pada suami, ia tak akan menolak meski keadaan sudah sangat mengantuk. Hanya dengan cara ini yang bisa dilakukan oleh Nana. Memberi rasa nyaman pada suami, mencintai, dan menyayanginya sepenuh hati.


Menghilangkan rasa ketakutan di dirinya karena Nana pun sadar, mungkin saja istri pertama akan kembali. Siap atau tidak, ia harus menerima kenyataan bahwa ia orang ketiga dalam rumah tangga suaminya.


Percintaan dimulai. Adam memberikan sentuhan dengan sangat lembut, hingga memberikan kenikmatan tersendiri bagi Nana. Entah sejak kapan mereka membuka pakaiannya, hingga keduanya sudah sama-sama polos.


Sejenak, Adam melupakan soal Aileen. Ia tak ingin momen indah ini terganggu. Cukup egois memang, tapi inilah sosok lelaki. Ia akan lupa dengan persoalan yang menimpanya, sesulit apa pun itu. Ranjang tempat rilex bagi semua lelaki.


Keduanya memang saling menginginkan, terlebih Nana memang mencintai lebih awal dari Adam. Mereka sudah mandi keringat, Adam tak melepaskan pelepasan begitu saja, ia ingin memuaskan Nana. Meski wanita itu sudah bergetar beberapa kali.


"Ah, Mas ... Aku sudah tidak kuat," ucapnya lemas.


Adam mempercepat tempo pergerakannya. Ia pun sudah merasa lemas, hingga akhirnya ia pun ambruk karena sudah mencapai puncaknya. Untuk kedua kalinya, malam ini ia berhasil menanamkan benih di tubuh istrinya.


Tanpa sadar, kehidupan sesungguhnya akan ia hadapi hari esok. Memiliki dua istri tentu tak akan mudah untuk dijalani, apa lagi dengan cara membohongi.

__ADS_1


__ADS_2