
Di kampus.
Pagi-pagi, Nathan sudah berada di kampus di mana Dewi meraih pendidikkan. Nathan berharap bertemu dengan gadis itu pagi ini. Ia yakin kalau Dewi tidak akan bolos kuliah.
Satu jam berlalu, sosok yang ditunggu kian tak menampakkan diri. Bahkan siswa sudah mulai masuk area kampus karena ini sudah tepat pada jam tujuh. Gadis berkacamata pun tidak nampak. Tak ada yang ia kenal selain Dewa. Sang adik pun tengah merajuk kepadanya, bukan cuma Dewa, seisi rumah mendiamkannya terlebih dengan ibunya.
Tidak ada yang memberitahukan akan keberadaan Dewi, ia sendiri yakin kalau orang tuanya pasti tahu di mana gadis itu berada. Dua jam berlalu. Rasanya sia-sia, menunggu sampai seharian pun tidak akan bertemu karena Dewi memang tidak masuk kuliah hari ini.
Nathan kembali masuk ke dalam mobil, ia lanjutkan pencarian di luar kampus. Entah akan kemana tujuannya pergi, ia hanya mengandalkan apa yang ada dalam isi hatinya. Serasa tak tentu arah, kehilangan sosok yang dibenci tapi mampu membuatnya rindu.
Hanya penyesalan yang ada dalam benaknya, berharap bertemu untuk meminta maaf apa yang telah terjadi. Terus menelusuri jalan, pandangan ia fokuskan berkendara sambil mencari di mana gadis itu berada. Entah nyata atau hanya ilusi, ia melihat gadis yang sama persisi dengan Dewi.
Ia pun buru-buru menepikan mobilnya, dan segera turun dari mobil. Menghampiri gadis yang tengah berdiri di halte bus. Sayang, sepertinya ia salah orang. Saat tiba di belakang gadis itu, lalu meraih bahunya. Saat wanita itu berbalik, bukan Dewi yang ia lihat. Tapi orang lain, padahal ia yakin kalau yang dilihatnya benar Dewi.
"Maaf, Mbak. Saya salah orang." Ucap Nathan tersenyum malu.
Gadis itu tak menjawab, karena saling berdesakan dengan penumpang yang akan naik ke dalam bus tersebut.
Wajah lesu langsung nampak, ia tak tahu harus kemana mencari. Sedangkan yang dicari tengah duduk di sebuah mini bus, sambil membawa selembar kartas yang ia bawa. Sebuah info lowongan kerja meski hanya menjadi seorang OB di kantor swasta. Ia berharap lowongan kerja masih ada, dan menjadi rezekinya.
Orang yang dilihat Nathan benar adanya, ia tak salah orang. Itu memang benar Dewi, tapi saat ia sampai di halte, Dewi lebih dulu masuk dan bus yang ditumpanginya memang sudah melaju. Nathan terlambat menghampiri bus tersebut, karena butuh waktu untuk menyebrang jalan.
* * *
Dewi baru sampai di kantor swasta tersebut, ia melihat gedung itu cukup besar. Saat ia sampai di sana, ada sebuah mobil masuk ke area kantor tersebut.
__ADS_1
"Siang, Pak Doni," sapa security.
Dewi yang mendengar tertegun, nama orang itu sama dengan nama yang tertulis di sebuah surat yang sudah ia baca, yang ia dapatkan dari ibu Rahayu. Sayang, ia tak tahu wajah ayahnya karena foto yang terselip di surat itu hilang entah kemana, hilang sebelum surat itu sampai di tangannya.
Setelah orang itu pergi, Dewi menghampiri pos security. Ia menanyakan akan info lowongan kerja yang ia dapat dari lembaran kertas yang terpasang di dinding.
"Siang, Pak? Mau tanya, apa lowongan kerja masih ada? Saya ada info lewat ini." Dewi memperlihatkan selembar kertas yang ia bawa.
"Ada, Mbak. Mbak bisa datang besok, kalau mau saya tutup lowongan kerjanya," jawab security.
"Iya, Pak. Saya mau, saya kembali besok," kata Dewi senang. Ia senang karena datang kesini tak sia-sia, rezeki masih berpihak kepadanya. Untuk saat ini ia akan kembali pulang untuk menyiapkan berkas lamaran kerja untuk besok.
"Saya permisi, Pak. Besok saya akan kembali, jangan ada yang menggantikan saya ya, Pak? Saya butuh pekerjaan ini." Dewi begitu memohon, karena ia rasa pekerjaan ini cocok untuknya, karena menjadi OB di sana ada bagian shif satu dan dua. Selebihnya ia bisa membagi waktu antara kerja dan kuliah.
* * *
Nala, Dewa, juga sang daddy tidak menyapanya. Padalah ketiga orang itu sedang duduk santai di ruang keluarga. Menikmati acara televisi sore ini. Semuanya acuh terhadapnya. Biasanyaa sore hari, semua kumpul di ruang TV, termasuk Dewi selagi masih ada di sana. Kalau sudah tiada baru terasa.
Nathan melempar tubuhnya di tempat tidur, hari ini ia benar-benar lelah. Seharian mencari Dewi tapi tak ada hasil. Bahkan Akhsa pun susah ia hubungi. Lagi-lagi, ia uring-uringan tidak jelas. Menelusupkan kepala di bawah bantal, tiba-tiba kepalanya mendadak sakit.
Di ruang tv.
"Nathan sudah pulang?" tanya Nindya pada suaminya.
"Sudah, baru saja dia masuk kamar," jawab Andra.
__ADS_1
"Tapi kasian juga dia, Mom. Kayanya frustrasi deh," timpal Nala.
"Iya, aku jadi tidak tega" sahut Dewa.
"Ini pelajaran untuknya, biarkan dia belajar menghargai seseorang. Biarkan dia mengakui perasaannya, siapa suruh punya pemikiran jelek terhadap Dewi? Mommy saja kesal sama dia, apa lagi dengan Dewi sendiri yang mengalaminya."
Nathan tertidur dengan sendirinya, masih dengan pakaian lengkap setelan kerja. Ia benar-benar lelah, saat tertidur entah mengapa ia merasa ada yang membuka sepatunya.
Ia langsung terbangun, dilihatnya Dewi tengah membuka sepatunya.
"Hai, Kak? Maaf, aku disuruh Mommy untuk mebangunkanmu. Tapi aku lihat Kakak tidur, Kakak marah gak aku masuk ke sini?" tanya sedikit ragu.
Nathan tidak marah, justru ia senang kini Dewi telah kembali. Ia langsung saja beranjak dari tempatnya, tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Ia tak akan mengulangi kesalahan yang sama, yang di mana membuat Dewi pergi meninggalkannya.
"Terima kasih, terima kasih kamu sudah kembali. Maafkan aku, aku janji tidak akan menyakitimu dengan ucapanku. Aku sangat kehilanganmu, maafkan aku." Nathan menciumnya bertubi-tubi sampai orang itu kewalahan.
"Lepaskan! Kakak itu kenapa? Mimpi? Aku bukan Dewi, tapi aku Dewa. Dasar gila!"
Mimpi? Apa benar aku mimpi? Ia membuka mata lebar-lebar. Betapa terkejutnya saat membuka mata, dengan reflek, ia mendorong tubuh yang tengah ada di pelukkannya.
"Sedang apa kamu di sini, hah?"
"Aku tadi sudah bilang, disuruh mommy. Kakak kehilangan Dewi ternyata, gimana rasanya? Sakit? Apa lagi dengan Dewi, aku yakin dia tidak akan kembali. Dia pergi karena marah padamu."
Nathan semakin ketakutan, bagaimana kalau sampai itu benar terjadi? Dewi tidak akan kembali padanya.
__ADS_1
"Benci tapi Kakak rindu, itu artinya Kakak suka sama Dewi. Tapi apa Kakak yakin kalau dia juga suka sama Kakak?"