Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 66


__ADS_3

Di dalam mobil, Elena mengibaskan rambutnya yang basah karena terkena air hujan saat menunggu suaminya datang.


"Kamu masih mengharapkannya?" tanya Roy tiba-tiba.


"Mengharapkan apa?" Elena menghentikan aktivitasnya, tak mengerti.


"Pria tadi."


Elena tak menjawab, sedikit pun ia tak memikirkan dokter Alan lagi setelah ia tahu hubungannya dengan suster Mira. Ia memang suka pada dokter Alan, tapi itu dulu. Sekarang ia mencoba melupakan laki-laki itu, apa lagi sekarang ia sudah menjadi seorang istri.


"Kenapa diam? Apa pertanyaanku ada yang salah?"


"Iya, kamu bertanya pada seorang wanita yang sudah memiliki suami. Apa harus kita membahas orang lain?"


Elena tak ingin ada orang ketiga dalam rumah tangganya. Meski ia sendiri belum memiliki rasa pada suaminya itu, ia ingin menjalani hidupnya seperti air mengalir. Bersikap dewasa tak perlu ungkupan cinta seperti ABG pada umumnya. Cukup bukti dan perlakuan, karena itu lebih nyata.


Ia juga tak akan pernah bertanya, apa suaminya itu cinta padanya? Itu semua hanya akan menjadi masalah jika jawabannya tak sesuai ekspektasinya. Ia tak ingin kecewa untuk kesekian kalinya.


"Bukan begitu maksudku, aku tidak ingin membuatmu tertekan dengan pernikahan ini. Aku tahu siapa yang ada dalam hatimu."


"Siapa?"


"Dokter Alan, iyakan?"


"Sok tahu! Sudah ah, kita pulang," ajaknya kemudian.


"Baiklah." Roy pun tak lagi membahas dokter Alan.


Roy mulai menyalakan mesin mobilnya, melaju dengan kecepatan sedang. Saat kendaraan yang mereka tumpangi mengarah pada jalur yang berbeda dari biasanya, Elena mengerutkan keningnya karena bingung.


"Kita mau kemana?" tanya Elena.


"Ke rumah kita."


"Rumah kita?"


"Iya, tuan Andra baru saja menghadiahkan rumah untuk kita. Kita tidak mungkin terus tinggal di rumah om-mu, iyakan?"


Apa kata Roy ada benarnya, ia sudah menjadi seorang istri. Sudah sewajarnya ia menuruti apa kata suaminya. Mobil terus melaju, hingga sampailah mereka di sebuah rumah di kawasan elit. Rumah besar berwarna putih dengan pagar tinggi yang menjulang.

__ADS_1


Setibanya di sana, security membuka pagar itu. Ternyata Andra sudah menyiapkan ini matang-matang, rumah itu sudah siap huni. Bahkan seorang wanita yang mungkin berumur sekitar 40 tahun menghampiri mereka.


Wanita itu bernama Asih, ia memang ditugaskan oleh Andra untuk mengurus rumah tersebut.


"Siang, Tuan," sapa wanita itu. "Nama saya Asih, tapi Tuan dan Nyonya bisa panggil saya Bi Asih."


"Bibi di sini sejak kapan?" tanya Elena.


"Sudah tiga hari, Nya."


Roy pun berpikir, berarti tuannya sudah lama membeli rumah ini. "Apa mungkin, ini awalnya untuk nona Nindya?" batin Roy.


"Kamu kenapa? Kok bengong, mikirin apa sih?"


"Tidak, sebaiknya kita masuk."


Elena dan Roy pun masuk ke dalam, ia melihat-lihat rumah itu. Perabotan di sana pun sudah sangat lengkap. Saat Roy berada di dalam, ponselnya berdering. Ia melihat ID pemanggil itu, tertulis nama ibunya di sana. Ia segera mengangkat panggilan itu.


"Iya, Bu. Ada apa?"


"Kamu sama istrimu 'kan? Kalian ada di mana?"


"Ibu kesana ya? Ibu mau ketemu dengan menantu Ibu." Rahma masih khawatir akan kondisi Elena, karena gadis itu sempat pingsan pasca setelah ijab qobul selesai. "Berikan alamatnya pada Ibu."


Roy baru sadar, kalau ternyata lokasi rumah ini tak jauh dari lokasi rumah ibunya. Ia langsung saja memberikan alamat itu melalui share lock dari ponselnya.


"Siapa?" tanya Elena setelah Roy penutup ponselnya.


"Ibu, katanya dia mau ke sini. Dia ingin bertemu denganmu."


"Oh ... Rumahnya bagus ya, aku suka," tutur Elena. "Kapan kita pindah?"


"Secepatnya."


"Aku mau lihat kamarnya." Elena berlari kecil menaiki anak tangga, lalu di susul oleh Roy.


Setibanya di lantai atas, terdapat dua kamar di sana.


"Ada dua kamar di sini, apa kita tidur terpisah?" tanya Elena.

__ADS_1


"Kenapa harus terpisah? Kamu 'kan istriku," jawabnya sedikit ketus. Meski belum ada cinta, Roy tak ingin tidur dalam keadaan terpisah.


"Aku 'kan cuma nanya, jawabnya gak usah galak begitu!" Elena hanya berpikir bahwa pernikahan ini pasti tidak ada sama sekali dalam benak suaminya.


"Jangan aneh-aneh dengan pertanyaanmu itu, tidak ada acara tidur terpisah! Malam ini kita mulai bermalam di sini."


"Tapi aku tidak bawa baju ganti."


"Itu masalah gampang."


Hanya menjentikkan jari saja, Roy sudah bisa mendapatkan apa yang dibutuhkannya juga dengan istrinya. Anak buahnya sudah siap siaga dengan segala perintahnya.


Tak lama dari situ, pembantunya datang menemui mereka.


"Maaf, Tuan. Di luar ada tamu."


"Pasti ibu," gumam Roy. "Suruh saja masuk, Bi," titahnya kemudian.


"Iya, Tuan." Bi Asih pun undur diri dari sana dan mempersilahkan tamu itu untuk masuk ke dalam.


Roy dan Elena menuruni tangga bersamaan. Ibu Rahma yang melihat langsung saja menghampiri mereka, ia memeluk menantunya dengan sayang.


"Anakmu di sini, Bu," ucap Roy.


"Ibu tahu, penglihatan Ibu masih normal."


Kenapa wanita itu yang lebih dulu dipeluknya, kenapa bukan anaknya? Pikir Roy.


* * *


"Makan yang banyak," kata Rahma pada menantunya.


Rahma sengaja datang menemui mereka karena ingin membawakan makanan kesukaan menantunya. Ia sampai menghubungi Ingga.


"Ibu, kok tahu makanan kesukaanku?"


"Tahu, dong. Ibu menanyakannya pada pada tante-mu. Habisin ya? Ibu mau cucu Ibu sehat."


Uhuk, uhuk, uhuk ...

__ADS_1


Elena langsung terbatuk saking terkejutnya.


__ADS_2