Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 79


__ADS_3

Roy dan Adam sudah mulai berkutat di perusahaan, mereka nampak sibuk. Hingga beberapa saat kemudian, kesibukan mereka terhenti karena kedatangan seseorang.


"Siang, Pak? Orang suruhan tuan Wiliam sudah hadir, dia ada di depan," kata salah satu staff di sana.


"Suruh saja dia masuk," jawab Adam.


Sedangkan Roy, sama sekali ia tak menoleh. Ia terus menatap layar laptop-nya.


"Baik, Pak. Saya akan segera menyuruhnya kemari." Staff itu undur diri dari ruangan itu.


"Hentikan dulu pekerjaanmu, itu orang suruhan tuan Wiliam sudah datang," ucap Adam pada Roy.


"Kamu saja yang urus dia, tempatkan di bagian pekerjaan yang sedang dibutuhkan." Jawab Roy tanpa menoleh.


Adam hanya bisa menghela napas panjang karena Roy tidak ingin turun tangan soal orang baru itu.


"Ayolah, Roy. Bukannya orang itu yang akan membantumu soal proyek baru yang akan dijalani," kata Adam lagi.


Mau tak mau, Roy menghentikan aktivitasnya.


"Ya sudah, suruh saja dia masuk," kata Roy.


Dan tak lama, orang itu pun datang. Seorang gadis cantik berpakain modis menghampiri, aroma parfum dari si gadis menyeruak di ruangan itu. Seketika, Adam menghirup aroma itu.


"Siang, maaf aku terlambat," ucap si gadis bernama Laura itu.


"Dam, beritahu pekerjaan apa saja yang harus dikerjakan olehnya," kata Roy. Roy menatap sekilas pada gadis itu, lalu ia kembali fokus pada laptopnya. Entah mengapa, Roy tidak ingin menatap gadis itu lama-lama. Dugaan tentang gadis itu ternyata benar. Dia Laura si gadis yang ada dimasa lalunya.


"Kita belum kenalan, Roy," kata Adam.


"Namanya Laura, dia baru datang dari Amiraka," terang Roy tanpa menoleh.


"Wah ... Sudah tahu rupanya," ujar Adam.


"Tuan Wiliam yang mengatakannya kemarin padaku, sudah cepat beritahu dia."


"Nona, kenalkan, nama saya Adam," kenal Adam pada Laura.


"Aku, Laura. Senang berkenalan dengan kalian." Ucapnya seraya melirik ke arah Roy.


"Sini, ikut aku," ajak Adam. Tempat duduk Laura ternyata begitu dekat dengan meja kerja Roy. Karena Laura memang dikhususkan untuk membantunya.


"Ini pekerjaan yang harus kamu kerjakan, pasti sudah paham 'kan soal ini?" tanya Adam, "tapi jika ada yang tidak dimengerti, kamu bisa tanyakan padanya." Tunjuk Adam ke arah Roy.


Laura pun ikut menoleh ke arah Roy, ia tersenyum tipis lalu mengangguk, "iya, aku akan bertanya mengenai hal yang tidak aku mengerti."


"Baiklah, aku tinggal. Ruanganku ada di sebelah," terang Adam.


"Hmm," jawab Laura singkat.

__ADS_1


Kini Laura mulai mengerjakan tugas yang diberikan oleh Adam padanya. Rasa canggung serta tak menyangka menyelimutinya. Laura tak percaya apa yang terjadi padanya hari ini, rasa ingin menyapa begitu mendorong. Tapi ia tahan karena sikap Roy yang sama sekali tak bersahabat.


Apa kamu begitu membenciku? Laura kembali fokus, hingga beberapa saat kemudian, pekerjaannya sudah selesai.


"Pak, pekerjaannya sudah selesai," ucap Laura pada Roy, "apa lagi yang harus saya kerjakan?" tanyanya.


Roy menatap sekilas, melihat file yang ada di tangan Laura.


"Letakan saja berkas itu di meja, kamu temui saja Adam di ruangannya. Karena pekerjaan ini saya yang akan mengerjakannya," terang Roy.


Laura nampak enggan untuk keluar, ia malah mendudukkan tubuhnya di kursi meja kerja Roy.


"Apa kamu sudah lupa padaku?" tanya Laura secara pribadi, ia tidak lagi berkata formal.


"Ini kantor, jangan mambahas selain urusan kantor!"


"Aku tidak membahas masalah lain, aku hanya bertanya. Jangan terlalu formal begitu."


"Saya banyak pekerjaan, Anda bisa keluar dulu," usir Roy.


Tidak ingin membuat keadaan semakin kacau, Laura pun akhirnya keluar.


Setelah kepergian Laura, Roy menetralkan napasnya. Dadanya tiba-tiba saja bergemuruh. Kenangan dimasa lalu kini teringat kembali. Tapi sebisa mungkin ia bersikap propesional. Beberapa detik kemudian, ponsel miliknya berdering. Dilihatnya, ID pemanggil itu adalah sang istri.


"Ada apa?" tanya Roy.


"Aku ada di bawah, kemarilah, jemput aku di sini," kata Elena.


"Mau kemana, Roy? Kita makan siang yuk?" ajak Adam. Adam sudah siap-siap pergi bersama Laura.


"Tidak, kalian saja. Aku mau menemui istriku," tolak Roy.


Istri? Roy sudah menikah? Laura mematung mendengar ucapan mantannya itu.


"Ayo, Ra. Kita saja yang pergi," ajak Adam, "biarkan pengantin baru itu, kita jangan mengganggunya." Tanpa mendengar jawaban Laura, Adam menarik tangan Laura dan meninggalkan Roy masih berdiri di depan pintu ruangannya.


* * *


"So sweet sekali kalian, bikin iri saja," tutur Adam saat bertemu dengan Elena di lobi.


Elena tersenyum manis pada Adam juga pada seorang gadis yang tak ia kenal. Laura pun tersenyum ke arah Elena.


"Dia istri, Roy?" tanya Laura berbisik di telinga Adam.


"Iya, cantik 'kan?" kata Adam, "El, kita duluan ya. Dadah ..." Adam melambaykan tangan pada Elena.


Dan tak lama, Roy menghampiri. Bahkan Laura dan Adam pun masih berada di sana. Laura menyaksikan pertemuan Roy dengan istrinya.


"Lama menungguku?" tanya Roy.

__ADS_1


Elena menggelengkan kepala, ia malah menunjukkan paper bag di tangannya.


"Apa ini?" tanya Roy.


"Makan siang, aku ingin kita makan siang bersama," jawab Elena.


"Ayok, tunggu apa lagi? Aku sudah lapar." Adam kembali menarik tangan Laura. Karena wanita itu tak kunjung masuk ke dalam mobil.


Elena menoleh ke belakang, ia kira Adam dan wanita itu sudah pergi dari tadi. Kenapa dengan gadis itu? Kenapa tatapannya beda pada Roy? Elena bergelut dengan pemikirannya sendiri.


"Ayok, aku juga sudah lapar." Roy menarik tangan Elena dan mengajaknya segera ke ruangannya.


* * *


"Dia pegawai baru?" tanya Elena disela-sela aktivitasnya yang sedang menyiapkan makan siang untuk Roy.


"Hmm, dia suruhan tuan Wiliam," jawab Roy.


"Oh ...," kata Elena.


"Dia cantik, ya?" tanya Elesa sambil menguji bagaimana reaksi suaminya.


"Semua wanita cantik, tidak ada yang tampan," jawab Roy.


"Bukan itu maksudku," kata Elena.


"Sudahlah, jangan bahas orang lain. Aku sudah sangat lapar, kamu suapi ya?" pinta Roy dengan manja.


Elena mulai menyuapi suaminya, begitu juga dengan Roy. Mereka saling suap-suapan, hingga akhirnya makan pun selesai.


"Aku balik ke rumah sakit ya?" kata Elena.


"Di sini saja, temani aku," pinta Roy.


Karena jam istirahat masih ada setengah jam lagi, Roy mencegah kepergian istrinya. Roy menarik tangan Elena, mendudukkannya di pangkuannya.


"Roy, ini kantor. Tidak enak jika ada yang melihat," ujar Elena saat Roy mulai menciuminya.


"Sebentar saja, 'kan masih jam istirahat. Tidak akan ada yang melihat kok." Roy terus menciumi wajah Elena hingga turun ke bagian leher.


Saat mereka asyik dengan aktivitasnya, tiba-tiba Laura datang. Pintu terbuka lebar.


"Tidak sopan, bisa ketuk pintu dulu 'kan sebelum masuk!" sarkas Roy pada Laura.


"Maaf, saya kira ruangannya kosong." Laura segera kembali keluar.


"Aku pulang saja ya, tidak enak," kata Elena.


"Kamu marah?" tanya Roy.

__ADS_1


"Tidak, kita lanjutkan nanti saja di rumah, ok?" Elena mencium bibir Roy sekilas, lalu segera pergi dari ruangan itu.


__ADS_2