
Perlahan, Roy pun turun. Ia sangat terkejut saat melihat siapa yang ada di hadapannya. Seorang wanita tengah berjongkok, sambil menelusupkan wajahnya dikedua lututnya. Dari gestur tubuh saja Roy sudah mengenalinya, hingga ia pun hanya bisa melihatnya tanpa ekspresi.
"Roy, dia tidak apa-apakan?" tanya Adam ikut melihat.
Wanita itu mendongakkan wajahnya saat medengar nama Roy.
"Laura?" ucap Adam.
Laura langsung berdiri, ia sungguh ketakutan. Tanpa berpikir, ia pun menghamburkan tubuhnya di pelukan Roy. Wajahnya penuh dengan keringat, matanya pun sembab. Entah apa yang dialami Laura. Dari sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Hingga tak lama kemudian, Laura tak lagi bisa menahan beban tubuhnya. Gadis itu jatuh pingsan. Dan disebrang sana, nampak seorang lelaki paruh baya. Tersengal karena habis berlari. Roy menyipitkan matanya ke arah lelaki setengah abad itu.
Itu 'kan? Tanpa berpikir lama, Roy membopong tubuh Laura dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Adam! Cepat masuk!" pinta Roy.
"I-iya." Adam pun masuk ke dalam mobil.
"Kita bawa ke rumah sakit, cepat!" seru Roy.
.
.
.
__ADS_1
Di rumah sakit.
Laura terbaring di brankar, terpasang selang infus di lengan. Tak lama, gadis itu pun sadar. Ia merasa tubuhnya begitu sakit, lemah tak berdaya. Ada kabar yang mengejutkan Roy dan Adam, saat mendengar penjelasan dari dokter.
"Siapa yang menghamilimu?" tanya Roy pada Laura. Meski kini tak ada lagi hubungan di antara mereka, tidak bisa dipungkiri, Roy masih peduli padanya walau hanya sekedar memandang seorang teman. Melihat keadaan Laura yang nampak kacau membuatnya merasa kasihan.
Laura terdiam, ia tak bisa menjawab. Inilah alasan kenapa ia meninggalkannya dulu. Wanita hina sepertinya memang tak layak bagi pria seperti Roy. Laura hanya bisa menangis meratapi nasibnya.
"Siapa yang menghamilimu? Apa kekasihmu? Lalu, kenapa papamu tadi mengejarmu?" Pertanyaan dari Roy tak dijawab sama sekali oleh Laura.
Laura rasa, Roy tak perlu tahu soal masalah yang menimpanya. Awalnya, ada secerca harapan bagi Laura saat ia bertemu kembali dengan Roy, bahkan tidak ada kata putus dari hubungan mereka sejak dulu hingga sekarang. Laura pergi begitu saja tanpa kejelasan.
"Aku mau pergi." Laura melepas jarum infus dengan paksa. Hingga tangannya mengeluarkan darah, baru saja ia berada di ambang pintu. Laura kembali pingsan, batin yang tertekan membuatnya tak bisa lagi menahan beban hidupnya.
Adam segera keluar dari ruangan itu untuk mencari dokter. Tak lama, dokter pun datang. Beberapa saat kemudian, dokter selesai memasang infus itu kembali.
"Saya minta tolong, jangan sampai pasien ini melepas infusnya. Kondisinya sangat lemah," pesan dokter.
Roy yang mengerti pun mengangguk.
Sudah hampir satu jam, Laura masih belum sadar juga.
"Sebaiknya kamu ke kantor saja, aku akan di sini sampai Laura sadar," kata Roy pada Adam.
Adam mengerti apa yang dirasakan oleh Roy, bagaimana pun wanita yang kini terbaring lemah itu adalah wanita yang pernah ada dalam bagian hidup temannya.
__ADS_1
"Baiklah, tapi jika nanti dia sadar, sebaiknya kamu segera ke kantor. Aku takut Elena tahu dan ini jadi salah paham," jelas Adam.
"Hmm, aku akan ke kantor setelah dia sadar."
.
.
.
Adam sudah ada di kantor, ponselnya terus berdering. Tapi ia sedang sibuk karena Roy masih belum juga kembali, padahal ini sudah lewat dari jam makan siang.
Hingga beberapa saat, ponsel miliknya terus bersuara. Mau tak mau, ia pun mengangkatnya.
"Elena." Ucap Adam saat melihat ID panggilan itu, "bagaimana ini? Pasti Elena mau tanya soal Roy." Ponsel milik Roy pun tidak aktif karena ia sempat menghubunginya tadi. Sudah jelas, wanita itu pasti akan menanyakan suaminya.
"I-iya, El?" Nada Adam terdengar gugup.
"Roy bersamamu 'kan?" tanya Elena di sebrang sana.
"I-iya, tapi dia sedang meeting. Ada apa memangnya?" tanya Adam.
"Aku ada di rumah sakit, tadi aku melihat suamiku di sini. Aku menghubungimu hanya ingin memastikan apa yang aku lihat itu benar suamiku atau tidak?"
"Bukan, El. Kamu salah lihat, Roy ada di sini." Dalam hati, Adam merutuknya sendiri, maafkan aku, El. Maaf sudah membohongimu.
__ADS_1