Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 53


__ADS_3

Di villa.


Setelah merebahkan tubuh Nindya, Andra merasa tubuhnya sangat lengket. Ia pun segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah beberapa menit kemudian, ia pun selesai.


Sedangkan Nindya, bumil itu terlihat pulas. Akan tetapi, Andra tak melihat wajah istrinya yang pucat. Bahkan tubuhnya sedikit menggigil, entah kecapean atau apa. Yang jelas, Andra melihat wanita itu tertidur saja.


Karena lelah, Andra pun ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Saat ia memeluknya, ia baru tersadar kalau tubuh istrinya bergetar. Lalu menyentuh kening Nindya dengan punggung tangannya. Ia merasa suhu tubuhnya jauh dari kata normal.


Jelas, Andra panik karena istrinya tengah sakit.


"Bagaimana ini?" Waktu menunjukkan pukul 01.30, tak ada pilihan selain menghubungi Roy. Ia meminta agar Roy menjemput dokter Elena dan mengajaknya kemari.


* * *


Dokter Elena baru saja selesai menggati bajunya dengan milik Roy. Kemeja putih itu ia kenakan tanpa bawahan, karena bajunya begitu besar, jadi kemeja itu mampu menutupinya sampai batas paha. Setelah itu, ia pun keluar dari mobil. Kakinya masih sakit sehingga ia berjalan sedikit pincang.


Roy menoleh ke belakang, ia melihat dokter Elena sampai tak berkedip. Penampilan Elena mengingatkannya pada sosok gadis di masa lalunya dulu. Rambut yang diikat secara asal sehingga leher jenjang gadis itu terlihat sangat indah. Bahkan Elena sudah menghapus make up-nya dari wajahnya.


Wajah polos tanpa make up itu terlihat cantik sangat natural. Bibir merah alami bagai delima, meski keadaan terlihat gelap, tapi cahaya rembukan mampu menyinari.


Kenapa jantungku tiba-tiba berdetak tak beraturan begini?


Dokter Elena semakin mendekat.


"Terima kasih bajunya," ucap Elena. Wanita itu berubah delapan puluh derajat, biasanya ia terlihat garang di depan Roy. Tapi malam ini terlihat beda. Namun, tiba-tiba ponsel milik Roy bergetas. Lalu ia tersadar dari tatapan menakjubkan itu.


Sudah malam begini masih menghubungiku.


Walau begitu, Roy tetap mengangkat panggilan dari tuannya.

__ADS_1


"Ada apa, Tuan?"


"Cepat ke sini dan ajak dokter Elena kemari, istriku demam." Tanpa menunggu jawaban darinya, sang tuan menutupnya begitu saja.


Roy menghela napas sembari memejamkan mata.


"Kenapa?" tanya Elena.


"Nona Nindya demam, aku disuruh membawamu ke sana," jawab Roy.


Karena Nindya salah satu ibu hamil yang ia tangani, tanpa berpikir akan keadaannya ia langsung mengangguk dan mau diajak ke sana untuk melihat kondisi ibu hamil itu.


"Ayo, cepat!" kata dokter Elena.


Tapi Roy malah terdiam karena ia menyadari bahwa dokter itu memakai pakaiannya. Ia bisa menebak apa yang akan terjadi nanti setelah tuannya melihat keadaan dokter Elena.


Karena wanita itu sudah menuju mobilnya, ia pun tak bisa mencegah kepergiannya apa lagi sampai menyuruh wanita itu melepas pakaiannya. Padahal kakinya sedang sakit, tapi gadis itu mengenyampingkan keadaannya. Roy merasa salut pada dokter itu, rasa tanggung jawabnya teramat besar pada pasien-nya.


"Ini tempatnya?" tanya Elena setibanya di villa. Tempat yang sangat indah, kapan ia bisa pergi berbulan madu di tempat seperti ini? Hayal Elena. Ingat akan pasien-nya, ia mengubur mimpinya yang ingin segera menikah dan memiliki keluarga yang harmonis dan bahagia.


Roy langsung mengajak dokter Elena masuk. Kedatangan mereka disambut oleh Andra.


"Dok, di sini." Kata Andra sembari menunjukkan arah jalan kamar yang ditempatinya.


* * *


Dokter Elena mulai memeriksa Nindya, mengecek suhu tubuh dan mengecek tekanan darahnya. Mungkin hawa dingin yang membuat ibu hamil itu sedikit demam, tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Elena memberinya obat untuk diminum, dokter itu selalu membawa obat-obatan lengakp di dalam tas kerjanya.


"Ini obat yang harus diminum." Ucap dokter Elena seraya memberikan obat itu pada Andra.

__ADS_1


Andra meneriminya. Karena posisi mereka berhadapan, Andra menyadari baju yang dikenakan dokter Elena. Ia hapal betul baju itu, karena ia sendiri yang membelikannya selagi di Eropa dulu. Sebagai oleh-oleh darinya untuk anak buahnya. Waktu itu Roy tidak ikut karena harus menangani kantornya yang berada di sini.


Andra melirik ke arah Roy, tapi pria itu berpura-pura seolah tak menyadari bahwa atasannya tengah memandangnya. Roy bersiul menutupi kegugupan itu, jantungnya semakin berdetak tak beraturan. Merasa sedang terciduk sesuatu. Apa pun yang dijelaskannya, tuannya pasti tidak akan percaya begitu saja.


Bagaimana tidak, seorang lelaki dan perempuan malam-malam berdua di tepi pantai, lalu baju yang dikenakan wanita itu adalah miliknya. Jelas Andra menyimpulkan sesuatu sudah terjadi di antara mereka. Apa lagi dengan kedatangan mereka yang tak memakan waktu sampai satu jam.


Andra melihat mereka secara bergantian, ia juga baru sadar bahwa Roy memakai baju yang berbeda. Kecurigaannya semakin menjadi. Tapi Andra lebih suka seperti ini, ketimbang anak buahnya terus sendirian.


Andra tersenyum tipis kepada Roy. Pria itu sampai mengerutkan kedua alisnya, mungkin ia bingung pada sang bos yang tersenyum padanya.


"Roy, ini sudah larut. Sebaiknya kamu antar dokter Elena ke kamar, aku rasa, aku masih membutuhkannya di sini," kata Andra.


"Ti-tidak usah, aku pulang saja," tolak Elena.


"Tapi ini sudah malam, saya khawatir jika Dokter harus berkendara malam-malam begini," ucap Andra lagi."Masih banyak kamar kosong kok di sini. Lagian, besok Dokter harus memeriksa istri saya lagi."


Tidak ada yang bisa menolak keinginan Andra, dan akhirnya, dokter Elena pun bermalam di villa bersama mereka.


"Apa kamu tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku?" bisik Andra di telinga Roy.


Roy sudah menduga bahwa ini akan terjadi, tapi ia bersikap santai karena takut semakin dicurigai jika ia gugup.


"Maaf, Tuan. Kami permisi." Ini cara yang ampuh untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan merasa sulit baginya. Roy sendiri tidak tahu kenapa sikapnya bisa segugup ini. Padahal, dari awal bertemu mereka sudah tidak ada keakuran. Mereka dipertemukan dalam keadaan yang tidak tepat. Namun kali ini, Roy sendiri yang menampakkan diri pada dokter Elena.


"Tuan Andra, kami permisi," pamit Elena. Diangguki oleh Andra sendiri.


Roy dan dokter Elena keluar secara bersamaan. Roy langsung mengantar dokter Elena ke kamar.


"Ini kamarnya." Roy menucapkan itu sambil membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


Sebelum masuk, dokter Elena melihat-lihat kamarnya terlebih dulu. Beberapa detik kemudian, ia pun masuk. Sedangkan Roy, pria itu menutup pintunya lalu pergi.


Namun, di tengah-tengah perjalanan. Seorang pria menghadangnya, ada banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan padanya. Roy menelan salivanya saat melihat sang tuan berdiri di depannya.


__ADS_2