
Nana terkejut ketika mendengarnya, tapi saat menoleh ke belakang, pria itu sudah menghilang dari pandangan.
Di dalam kamar.
Adam melamun sambil melihat ke arah jendela, dan hujan mulai turun membasahi bumi.
"Kamu di mana, Ai? Aku rindu. Tak inginkah kamu bertemu dengan anak kita?" Tak terasa air mata itu terjatuh dari pelupuk mata.
Dan untuk Nana, ia baru pertama kali merasa dibentak. Entah kenapa, ucapan Adam membuatnya sakit. Ia sama sekali tak ada niat apa-apa, ia hanya kasihan melihat saat Adam pulang kerja. Hanya memberinya minum pria itu langsung terlihat marah.
Selama ia menjadi pengasuh, ia sering melakukan pekerjaan lain. Setelah bayi atau anak yang diasuhnya tidur, Nana pun membereskan rumah seperti ART pada umumnya. Ia sering cepat bosan kalau tidak ada pekerjaan. Ia juga begitu penasaran kenapa sikap Adam mendadak seperti itu.
Nana pun mulai memberi pesan pada Nindya, ia ingin tahu kenapa Aksha tidak diurus mamanya.
"Boleh aku tanya sesuatu?" pesan terkirim pada temannya.
"Apa?" balas Nindya.
"Mas Adam kenapa mengurus anaknya sendiri? Istrinya kemana? Apa dia duda?" kirim Nana.
"Ceritanya panjang, yang jelas Adam punya istri tapi dibawa oleh orang tuanya dan sekarang tidak tahu mereka ada di mana. Emangnya kenapa? Kamu ada hati ya sama papa-nya Akhsa?" balas Nindya lagi.
Nana mengerutkan keningnya, "suka? Mana mungkin aku suka sama papa-nya dari anak yang aku asuh," gumam Nana. Selama ia bekerja, ia selalu bersikap profesional. Tidak ada dalam sejarah Nana mencintai majikannya. Chat-an mereka berakhir karena Nana tak lagi membalasnya.
Dari pada pusing sendiri, lebih baik ia membersihkan diri selagi Akhsa masih tidur. Dan Akhsa pun tidur di kamarnya. Nana melihat bayi itu sebelum mandi, melihat wajah tampan itu dengan seksama. Hanya mata yang mirip dengan Adam, yang lainnya tidak mirip. Mungkin selebihnya mirip mama-nya, pikir Nana.
"Wanita itu pasti cantik sampai melahirkan bayi sepertimu." Nana mencium Akhsa sebelum masuk ke kamar mandi, ia memang suka anak kecil. Bahkan cita-citanya ingin nikah muda, tapi Tuhan berkehendak lain. Ia malah belum mendapatkan jodoh. Setelah mencium Akhsa, Nana pun pergi ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri.
Sedangkan Adam, ia baru sadar kalau sejak pulang dari kantor ia belum bertemu dengan anaknya. Ia terlalu sibuk dengan pemikirannya yang mulai kalut kembali, sebulan terakhir, ia tidak terlalu mengingat istrinya. Tapi, semenjak hadirnya Nana, ia malah berkhayal. Andai Nana itu adalah Aileen, tentu ia merasa bahagia memiliki keluarga yang utuh.
__ADS_1
Adam pun akhirnya keluar dari kamar. Hendak menemui Akhsa yang mungkin berada di kamar Nana. Adam mengetuk pintu sebelum masuk.
"Na?" panggil Adam. Tidak ada sahutan dari dalam membuatnya memutar handle pintu. Pintu langsung terbuka karena memang tidak dikunci, ia pun masuk begitu saja.
"Na, apa kamu di dalam?" Adam melihat-lihat seisi kamar, tapi Nana tidak ada. Terus ia mendengar suara gemircik air, mungkin gadis itu berada di sana, pikirnya. Adam pun menghampiri tempat tidur, ia melihat putranya di sana.
Ternyata anaknya baru saja membuka mata, dan bayi itu pun menangis. Adam mencari botol susu, tapi tidak ditemukan.
Karena mendengar Akhsa menangis, Nana buru-buru menyudahi ritual mandinya. Ia memakai handuk untuk menutupi tubuhnya, dan segera keluar. Nana terkejut saat melihat Adam berada di kamarnya, sadar akan kondisinya, Nana langsung menyilangkan kedua tangan di dada.
Dan Adam, pria itu membuang muka ke arah sembarang. Ia tak ingin melihat kondisi gadis itu dalam keadaan seperti itu. Merasa tidak enak, Adam segera keluar. Lagi-lagi tanpa mengeluarkan suara.
Nana bernapas lega, dan ia langsung membuatkan susu untuk Akhsa. Keadaan tubuhnya masih terbalut dengan handuk, karena ia lebih mendahulukan Akhsa agar bayi itu tidak menangis.
💞
"Na, apa kamu sudah memakai baju?" tanya Adam, "aku ingin membawa Akhsa dan memindahkannya ke kamarku," sambungnya kemudian.
"Sebentar, Mas. Aku lagi pakai baju dulu, Akhsa juga sedang menyusu," jawab Nana.
"Kalau sudah selesai, kamu antarkan Akhsa padaku, ya?" pinta Adam.
"Iya, Mas."
Setelah itu, Adam pun pergi ke dapur. Ia merasa lapar, ia berinisiatif untuk membuat mie instan karena itu lebih praktis dan cepat.
"Kamu sedang apa, Mas?" tanya Nana sambil menggendong Akhsa.
"Masak mie, kamu mau?" tanya Adam.
__ADS_1
"Tidak, terima kasih." Karena sikap Adam tadi membuatnya harus menjaga jarak, di mana pria itu berkata hanya Akhsa yang menjadi prioritas-nya. Tadinya ia ingin membantu pria itu untuk membuatkannya tapi ia urungkan niatnya.
Adam mulai menikmati makanannya sendiri, dan Nana melihatnya. Kenapa mereka malah seperti orang yang sedang musuhan? Seperti ada dinding pemisah di antara mereka. Seharusnya tidak seperti itu bukan? Kalau tidak ada perasaan di antara mereka kenapa juga harus menjaga jarak, dan itu mulai terpikir oleh Nana.
"Mas, boleh aku bicara sebentar?" Nana mendekat ke arah Adam dan langsung mendudukkan diri di kursi yang berhadapan dengan pria itu.
"Apa?" ucap Adam.
"Kenapa kita harus seperti ini?" tanya Nana.
"Seperti ini bagaimana?" Adam tidak mengerti.
"Aku di sini bekerja, tapi kenapa Mas Adam tidak mau aku membantumu? Aku sudah terbiasa melakukan pekerjaan ART, termasuk membuatkan makanan untuk majikanku," tutur Nana, "kalau kita seperti ini malah terkesan seperti musuh. Apa pun yang aku lakukan, itu tidak ada maksud apa-apa."
"Tapi kamu hanya ditugaskan mengurus Akhsa, aku bisa mengurusku sendiri. Sikapmu yang melayaniku malah terlihat seperti sikap seorang istri pada suaminya. Menyambutku pulang kerja, membawakan tas ku, mengambilkan ku minum. Apa itu bukan sikap seorang istri? Kamu itu hanya pengasuh untuk anakku, Nana. Tolong mengerti, aku tidak ingin berkhayal seolah aku memiliki seorang istri," jelas Adam.
Penuturan Adam membuat Nana mengerti, apa mungkin pria itu takut kalau perasaannya bisa runtuh? Pikir Nana. Secara, Nana bukan lagi bocah ingusan. Ia mengerti perasaan orang dewasa, cinta bisa tumbuh di mana saja dan kapan saja. Apa lagi mereka tinggal satu atap cinta bisa datang tanpa mereka sadari.
"Ya kita profesional saja, Mas. Aku begitu kasihan saat melihatmu, pulang kerja pasti capek," kata Nana.
"Aku tahu, tapi itu membuatku semakin teringat pada istriku," jelas Adam.
Pada akhirnya, Adam menceritakan kronologi yang terjadi pada hubungan mereka. Dari ia yang pernah ditinggal menikah oleh Aileen bersama Andra, ia masih setia pada akhirnya ia bisa menikahi Aileen meski dengan cara membawanya kabur. Panjang lebar ia mencurahkan isi hatinya pada Nana.
Gadis itu hanya menjadi pendengar setia, Adam pria hebat yang pernah ia kenal. Mendengar itu semua membuat Nana semakin berpikir bahwa cinta mereka begitu kuat, dan obrolan mereka terhenti saat mendengar suara Akhsa.
Bayi itu merengek, dan Nana menyentuh keningnya.
"Mas, Akhsa kok badannya panas," ucap Nana. Nana jadi khawatir, "kita bawa ke rumah sakit, Mas!" ajak Nana.
__ADS_1