
Tok ... Tok ... Tok ...
Nindya melihat ke arah pintu. Pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang.
"Nindya, apa kamu masih tidur?" tanya orang yang ada di luar.
Nindya semakin ketakutan, ia ketar-ketir akan keberadaannya dengan tuannya dalam satu ruangan. Bagaimana ini? Tamatlah riwayatnya.
"Tuan, pergi 'lah," pinta Nindya.
"Nindya." Orang itu semakain kencang mengetuk pintu, bukan diketuk, melainkan menggedornya.
"Saya mohon, Tuan. Keluar 'lah." Nindya mengatupkan kedua tangannya, ia begitu memohon. Perlahan, Nindya menghampiri pintu dengan kaki pincang. Sesekali ia menoleh ke belekang untuk melihat majikannya. Namun, pria itu masih berdiri tengah menatapnya.
Nindya membuka pintu.
"Sedang apa kamu di kamar?" tanya orang itu. Orang yang masih berpropesi sama dengannya. Hanya saja orang itu sedikit tak menyukai Nindya.
"Ada apa, Loly?" Nindya sedikit membuka pintu, ia takut Loly melihat keberadaan tuannya di dalam sana.
"Ada apa, ada apa. Jam berapa ini?" Ujarnya seraya melirik jam di tangannya. "Cepat ke dapur!" Loly sedikit curiga karena Nindya tak kunjung membuka pintu lebar-lebar. Apa lagi, Nindya terus menengok ke dalam kamarnya.
"Apa kamu menyembunyikan sesuatu?" Tanya Loly dengan memicingkan pandangannya.
"Ti-tidak ada." Nindya menggelengkan kepala.
"Jangan bohong!" Tiba-tiba saja suara lantang itu terdengar oleh Loly dan Nindya.
Nindya semakin tegang ketika Aileen datang menghampirinya.
"Siapa yang kau sembunyikan di kamar?" Aileen sudah menggebu, deru napasnya sangat tidak beraturan. Lantas, wanita itu mendorong pintu yang sedari tadi ditahan oleh Nindya.
"Matilah aku," batin Nindya.
Aileen menerobos masuk ke dalam kamar pembantu itu, Nindya sedikit terhempas ke dinding karena tersenggol oleh istri dari tuannya itu. Aileen mencari seseorang di dalam sana, namun ia tak menjumpai siapa pun. Penasaran, wanita itu terus menjelajah seisi kamar.
Karena memang tidak ada siapa-siapa, Aileen kembali menemui Nindya yang masih ada di dekat pintu. Sorot mata Aileen begitu mengintimidasi.
Sementara, Nindya. Ia memejamkan mata sejenak sambil berpikir, apa tuannya sudah pergi dari sana?
"Jangan macam-macam, kamu!" Ujar Aileen sembari keluar dari kamar.
Nindya bernapas lega, baru saja ia akan menutup pintu. Tapi Loly dengan cepat menahannya.
"Ada masalah apa kamu dengan nyonya muda, hah?"
__ADS_1
"Bukan urusanmu, pergi 'lah!" Nindya menutup pintu keras-keras.
"Hey, kurang ajar sekali kamu. Jangan mentang-mentang tuan Andra sering membelamu, kamu jadi besar kepala!" Loly terus menggedor pintu.
Tapi Nindya tak peduli, gadis itu malah mencari keberadaan tuannya. "Apa dia sudah pergi?" Ia hanya memastikan, takut pria itu masih ada di sini dan malah bersembunyi. Ia melihat jendela terbuka, sudah dipastikan bahwa tuannya keluar lewat jendela itu.
"Syukurlah." Ucapnya seraya mengelus dada dan bernapas lega.
* * *
"Aileen?" panggil Anye.
"Mom." Aileen menghampiri ibu mertuanya.
"Sedang apa kamu di sini? Apa suamimu juga ikut?"
"Apa Mommy tidak tahu kalau Andra ke sini menemui pembantu itu?" batinnya.
"Kok, melamun. Mana Andra?"
"Mmm ... Aku sendiri, Andra gak ikut."
Kalau Andra tidak ada di sini, di mana laki-laki itu? Pikir Aileen. Karena tidak ada, ia pun segera pamit pada ibu mertuanya. Sampai ibu paruh baya itu sedikit heran dibuatnya. Setelah kepergian Aileen, Nindya keluar dari kamarnya. Kaki dan tangan terasa perih akibat luka semalam, gadis itu berjalan sedikit pincang.
"Nindya, kamu kenapa?" tanya Anye. "Kenapa kakimu?"
"Dia kurang hati-hati, masa semalam pergi keluar tanpa alas kaki." Lee datang tiba-tiba di hadapan mereka. "Ayok cepat pergi ke dapur, kerjaanmu sudah menumpuk," ujarnya kemudian.
Wajah Nindya merah karena menahan amarah, bisa-bisanya pria itu berbohong. Sudah jelas itu perbuatannya. Nindya tidak akan tinggal diam kalau pria itu berani kurang ajar lagi padanya. Seperti biasa, pagi ini Nindya akan bergelut di dapur dengan pekerjaannya.
Namun, kali ini ia bingung. Tangannya terluka, dan ia tak bisa mencuci piring dengan keadaan tangan seperti ini. "Bagaimana ini?" Tak ada pilihan lain selain ia menggunakan sarung tangan.
Ia tak boleh terlihat lemah di hadapan Lee, ia tak ingin kejadian semalam terulang kembali. Ia harus berjaga-jaga dengan kepala asisten itu. Nindya memulai dengan aktivitasnya. Tak lama kemudian, Loly datang. Ia melihat Nindya mencuci piring menggunakan sarung tangan.
"Elah ... Gaya banget nyuci piring pakai sarung tangan segala! Jangan jadi pembantu kalau tangannya gak mau kasar. Kenapa tidak minta jabatan lain saja sama tuan Andra, hah?"
"Apa maksudmu bicara seperti itu?"
"Ups ... Lupa, tuan Andra 'kan sudah menikah. Kamu jangan mimpi terlalu tinggi, Nindya. Upik abu tidak akan jadi ratu!"
Kesal dengan omongan Loly, Nindya mencipratkan air sabun ke wajah wanita itu hingga mengenai matanya. Seketika, Loly merasa perih di bagian matanya.
"Nindya! Awas-awas ..." Loly membasuh wajahnya yang terkena air sabun.
Sementara Nindya hanya menertawakan Loly.
__ADS_1
* * *
"Apa kau yakin yang semalam menolong Nindya itu suamiku?" Aileen sedang menyetir mobil sembari menelepon.
"Saya yakin, meski semalam keadaan gelap tapi saya yakin itu tuan Andra."
"Tapi suami saya tidak ada di rumah utama, saya sudah memeriksa dan kamar pembantu itu kosong."
Lee sedikit bernapas lega, syukur-syukur itu bukan tuan Andra yang menolong Nindya. Jadi ia tak perlu khawatir akan pekerjaannya, karena ia merasa aman. Tak lama, sambungan pun terputus karena Aileen menutup ponselnya.
"Lalu dia di mana kalau tidak ada di rumah utama? Tidak mungkin Nindya menyembunyikannya. Argghhh ..." Aileen memukul stir kemudinya.
Tapi ia putuskan untuk pulang ke rumah. Hingga akhirnya, ia sampai di rumah suaminya. Heran, di garasi ia melihat mobil suaminya terparkir. Buru-buru ia segera masuk ke dalam.
"Dari mana pagi-pagi begini? Bukannya melayani suami, kau malah keluyuran." Kata Andra yang sedang menikmati sarapannya.
"A-aku hanya mencari angin segar." Aileen mendudukkan tubuhnya di samping Andra. Ia juga tak mungkin mengatakan yang sebenarnya bahwa ia tengah mencarinya sampai ke rumah utama. Andra bisa curiga akan kebusukan hatinya terhadap Nindya.
"Semalam kamu tidak tidur di kamar, kamu tidur di mana?" tanya Aileen mengalihkan pembicaraan.
Tidak mungkin Andra mengatakan kejadian semalam, sebisa mungkin ia mengelak agar istrinya itu percaya.
"Tidur di kamar sebelah, memangnya kenapa?"
"Kenapa tidur di kamar sebelah?"
"Gak bisa tidur saja." Andra menyudahi sarapannya, karena pagi ini ia harus ke kantor karena ada jadwal pertemuan dengan klien, dan pembicaraan pun selesai begitu saja. Bahkan ia pergi tanpa pamit pada Aileen.
* * *
Di kantor.
Andra sedang melamun, ia memikirkan bagaimana caranya menikahi Nindya, sedangkan gadis itu sangat keras kepala. Ketika itu juga, lamunannya buyar.
"Tuan, klien sudah datang," kata Roy yang tak lain adalah sekretarisnya.
Disaat itu juga, ide muncul dalam benak Andra. Roy adalah mantan mafia, ia yakin bisa melakukan masalah ini dengan dengan gadis itu.
"Roy, aku ada tugas untukmu." Andra langsung saja membisikkan sesuatu di telinga sekretarisnya, sampai Roy terkejut.
"Apa? Apa tidak salah?" Tapi ia akan melakukannya karena itu adalah perintah yang tak bisa dibantah, meski ia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tuannya.
...****************...
Mampir di sini yuk sebelum nunggu othor up, tapi sebelumnya terima kasih sudah membaca karyaku, love love buat para readers😘😘
__ADS_1