
Mendengar keributan di rumahnya, Wiliam serta istrinya segera datang. Betapa terkejutnya mereka melihat menantunya yang tergeletak di lantai, dan Andra pun langsung menghampiri Morano. Ia rasa, ini sudah sangat keterlaluan.
"Aku sudah cukup sabar. Kau mau tahu kenapa dia bersamaku? Ini hasil perbuatan Aileen. Andai dia tak membohongiku, kejadian di malam itu tak akan membuatku melampiaskan pada minuman dan mabuk. Kejadian itulah membuatku harus bertanggung jawab padanya." Andra benar-benar berada di puncak kemarahan.
"Pernikahanku dengan putrimu sudah tak bisa lagi dipertahankan, jadi untuk apa Anda datang dan marah-marah di sini?" sambungnya lagi.
Wiliam tak bisa berdiam diri, ia pun membela putranya. Dan Andra, setelah melampiaskan amarahnya pada Morano ia langsung membawa Nindya ke kamar.
"Pergilah, Morano. Aku rasa semuanya berakhir di sini, biarkan anak-anak kita bahagia dengan pasangannya. Dan untuk putrimu, harusnya dia sadar akan kesalahan yang sudah dia perbuat pada anakku, bahkan aku juga jadi korban putrimu. Dia membohongiku."
"Putramu datang dan membuat kekacauan di rumah sakit. Aileen kembali pendarahan karena ulah anakku!"
"Apa yang sudah dilakukan putraku, hah?" Wiliam tidak suka jika putranya selalu disalahkan. Karena kedatangan Morano hanya membuat onar, ia pun memanggil beberapa anak buahnya untuk mengusir Morano pergi.
Beberapa anak buah Wiliam datang dan langsung menyeret laki-laki itu pergi.
"Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri." Ucapnya seraya mengibaskan tangan anak buahnya dari tubuhnya. Dan Morano pun pergi dengan penuh kemarahan.
* * *
"Bagaimana, Dok? Istriku tidak apa-apa 'kan?" tanya Andra pada dokter Elena.
Dokter Elena langsung datang setelah mendapatkan kabar dari Roy. Lagi-lagi, Roy harus bertemu dengan dokter galak itu lagi. Tadi, Roy sedikit lengah saat kedatangan Morano. Waktu itu ia tak berada di rumah utama, dan ketika mendapatkan tugas untuk menghubungi dokter Elena bahkan sampai harus menjemputnya ia pun kini berada di sana.
"Hanya shock, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalau bisa, Nona Nindya harus selalu happy. Jangan sampai banyak pikiran yang mengganggunya," jelas dokter.
Beberapa saat kemudian, Nindya pun tersadar. Andra yang melihat langsung menghampirinya, menggenggam tangannya dan memberikan beberapa kecupan di punggung tangannya.
__ADS_1
"Jangan membuatku khawatir, aku janji akan menyelesaikan semuanya secepatnya." Meski ia tahu bahwa keadaan Aileen tak memungkinkan, tapi ia akan mendaftarkan surat gugatan cerai untuk istrinya itu.
"Aku hanya takut tuan Morano mencelakaimu," lirih Nindya.
"Tidak akan ada yang berani menyentuh putraku," kata Wiliam. "Jangan banyak pikiran, utamakan keselamatan cucuku," ucapnya lagi.
Karena memang sudah selesai dengan pekerjaannya di sana, Elena pun pamit dari sana. Dan ia diantar oleh Roy.
"Roy," panggil Andra, dan itu membuat langkah Roy terhenti saat ia akan mengantar dokter Elena. "Siapkan konferensi pers untuk besok, aku tidak bisa menyembunyikan istriku di hadapan publik."
Karena itu membuatnya sulit untuk bergerak, ia ingin semua orang tahu siapa yang kini menjadi istrinya.
"Baik, Tuan." Jawab Roy sambil mengangguk, lantas, ia pun pergi bersama dokter Elena.
* * *
Keesokan harinya.
Wartawan sudah siap untuk mewawancari pengusaha yang kini tengah viral karena gosip yang tengah melandanya. Karena memang harus jelas, ia pun mengajak istrinya ya itu, Nindya.
Anye pun ikut menemani karena ia takut terjadi sesuatu pada menantunya. Keadaan di sana dijaga ketat, dan acara itu ditayangkan secara langsung di televisi.
Andra membeberkan semua asal mu asal kenapa ia sampai menikah lagi. Meski malu dengan kejadian ini, tapi ini harus ia klarafikasikan agar tak menuduh Nindya sebagai pelakor. Ia juga menceritakan tentang rumah tangganya dengan Aileen.
Hingga semuanya sudah jelas, dan wartawan pun puas akan konferensi pers ini. Acara pun selesai, wartawan semua bubar. Andra sangat lega setelah membeberkan semuanya.
* * *
__ADS_1
Tayang konferensi pers itu langsung menyebar luas, bahkan Aileen sendiri pun melihatnya. Ia sangat terkejut saat tahu ternyata Andra sudah menikahi wanita itu. Bahkan wanita itu kini tengah hamil.
"Lihat, kurang ajar sekali dia. Dia sudah berani mengumumkan istri barunya di depan publik. Laki-laki seperti itu yang kamu harapkan?" tanya Morano pada Aileen. "Papa tidak mau kamu menemuinya apa lagi mengemis cinta darinya."
Ya, Aileen sadar akan hal itu. Niatnya kemarin mengejar pun bukan untuk mengemis cinta darinya. Ia hanya ingin minta maaf atas semua perbuatannya pada Andra. Yang ingin dilakukannya sekarang menjaga kandungannya dengan baik. Sudah cukup hidup dalam kebohongan dan itu membuatnya sangat tidak nyaman.
"Pa, mulai saat ini aku hanya ingin hidupku tenang. Aku sudah tidak mau mempermasalahkan tentang Andra yang mengugatku." Bahkan Aileen sudah berencana untuk meninggalkan Indonesia.
"Tuh, denger. Putrimu saja sudah ikhlas, lagian kejadian ini memang bukan salah Andra 'kan?" ucapnya pada suaminya. "Syukurlah kalau kamu sudah sadar, Ai. Hidup tanpa kebohongan akan bahagia, apa kamu tidak berniat kembali pada Adam?"
"Papa tidak setuju! Mau dikasih makan apa kamu sama dia, hah? Kerjanya saja tidak jelas. Untuk anakmu, Papa masih bisa membiayainya," celetuk Morano. "Apa kamu sudah yakin ikhlas dengan ini?"
"Yakin, Pa."
"Kalau kamu memang sudah yakin, kita tinggalkan Indonesia. Kita buka lembaran baru di sana," kata Morano.
* * *
"Sayang, aku harap kamu tidak lagi memikirkan masalah ini ya? Semua sudah jelas, bahkan surat perceraian pun sudah ada di kantor sidang," kata Andra pada Nindya.
"Aku percaya padamu." Bukan hanya masalah itu yang ia pikirkan, ia juga memikirkan akan nasib ibunya di kampung. Karena gosip kemarin membuat Rahayu jadi bahan perbincangan oleh para tetangga. Semoga dengan pengakuan dari suaminya, semuanya akan membaik seperti biasanya. Tak ada lagi yang mencemooh ibunya.
Dua hari kemudian.
Aileen sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Dan Adam selalu setia mendampingi, meski Morano selalu bersikap tidak baik padanya, ia rela asal bisa bersama Aileen dan menjaga calon anaknya.
Janji Adam bersama Aileen hanya sampai wanita itu melahirkan. Adam tak akan memaksa Aileen hidup bersamanya. Dan hari ini, Aileen sampai di rumah orang tuanya.
__ADS_1
"Pelan-pelan," kata Adam saat Aileen turun dari mobil dan berpindah duduk di kursi roda.
Saat Adam berkata bahwa ia tak akan memaksanya dan akan pergi setelah anak itu lahir, Aileen tak banyak berkata apa pun pada pria itu. Ia hanya menerima apa yang dilakukan Adam padanya. Semua perhatian ia dapatkan darinya, segala apa yang diinginkannya Adam juga yang melayaninya.