Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 23


__ADS_3

Keesokkan pagi, Nindya sudah bergelut di dapur. Ia membantu sang ibu mengerjakan pekerjaan rumah, Nindya memilih untuk memasak. Jika untuk berbenah rumah rasanya ia tak sanggup, entah kenapa kakinya semakin sakit. Kakinya sedikit bengkak.


Sesekali ia melihat kakinya, bahkan mengusapnya. Ibu Rahayu pun melihat putrinya itu, karena penasaran ia menghampirinya. Ibu Rahayu nampak terkejut melihat kaki anaknya yang membengkak. Sepertinya luka itu infeksi.


"Nak, kita ke dokter ya? Ibu takut lukamu itu infeksi."


"Iya, Bu. Ini sakit sekali." Keluhnya sembari mengusap kakinya.


"Siap-siap saja sekarang, Ibu mau ke rumah Bu Dewi dulu. Mau menitipkan adik-adikmu."


Nindya mengangguk, lalu ia pun pergi ke kamar untuk mengganti baju. Sesaat, ia melihat ponselnya. Ingin sekali ia mengbubungi suaminya, tapi ia ingat pesan ibunya. Jadi ia mengurungkan niatnya, alhasil ia meninggalkan ponselnya yang terletak di atas nakas.


"Sudah siap?" tanya Rahayu.


"Sudah, Bu. Nisa dan Panji bagaimana?"


"Mereka sudah ada di rumah Bu Dewi."


Dan akhirnya, Nindya dan Rahayu pergi ke rumah sakit. Nindya berjalan dengan tertatih, dan ibu Rahayu membantunya memapah sampai menemukan angkutan umum. Bukan angkutan umum yang mereka temui, tapi mereka malah bertemu dengan Bayu. Dan pria itu menepikan mobilnya dan langsung keluar dari mobilnya.


"Ibu, Nindya. Kalian mau kemana?" tanya Bayu setibanya di hadapan mereka.


"Mau ke rumah sakit, ini lagi nunggu angkutan umum," jawab Rahayu.


"Saya antar, Bu. Kalau nunggu angkutan umum keburu siang, nanti malah lama nunggu antrian."


Rahayu dan Nindya saling pandang, Nindya menggelengkan kepalanya. Tapi ini sangat mendesak bagi ibu Rahayu, ia juga kasihan melihat putrinya yang harus berdiri lama.


"Gak apa-apa, 'kan ada Ibu." Rahayu meyakinkan putrinya.


Akhirnya, Nindya dan Rahayu pun masuk ke dalam mobil milik Bayu. Pria itu nampak senang meski hanya sekedar mengantar ke rumah sakit. Kini mobil yang dikendarai Bayu berhenti karena berada di lampu merah. Disaat itu juga, mobilnya berpapasan dengan mobil Andra. Nindya melihat mobil itu, ia mengenali mobil suaminya.


"Itukan mobil tuan Andra," gumamnya. Nindya juga melihat keberadaan wanita di kursi kemudi samping, ia juga berpikir kalau itu pasti Aileen.

__ADS_1


Lampu merah berubah hijau, dan sayangnya Andra tak melihat keberadaan Nindya, pria itu terlalu fokus pada kendaraannya. Bahkan saat lampu merah berubah, mobil yang dikendarai Andra langsung melesat sangat kencang.


Entah sengaja atau apa, mobil yang ditumpangi Nindya malah seperti siput. Sepertinya Bayu memang sengaja melakukan itu, ia malah ingin berlama-lama bersama Nindya. Sepertinya Bayu sudah jatuh hati pada gadis yang berada di sampingnya.


"Bayu, apa kamu tidak bisa mempercepat kendaraanmu?" Rahayu nampak kesal karena mobilnya berjalan seperti keong. "Mobilmu ini masih baru, cepat tambah lajunya," protes Rahayu lagi.


"Ibu," protes Nindya. "Bayu sudah baik sama kita, Bu."


"Abisnya, lambat sekali. Bisa kebagian antrian panjang kalau begini caranya."


"Ya udah, Bu. Saya tambah kecepatan mobilnya." Mau tak mau, Bayu menuruti keinginan ibu Rahayu.


* * *


Nindya dan ibu Rahayu sudah sampai di rumah sakit. Nindya dibantu Bayu memapahnya sampai masuk ke dalam. Nindya nampak terkejut ketika melihat siapa yang berada di dalam sana. Begitu pun dengan pria itu, ia sama terkejutnya dengannya.


Andra pun langsung menghampiri, tapi sayang Aileen mencegahnya. Nama Aileen ke buru dipanggil oleh suster.


"Sayang, namaku sudah dipanggil." Aileen menarik tangan Andra untuk masuk ke ruangan dokter.


Andra dan Aileen sudah berada di ruang dokter. Bahkan dokter sedang memeriksanya, disaat Aileen diperiksa, ini kesempatan Andra untuk menemui istri keduanya. Ia pamit kepada Aileen, beralasan ingin ke toilet.


Andra mencari keberdaan Nindya, ia sangat khawatir pada istrinya itu. Terlebih lagi ia melihat Bayu bersama istrinya. Akhirnya, Andra melihat keberadaan Nindya. Gadis itu baru saja keluar dari ruangan dokter yang lain. Cara jalan tertatih, ia langsung menghampirinya.


"Nindya," ucap Andra.


"Tuan," balas ibu Rahayu. "Kaki Nindya bengkak, jadi Ibu ajak ke rumah sakit. Tadi ketemu bersama nak Bayu, jadi dia yang mengantar kami," jelas Rahayu. Ia hanya tidak ingin terjadi salah paham antara menantu dan anaknya.


"Iya, Bu. Gak apa-apa, saya ngerti. Justru saya harusnya minta maaf, saya tidak bisa mengantar is--," ucap Andra menggantung kala Bayu datang menghampiri.


"Maaf, Tuan Andra. Sebaiknya Anda urus saja urusan Anda. Biar Nindya yang menjadi tanggung jawab saya, karena mereka kemari bersama saya," kata Bayu.


Namun, Andra tak menyerahkan istri dan ibu mertuanya begitu saja. Ia menelepon seseorang untuk menjemput Nindya dan ibu Rahayu untuk diantar pulang. Ia tak butuh lelaki itu, dia hanya mengambil kesempatan dalam kesempetin.

__ADS_1


"Ibu dan Nindya tunggu saja di sana." Tunjuk Andra pada sebuah kursi besi yang ada sebrang sana. "Nanti ada orang yang akan menjemput kalian, jangan merepotkan orang lain." Kata Andra sambil menoleh ke arah Bayu.


"Apa maksudmu orang lain?" Bayu tak terima disebut orang lain.


"Kenapa? Kamu 'kan memang bukan siapa-siapa mereka! Kamu pulang saja, biar mereka menjadi urusan saya. Nindya karyawan saya, jadi saya lebih berhak darimu."


Mendengar kata karyawan membuat Nindya menoleh, ada rasa sakit ketika suaminya mengeluarkan kata itu. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, pada kenyataannya ia hanya istri kedua. Bahkan ia juga tidak tahu apa pernikahannya itu resmi secara hukum apa tidak.


"Ya sudah kalau begitu, aku kembali masuk. Kalian langsung pulang saja, nanti aku akan menemuimu setelah ini." Andra pergi dari hadapan istri dan mertuanya, ia kembali menemui istrinya yang masih di ruangan dokter.


* * *


"Sehat-sehat ya," ucap dokter pada Aileen.


"Terima kasih, Dok." Balas Aileen sambil menjabat tangan dokter itu. Disaat Aileen akan keluar, disaat itu pula Andra masuk. Tapi sayang, ia jadi tak tahu akan kondisi istrinya. Tadinya ia ingin menanyakan keadaan istrinya itu pada dokter, tapi Aileen langsung mengajaknya keluar.


Di dalam perjalanan pulang menuju hotel, Aileen termenung. Ia melamun, bahkan Andra sampai bingung ketika melihatnya. Biasanya wanita itu selalu bergelayut manja di bahunya, tapi kali ini tidak. Andra tak peduli akan hal itu, ia merasa aneh saja. Tapi ini lebih baik menurutnya.


Hingga sampailah mereka di hotel.


"Aku akan kembali ke Jakarta sekarang juga, apa kamu masih lama berada di sini?" tanya Aileen.


"Sepertinya masih lama, urusanku belum selesai. Kenapa mendadak ingin pulang? Kamu tidak apa-apa 'kan?" Andra penasaran, apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu?


"Aku mau istirahat saja di rumah, keberadaanku memang tak diharapkan di sini," lirihnya.


"Jangan membuatku merasa bersalah seperti ini, Aileen. Bukankah kamu tahu apa sebabnya?"


"Semua orang punya masalalu, Andra."


"Sudahlah, aku tidak mau ribut denganmu. Kalau ingin pulang, pulanglah. Aku akan berada di sini sampai urusanku selesai."


...----------------...

__ADS_1


Mampir di sini yuk.



__ADS_2