
Hari-hari terlewati begitu saja, hidup dengan damai hingga tak terasa kehamilan, Nana, Nindya juga Hanum tumbuh besar secara bersama-sama. Nindya dan Nana sering memeriksa kandungannya bersamaan, dengan dokter yang sama pula. Siapa lagi kalau bukan Elena, seorang dokter kandungan yang tak lain adalah sahabat mereka sendiri.
Dan hari ini pun tepat dibulan ke delapan Nindya memeriksakan kandungannya. Nindya konsultasi pada Elena akan kelahiran anaknya yang diperkirakan lahir 2 minggu lagi. Ia sendiri lahir secara sesar sehingga bisa mengatur tanggal untuk kelahiran anaknya yang berjenis kelam*n laki-laki itu.
Sedangkan Nana, ini yang pertama kali baginya. Jadi ia benar-benar harus menunggu kontraksi, bahkan sering terjadi kontraksi palsu. Padahal, kelahiran yang diperkirakan 1 bulan lagi.
Selama tinggal dengan Rahayu, Hanum hidup berkecukupan. Semua kebutuhan sudah disiapkan oleh Andra juga Nindya. Hanum sering merasa tidak enak dengan perlakuan Rahayu yang begitu baik padanya, ia juga sering berkata, setelah melahirkan nanti ia akan bekerja dan mengganti semua yang sudah ia terima dari keluarga Rahayu, terlebih pada Nindya. Wanita yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.
Orang asing terasa begitu dekat, sedangkan keluarganya, tak ada yang mencarinya sama sekali. Entah akan seperti apa hidupnya jika tidak bertemu dengan keluarga Rahayu. Ia sangat berhutang budi pada keluarga itu.
* * *
Tepat hari ini, hari dimana Nindya akan menjalani operasi untuk kelahiran anaknya yang ketiga. Keluarga Rahayu pun akan segera berangkat ke kota untuk menyambut kelahiran cucunya yang ketiga. Saat mereka akan berangkat tiba-tiba saja Hanum meringis.
"Aduh, perutku." Hanum menyentuh perutnya yang terasa keram.
"Kamu kenapa?" tanya Rahayu, wanita paruh baya itu pun tidak jadi masuk mobil karena melihat keadaan Hanum, "keram lagi?" tanya Rahayu.
"Iya, Bu," jawab Hanum.
"Ayok, Ibu bantu masuk ke dalam." Rahayu memapah Hanum masuk ke dalam rumah, "Nisa ... Nisa ...," panggil Rahayu.
"Iya, Bu," jawab Nisa. Dan Nisa pun datang menghampiri ibunya yang sedang membantu Hanum berjalan. "Mbak Hanum kenapa, Bu?"
"Bantu Mbak-mu istirahat, perutnya sakit," titah ibunya. Nisa pun membantunya. Namun, dimenit berikutnya. Hanum merasakan nyeri tapi bukan nyeri seperti biasa. Ini sakit, sangat sakit.
"Bu, kok, aku merasakan sesuatu ya," kata Hanum.
"Apa?" tanya Rahayu. Hanum yang sudah duduk pun kembali berdiri, pakaian bawahnya sudah terasa lembab dan ia pun menyentuhnya.
__ADS_1
"Basah, Bu. Ini cairan apa ya?" tanya Hanum tidak tahu.
"Basah? Apa mau melahirkan?" Rahayu panik, bagaimana ini? Sedangkan ia harus ke kota untuk menemani anaknya yang akan melahirkan juga. "Yah, Ayah ..." Rahayu memanggil suaminya.
"Iya, Bu. Ada apa?" tanya Halim.
"Kayaknya Hanum mau melahirkan, kita harus segera membawanya ke rumah sakit."
"Iya, Bu. Kita berangkat sekarang," ajak Halim.
"Nisa, kamu hubungi kakakmu, bilang padanya kalau Ibu dan Ayah tidak jadi berangkat karena harus membawa Hanum ke rumah sakit," titah Rahayu pada Nisa.
"Iya, Bu." Nisa dengan sigap menghubungi Andra.
* * *
"Cepat, Yah. Kasihan Hanum," ucap Rahayu cemas.
"Maafkan aku ya, Bu. Aku sudah banyak merepotkan Ibu, tapi setelah melahirkan nanti aku janji tidak akan merepotkan Ibu lagi. Kebaikan Ibu melebihi orang tuaku. Aku sayang, Ibu."
Rahayu tak menjawab, ia hanya mengusap perutnya terus menerus sampai akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Bukan rumah sakit pada umumnya, hanya sebuah rumah sakit yang hanya ada bidan dan perawat untuk membantu proses persalinan.
* * *
"Sudah pembukaan tujuh, ini tidak akan lama lagi," ucap seorang bidan yang biasa Hanum memeriksa kandungannya. Hanum memilih bidan dari pada dokter, karena menurutnya biaya bidan lebih murah ketimbang dokter.
Hanum banyak merepotkan, dan disaat melahirkan pun ia tak ingin memakan banyak biaya. Padahal, Rahayu dan Halim berniat membawanya ke rumah sakit besar, tapi Hanum menolak. Cukup hanya dengan jasa bidan ia percaya kalau masa lahirannya akan lancar-lancar saja.
Hanum terus mengedan karena ia ini sudah pembukaan terakhir, napasnya sudah mulai ngos-ngosan.
__ADS_1
"Tarik napas Bu, Hanum," suruh bidan.
Hanum pun nurut apa yang diperintahkan oleh bidan. Terus dan terus berusaha hingga ia sudah mulai terasa lemas, dan kehabisan tenaga. Cukup lama dengan keadaan seperti itu, infus mulai dipasang dan oksigen pun mulai dipasang.
Hanum benar-benar sudah sangat lemas. "Bu, aku sudah tidak kuat," keluh Hanum, tak terasa air mata terjatuh tak tertahankan. Hingga muncullah wajah-wajah yang dirindukannya selama ini, "Mama," ucap Hanum.
"Ada Ibu di sini, Ibu juga Ibumu juga." Rahayu terus menemani sampai ia tak meninggalkannya sedetik pun. Ia masih ingat bagaimana proses persalinan saat Nindya dulu. Semua tenaga terkuras habis, rasanya akan mati saat itu juga.
Apa lagi Hanum, ia tak didampingi tanpa keluarga, terlebih seorang suami. Rahayu pun ikut meneteskan air matanya karena sedih melihat nasib Hanum.
"Dicoba lagi ya, Bu Hanum. Semoga ini bisa membantu proses persalinan." Bidan melakukan tindakan, yang di mana ia harus menggunting bagian bawah Hanum, untuk memperlancar bayi untuk keluar. Disaat itu juga Hanum mengaduh, sudah jatuh tertimpa tangga, kata pepatah.
Hanum menarik napas, dan ia mulai mendorong dengan kuat, sekali gagal, dua kali gagal. Terus dan terus mencoba, pada akhirnya suara bayi pun terdengar.
"Alhamdulilah," ucap bidan dan Rahayu secara bersamaan.
"Selamat ya Bu, Hanum. Anaknya perempuan, cantik sekali seperti Mama-nya," puji bidan itu. Sang bayi pun mulai dibersihkam oleh asisten bidan itu. Dan bidan sendiri mengurus ibu bayi sampai selesai. Jeritan kembali terdengar saat bidan melakukan pekerjaannya, ia memberikan jahitan di bagian bawah Hanum yang robek tadi akibat digunting.
Setelah bayi dibersihkan, bidan memanggil Halim untuk mengadzani bayi yang baru lahir itu. Dan untuk Hanum, bidan menyuruhnya untuk istirahat.
"Yah, setelah mengadzani bayi Hanum, Ayah pergi keluar ya? Beli makan untuk Hanum, kasihan dia belum makan," kata Rahayu.
"Iya, Bu. Ayah adzani dulu." Suara adzan mulai berkumandang, Hanum menangis dalam keadaan mata terpejam. Ia sangat sedih ketika anaknya harus diadzani oleh orang lain, suaminya kini entah di mana, ia sendiri tidak tahu.
Halim sudah selesai mengadzani, dan mulai keluar untuk membelikan makan untuk Hanum. Tak lama, ia pun sudah kembali. Rahayu masih setia menemani Hanum yang masih tidur dengan pulas.
"Ini, Bu. Makanannya." Halim memberikan makanan itu pada istrinya.
Dan Rahayu mulai membangunkan Hanum. "Bangun, Nak. Makan dulu." Rahayu menyentuh lengan Hanum. Tapi, ia merasa tangan itu sangat dingin saat disentuhnya, "Hanum, Hanum." Rahayu mulai menguncangkan tubuh Hanum, tapi tetap tak bergeming.
__ADS_1
"Yah, Hanum kenapa? Kenapa dia tidak bangun-bangun," ucapnya pada suaminya, "HANUM ...." Rahayu menjerit.