
Hari ini juga Roy langsung membuat jadwal pertemuan dengan Adam Bagaskara. Bukan hanya mengenai proyek yang akan dibangun dengannya, ia juga akan mengulik tentang hubungannya dengan Aileen. Roy memang belum memiliki bukti akan perselingkuhan itu, karena selama memantau Aileen, wanita itu tak lagi menemui pria mana pun termasuk Adam.
Akan agak sulit mencari bukti kebersamaan mereka karena Aileen pasti menjaga jarak dengan Adam. Bukan Roy namanya kalau tak bisa memecah permasalahan ini, ia memiliki seribu cara untuk mengambil bukti tersebut.
"Tuan Adam, proyek yang akan dibangun sudah di acc oleh tuan Andra. Persiapkan untuk pertemuan besok," kata Roy melalui percakapan lewat sambungan telepon.
Adam pun tersenyum ketika mendapati kabar baik itu. Setelah Aileen memutuskan hubungannya mereka tak lagi bertemu, Aileen tak pernah menjawab panggilan darinya. Adam merasa tak lagi berguna ketika ia dicampakan. Adam begitu mencintai kekasihnya, pekerjaan ini akan menjadi jalan untuk mereka bisa bertemu kembali.
"Aku akan membuatmu membutuhkanku, Aileen. Kamu tidak bisa membuangku setelah mendapatkan pria yang lebih baik dariku," ucap Adam.
* * *
Aileen kembali memutar otak, bagaimana caranya mertuanya memihak padanya? Mendapatkan cinta Andra tentu mustahil baginya.
"Ayo Aileen, cari cara." Meski sedang pusing ia terus mondar-mandir tidak jelas sambil menggigit jari, padahal ia disuruh istirahat oleh mertuanya.
Wiliam dan Anye memberi waktu pada menantunya itu untuk beristirahat. Sementara mereka sedang menasehati Andra agar bisa mencintai istrinya.
"Daddy bingung padamu, Andra. Apa yang kamu pikirkan? Kenapa kamu bisa menuduh istrimu selingkuh? Kenapa tidak mau mengakui bahwa itu adalah darah dagingmu?" tanya Wiliam.
Anye yang baru mendengar itu nampak terkejut.
"A-apa maksudmu tidak mengakui anakmu? Apa itu caramu untuk menutupi perselingkuhanmu?" Anye merasa sesak di dada, apa kata Aileen itu memang benar bahwa anaknya itu memiliki hubungan dengan Nindya?
"Maksudmu?" tanya Wiliam pada istrinya.
"Aileen bilang Andra memiliki hubungan dengan Nindya," jelas Anye pada suaminya.
"Apa! Apa itu benar, Andra?" tanya Wiliam pada putranya.
Apa Andra harus jujur? Tapi ia belum siap untuk mengungkapkan itu semua, ia tahu seperti apa papanya itu. Tidak, belum saatnya mereka tahu akan pernikahannya.
"Tidak, Dad. Apa Mommy dan Daddy lebih percaya pada Aileen dari pada putra kalian sendiri?"
Andra terpaksa berbohong demi keselamatan istrinya juga keluarganya. Ini jalan satu-satunya agar orang tuanya percaya padanya dan masih bersikap baik pada Nindya.
"Kalau sampai Daddy tahu kalau kamu memiliki hubungan khusus dengan pembantu itu, kamu akan tahu akibatnya. Mau ditaro di mana muka Daddy jika kamu menjalin hubungan dengan seorang pembantu?"
__ADS_1
Anye semakin sesak, jantungnya terasa sangat sakit. Bagaimana pun ini kabar yang tak mengenakan baginya, baru kali ini ia melihat suami dan anaknya bertengkar.
"Mom." Andra melihat sang mommy dengan khawatir. "Mommy tenanglah, apa pun yang dikatakan Aileen itu tidak benar!" Lagi-lagi Andra menutupi pernikahannya.
Anye tak lagi bisa menahan rasa sakit di jantungnya sampai ia jatuh pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit.
"Puas sudah membuat mommy-mu masuk rumah sakit? Hentikan kecurigaanmu terhadap istrimu. Aileen berasal dari keluarga baik-baik, mana mungkin ia menjalin hubungan dengan pria lain?" kata Wiliam yang sedang menemani istrinya di rumah sakit.
Anye masih belum sadar, dan Andra tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak ingin sang mommy memikirkan hal ini, dan ia juga harus melindungi istrinya sementara waktu dari amukan Wiliam. Tapi ia tetap melakukan rencananya tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Andra tetap setia menunggu sang mommy sampai sadar. Sedangkan Aileen, wanita itu merasa aman karena Wiliam tak ingin membahas masalah yang menurutnya itu mustahil.
Meski waktu itu gagal, tapi Aileen merasa beruntung karena sudah dipergoki oleh mertuanya. Pada akhirnya ia berhasil membuat Wiliam percaya bahwa anak yang dikandungnya itu adalah cucunya.
Selama Andra di rumah sakit, Roy yang bekerja. Ia mengerahkan beberapa orang handal untuk memantau Aileen juga Adam. Dan ia berhasil menyadap ponsel Aileen dengan menyuruh hacker.
"Kau tidak akan bisa lari, Nona Aileen." Roy menyeringai penuh kemenangan. Namun agak sulit baginya untuk menyampaikan ini pada nyonya Anye, tapi secara perlahan ia akan memberikan bukti itu padanya.
* * *
Gelas terjatuh yang tak disengaja oleh Nindya, perasaannya mendadak tidak enak. Rahayu yang mendengar itu langsung menemuinya.
"Ada apa, Nak?" tanya ibu Rahayu.
"Gak apa-apa, Bu. Ini hanya kesenggol," jawab Nindya yang menutupi kegelisahannya. "Apa terjadi sesuatu di kota?" batin Nindya. Sepulangnya sang suami, ia memang tak enak hati. Apa lagi ia tahu kalau Aileen wanita licik, ia takut terjadi sesuatu pada suaminya di sana.
"Sudah malam, sebaiknya kamu istirahat. Biar Ibu yang membereskan ini semua."
"Bu, apa aku ke kota besok? Kok aku gelisah tidak tahu kabar Andra."
"Tapi, bagaimana dengan kaki-mu?"
Rahayu masih khawatir akan Nindya, apa lagi Andra belum mengabari semenjak kepulangannya. Ia juga merasa takut dengan Lee, pria yang hampir memperkosa anaknya.
"Apa tidak menunggu kabar darinya?"
"Lalu aku harus bagaimana, Bu?" Mungkin Nindya memiliki batin yang cukup kuat pada suaminya, ia rasa sauminya sedang membutuhkannya. Mungkin jika keberadaannya ada di sana bisa membuat sauminya tenang, itu pikirnya.
__ADS_1
"Tunggulah kabar dari suamimu dulu, mungkin dia masih sibuk dengan istrinya di sana. Tidak mudah untuk semua ini, Nak. Suamimu pasti sedang mengurusnya, kamu ingat pesan Ibu 'kan? Jangan menghubunginya lebih dulu."
Nindya pun akhirnya nurut, kini ia pergi ke kamar untuk istirahat dan meninggalkan ibunya yang hendak membersihkan pecahan gelas yang terjatuh tadi.
Keesokan harinya.
Nindya terus menunggu kabar dari suaminya, hingga hari terus berganti. Sudah empat hari ini tidak ada kabar dari suaminya itu. Kegelisahan semakin menjadi.
"Aku harus ke kota sekarang," ucap Nindya.
Kini ia mengemas semua baju-bajunya ke dalam tas miliknya. Hingga beberapa saat ia mendengar suara mobil berhenti dan sepertinya berhenti tepat di depan rumah miliknya.
"Nak, ada yang datang," kata ibu Rahayu. "Keluarlah," pintanya kemudian.
"Iya, Bu. Siapa?" tanya Nindya setibanya di hadapan sang ibu.
"Katanya Andra yang nyuruh."
Nindya tersenyum, kini ia akan berangkat karena orang suruhan suaminya sudah menjemputnya.
"Bu, akun pamit ya?" Nindya memeluk ibunya dengan hangat.
"Hati-hati ya, Nak. Kabari Ibu jika sudah sampai."
Nindya mengangguk lalu keluar dari dalam rumah. Ia melihat beberapa orang di dalam mobil, salah satunya ia mengenali orang itu. Orang yang biasa terlihat di rumah utama.
Dan Nindya pun segera naik ke dalam mobil, ia melambaikan tangan pada ibu dan kedua adiknya.
...----------------...
Siapa yang jemput Nindya?
Apa iya itu Andra?
Saksikan terus kelanjutannya, jangan lupa beri othor dukungan sebanyak-banyaknya, insyaallah akan ada give uway loh di novel ini, tapi dengan syarat popnya melejit๐ , jadi pantengin terus, akan ada hadiah untuk 3 orang pemenang. Jangan lupa promosikan juga cerita ini di sosmed kalian semoga pembacanya semakin banyak ya, amin.
follow akunku ini, terima kasih untuk pembaca setia GCSM๐๐๐
__ADS_1