Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 149 Bahagia Dengan Kesederhanaan


__ADS_3

Lelah, akhirnya Nindya juga anak-anaknya tidur. Suaminya pun ikut tidur sampai mereka tak makan malam. Rahayu tadinya ingin membangunkan mereka, tapi tak tega. Apa lagi pada Nindya yang harus banyak istirahat pasca melahirkan secara sesar.


Hingga tengah malam, Nindya terbangun karena lapar. Ia menyusui jadi lebih cepat terasa lapar. Tidak ingin mengganggu suaminya, ia pun keluar kamar tanpa membangunkan suaminya. Ia pergi ke dapur berniat untuk membuat makanan. Tapi ia melihat meja makan terlebih dulu, di atas meja sana ada ayam goreng serta sambal kentang.


Itu saja sudah menggugah seleranya, apa lagi jika dimakan dengan nasi hangat. Ia langsung mengambil piring dan mulai makan sendiri. Sampai pertengahan makan, suaminya datang karena ia pun merasakan lapar.


"Sayang, kamu lagi apa?" tanya Andra saat melihat punggung istrinya dari belakang. Nindya pun menoleh sambil nyengir kuda.


"Lagi makan, Mas laper? mau makan juga?" tanyanya. Andra mengangguk, lalu duduk di samping istrinya.


"Aku ambil piring dulu." Nindya hendak beranjak tapi dicegah oleh suaminya.


"Tidak usah, kita makan disatu piring saja."


"Tidak apa-apa emang?"


"Tidak apa-apa," jawab Andra, "sudah lama kita tidak seperti ini, aku kangen masa-masa dulu." Andra tersenyum sambil meraih sendok yang terletak di atas piring, dan ia mulai menyuapi istrinya makan. Setelah itu giliran istrinya yang menyuapinya.


Mereka seperti yang sedang pacaran, karena sewaktu dulu mereka tak sempat pacaran. Saat mereka saling suap-suapan, Rahayu datang. Andra sampai malu dibuatnya, wajahnya bersemu merah. Tapi Rahayu cuek saja, seolah tak melihat adegan romantis anak dan menantunya.


Sedangkan Nindya terus memperhatikan ibunya, apa ibunya tak melihatnya sampai secuek itu, pikirnya. Rahayu hendak membuatkan susu untuk Dewi, setelah selesai ia buru-buru kembali karena tak ingin mengganggu mereka. Setelah kepergian sang ibu, Nindya dan Andra mulai bersuara kembali.


"Mas, apa iya ibu tak melihat kita?" tanya Nindya.

__ADS_1


"Mungkin lagi buru-buru sampai tidak memperhatikan kita." Andra malah senang kalau ibu mertuanya tak memperhatikannya dalam keadaan suap-suapan. Bukan apa-apa ia merasa sudah tua jika harus terciduk dalam kondisi seperti ini. Usia Nathan dan Nala saja sudah 6 tahun lebih, jadi usianya kini sudah menginjak 35 tahun. Ini sungguh memalukan baginya.


"Aku sudah kenyang, Mas. Apa kamu masih mau nambah?"


"Tidak, Mas juga sudah kenyang. Kita balik ke kamar saja," ajak Andra.


"Oh iya, Mas Roy kemana? Aku sampai lupa sama dia?"


"Tadi dia bilang mau nginap di hotel, besok pagi dia kesini karena mau ikut mengunjungi makam Hanum," jawab Andra


Nindya tak lagi bercakap, ia berjalan menuju kamar dan di belakang suaminya mengekor. Tiba di kamar, Nindya sudah tidak kebagian tempat tidur. Nathan dan Nala menguasi tempat tidurnya. Nindya hanya menghela napas saat melihat cara tidur kedua anaknya.


"Biar Mas yang betulin mereka." kata Andra sambil menghampiri kedua anaknya. Andra memposisikan Nathan dan Nala, sehingga istrinya dapat tidur di sana. Sedangkan ia tidur di sofa panjang yang di dekat jendela. Nathan tumben tidak mau tidur dengan Panji, biasanya mereka akrab jika saat bertemu.


'Hidup mewah karena anaknya nikah sama orang kaya, apa lagi hasil merebut suami orang'


Mungkin, Rahayu tidak mau sampai kata-kata itu terdengar di telinganya. Jadi ia lebih memilih hidup seadanya asal bahagia dan jauh dari kata-kata menzolimi-nya. Terbukti, para tetangga selalu bersikap sopan kepada keluarga Halim karena ibu Rahayu sering membagikan sedikit rezekinya kepada orang yang sangat membutuhkan. Jadi keluarga tentram dan damai.


Nindya membawakan bantal dan selimut, lalu memberikannya pada suaminya.


"Maaf, harus tidur dalam keadaan seperti ini." Ucap Nindya sambil memberikan selimutnya.


"Tidak apa-apa." Andra memaklumi karena ibu mertuanya sudah memberikan alasan kenapa rumahnya tak ingin dibedah habis-habisan. Jadi Andra hanya merubah bagian depan dan menambah kamar Nisa dan Panji. Kamar Nindya tidak ada yang berubah, posisinya masih sama seperti dulu. Hanya terlihat lebih rapi dan kasur empuk. Andra juga ingat di mana pertama kali ia tidur di kamar ini. Kasur yang keras, sempit pula. Untung tidur berdua, mungkin jika sekarang tidak akan muat.

__ADS_1


Apa lagi Nathan dan Nala tidur bagaikan gangsing. Akhirnya, Nindya dan Andra pun tidur di tempat yang berbeda. Meski begitu, mereka bahagia. Bahagia dengan kesederhanaan.


* * *


Keesokkan harinya.


Pagi-pagi, Nindya sudah siap. Ia akan mengunjungi tempat peristirahatan Hanum. Ia pergi bersama suaminya, Rahayu, juga Roy. Sedangkan anaknya-anaknya masih tertidur. Jika mereka terbangun pun masih ada Halim di rumah, karena ia akan pergi ke kantor agak siang setelah yang lainnya pulang dari TPU.


Langkah Nindya terasa berat saat tiba di TPU, matanya sudah menggenang. Mungkin kalau ia berkedip sekali saja, sudah dipastikan air mata itu akan jatuh tak tertahankan.


"Hanum ..." Nindya berjongkok di samping batu nisan Hanum. Air mata terjatuh begitu deras, ia menyentuh batu nisan dan mengusapnya lembut. Terakhir bertemu dengan Hanum saat usia kandungannya menginjak 7 bulan, di mana Hanum datang ke kota untuk mengikuti acara 7 bulanannya.


Ayat suci berkumandang, Rahayu, Andra, juga Roy melantunkan ayat-ayat suci itu. Terkecuali Nindya, ia baru melahirkan dan belum sampai 40 hari, jadi ia belum bisa ikut mengaji. Mereka berharap doa yang dipanjatkan diterima oleh sang pencipta. Berharap, Hanum tenang di sisi-Nya.


Sampai akhirnya, mereka pun selesai berdoa. Nindya janji pada Hanum, bahwa ia akan menjaga Dewi sebaik mungkin.


"Hanum, semoga kamu tenang dan bahagia di sana. Kamu tidak perlu khawatir akan Dewi, aku dan Ibu akan menjaga anakmu sampai besar nanti," janji Nindya pada mendiang Hanum.


"Ibu juga pamit ya, Nak." Rahayu mencium batu nisan, seolah ia sedang mencium kening Hanum. Dan akhirnya mereka berempat kambali ke rumah.


Saat di perjalanan pulang, para warga langsung keluar dari rumahnya, karena ingin melihat pimpinan secara langsung. Pemilik pabrik besar yang ada di daerahnya. Ada juga yang mengintip di balik jendela. Melihat ketampan Roy dan Andra membuat mereka sangat antusias.


Tapi, mereka tak mengedahkan para warga. Mereka berjalan seperti biasa. Akhirnya sampai di rumah, dan itu membuat Andra dan Roy merasa lega.

__ADS_1


__ADS_2