
Andra keluar dari rumah sakit, tapi ia melihat wartawan berkeliaran di depan sana. Untung, ia menggunakan jaket yang ada penutup kepalanya. Menggunakan kacamata hitam serta masker di wajahnya. Sampai ia melewati wartawan itu, mereka tak menyadari bahwa orang yang dicarinya tengah melintas di hadapannya.
Saat ini, Andra memang tak aman. Bahkan ia merasa khawatir akan istrinya, mungkin mereka juga pasti mencari informasi mengenai siapa wanita yang bersamanya kemarin. Hingga akhirnya ia sampai di mobil, dan Roy tengah menunggunya.
"Kau lama sekali tadi," gerutu Andra. Pasalnya, Andra datang ke rumah sakit tak bersamanya karena Roy harus mengantar dokter Elena sampai rumah sakit. Kejadian tadi membuat keluarga Wiliam khawatir kalau wartawan akan mengikuti dokter Elena sampai mendapatkan informasi mengenai Andra.
"Siapa nama dokter itu?" tanya Roy.
"Elena."
"Ya, dia. Dia itu cerewet sekali, tadi harus menepi dulu karena dia kebelet. Terpaksa mampir ke mini market untuk buang air," jelas Roy.
"Dia cukup cantik, Roy. Apa kamu tidak tertarik sedikit pun padanya? Dia single loh."
Roy memutar bola matanya, ia tak tertarik pada wanita itu. Wanita yang biasa mengomel bukanlah tife-nya, ia suka wanita yang lemah lembut seperti wanita yang ia kenal sewaktu dulu. Sayang, ia harus terpisah dengan gadis itu karena orang tuanya tak setuju dekat dengannya.
Sampai wanita itu pergi bersama orang tuanya ke luar negri. Roy sempat mencari, tapi pencariannya nihil. Wanita itu menghilang bagai ditelan bumi.
Dulu, Roy seorang pengangguran. Karena terhina, ia memberanikan diri bergabung dengan geng mafia yang kini sudah membesarkan namanya, dan sekarang, ia tak lagi bergabung dengan geng mafia itu karena sekarang ia bekerja bersama Andra.
"Tife wanitamu itu seperti macam mana, Roy? Selama bekerja denganku aku tak pernah melihat atau tahu kamu berkencan dengan wanita. Kamu normal 'kan?" Kali ini, Andra berani menanyakan akan hal itu. Pertanyaan yang sudah lama ia pendam sejak dulu.
"Tentu normal," jawab Roy acuh. Ia fokus pada kendaraannya. Sampai tak terasa, mereka sampai di kantor. Bahkan di kantor pun sudah banyak wartawan, wartawan itu tidak akan berhenti selagi belum mendapatkan informasi yang akurat.
"Bagaimana ini, Tuan? Banyak sekali wartawannya," kata Roy. "Kalau seperti ini terus, bisa-bisa istri Anda pun dalam bahaya. Mereka pasti mencari informasi lain," sambung Roy.
Setelah Morano memberikan berita tentangnya, para wartawan lebih mengincar keluarga Wiliam ketimbang Aileen, karena yang mereka tahu, Aileen masih terbaring lemas di rumah sakit.
"Terpaksa kita harus adakan konferensi pers," kata Andra. Tak ada pilihan lain selain memberikan penjelasan yang lebih akurat. Ia juga tak bisa diam saja jika nama baiknya tercoreng, sebenarnya ia tak ingin memperbesar masalah dengan Aileen, jika masih bisa diselesaikan dengan secara kekeluargaan kenapa tidak.
Tapi Morano sudah memberikan berita miring tentangnya di awak media. Mau tak mau, ia harus membeberkan kebenaranya.
"Apa kita jadi ke kantor?" tanya Roy.
__ADS_1
"Putar balik saja, aku jadi khawatir dengan istriku." Dan ia juga harus mempersiapkan untuk jumpa pers.
Roy pun memutar balik mobilnya dan memilih untuk pulang.
* * *
Setelah kepergian Andra. Aileen, mencoba bangkit dari tempatnya. Saat tadi pun ia hendak mengejar, tapi apalah daya, ia tak bisa berbuat apa-apa. Dokter sudah menyarankan padanya untuk tidak banyak bergerak karena luka di perutnya masih belum kering.
Akibat itu, kini perutnya kembali mengeluarkan darah. Aileen kesakitan, tak lama dari situ Morano kembali bersama istrinya. Bahkan pria sangat terkejut melihat putrinya yang sedang berdiri sambil berpegangan pada sisi brankar.
"Apa yang kamu lakukan?" ucap Morano.
Dan disaat itu juga, Adam datang.
Morano melihat pria itu baru datang. Ia langsung saja menghampirinya.
"Dari mana saja, kau! Katanya mau menjaga putriku, hah!" Morano menarik kerah kemeja yang dikenakan Adam, pria itu nampak murka padanya.
Tanpa sadar, itu malah membuat Aileen terasa semakin sakit. Adam tak meladeni Morano, ia langsung menghempaskan tangan pria itu dari cengkramannya. Adam segera membantu Aileen merebahkan tubuhnya di brankar, dan setelah itu ia memencet tombol untuk memanggil dokter.
"Kurang ajar!" Morano tak lagi bisa membendung amarahnya, pria itu segera saja pergi.
Lidia pun mengejar suaminya.
"Kumohon jangan pergi, bagaimana dengam putrimu?" cegah Lidia.
Morano menghentikan langkahnya, ia jadi serba bingung harus berbuat apa. Andra datang disaat ia lengah. "Aarrgghh ..." Morano menjambak rambutnya sendiri. Tapi ia kembali menemani anaknya yang sedang kesakitan.
* * *
"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya dokter. "Lukanya masih basah, Nona Aileen jangan banyak bergerak," sambung dokter.
"Ini semua karena kelalayanmu, andai kau tak menjanjikan akan menjaga putri dengan baik, mungkin aku akan menyuruh anak buahku berjaga di sini," cetus Morano pada Adam.
__ADS_1
"Apa ini salahku juga?" batin Adam. Kalau tak menghargainya sebagai orang tua Aileen, Adam sudah pasti menghajarnya karena selalu menyudutkannya. Bukankah ia sendiri yang tak menginginkan keberadaannya di sini? Tapi kenapa saat ada kejadian ini malah ia yang disalahkan?
"Maaf, Tuan. Ini rumah sakit, tolong jangan buat keributan. Sebaiknya kalian keluar, biar dokter menangani pasien dengan tenang. Luka Aileen cukup serius, dokter harus kembali menjahit luka yang kembali robek itu," jelas suster.
* * *
"Ya, Tuhan ... Semoga saja tidak berpengaruh pada kandungannya," batin Adam.
Morano kembali menghampiri Adam, bahkan ia memberikan pukulan di wajahnya.
Bugh ...
"Itu hukuman untukmu karena sudah meninggalkan putriku!" amuk Morano.
"Hentikan, ribut tak ada gunanya," cegah Lidia.
"Aku harus menemui Wiliam, Andra datang kemari dan membuat keonaran di sini. Kalau terjadi pada putriku bagaimana?"
Lidia tak bisa mencegah kepergian suaminya, pria itu sudah terbakar api karena emosi.
* * *
"Wiliam ... Keluar kau!" kata Morano setelah tiba di rumah Wiliam.
Dan yang datang menemuinya adalah Andra. Tak berpikir lagi, Morano langsung menghajar Andra membabi buta. Keributan itu sampai membuat kebisingan, dan Andra tersungkur akibat pukulan itu dan mengenai pas bunga.
Karena tadi Andra sedang bersama Nindya, kini wanita itu datang menemui suaminya.
"Hentikan, tolong hentikan!" Nindya meraih tubuh suaminya yang tersungkur, akibat mendapatkan serangan tiba-tiba membuatnya kecolongan.
"Jadi ini wanitanya, berani sekali dia ada di sini. Oh, aku tahu. Kalian membobongi putriku?" Adanya Nindya di sini membuat Wiliam berpikir bahwa orang tua Andra pun ikut andil.
"Apa bedanya kamu dengan putriku, hah? Kalian menyudutkan putriku seakan dia yang salah. Tapi lihat, perempuan ini ada di sini." Tunjuknya pada Nindya.
__ADS_1
"Aku bisa menuntutmu balik!" kata Morano.
Nindya yang ketakutan menjadi tertekan, ditambah usia kehamilannya yang masih terbilang muda, wanita itu jatuh pingsan karena takut akan Morano yang akan menuntutnya.