Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 111


__ADS_3

Akhsa dan Nana pergi ke sekolah di antar Adam. Saat tiba di sana, Nana tak langsung keluar dari mobilnya. Ia dicegah oleh Adam dan tangannya ditahan. Nana melihat ke arah tangannya yang dicekal oleh pria yang ia sukai selama 5 tahun ini. Butuh kesabaran selama Nana memendam perasaannya itu.


Terkadang, Nana terbawa suasana saat Adam bersikap baik dan manis padanya. Tapi ia cukup sadar, bahwa hanya mama kandung Akhsa yang selalu menempati hatinya.


Kamu seperti menarik ulur hatiku, Mas. Apa kamu memiliki perasaan padaku? Pandangan Nana tak teralihkan dari tangannya, hingga Adam pun merasa tak enak. Ia melepaskan tangan itu dalam sekejap.


"Maaf, Na. Aku tidak bermaksud-."


"Iya, Mas. Tidak apa-apa, ada yang mau diomongin lagi gak? Kalau gak ada aku keluar sekarang mau nyusul Akhsa."


"Aku ingin bicara empat mata denganmu, tapi nanti saja setelah aku pulang kerja."


"Ah, iya, Mas. Aku turun dulu kalau begitu."


Nana pun akhirnya turun dari mobil, sebenarnya ia begitu penasaran dengan apa yang akan dibicarakan nanti. Dengan ketidaksabarannya, Nana terus menanti kepulangan sekolah


* * *


"Aku tidak percaya itu Mama-mu, dia tidak mirip denganmu," kata Dika salah satu temannya yang sering meledeknya.


"Kalau tidak percaya, itu terserahmu. Kamu jangan lagi mengatainya tidak punya mama, dia sudah membuktikannya padamu juga pada teman-teman yang lain," sahut Alma yang baru saja tiba.


Alma paling muda dari teman-temannya yang lain, meski begitu, anak gadis itu yang paling berani. Sikap Alma yang galak mewarisi sang mama. Dan dia disegani oleh teman-temannya, bahkan saat Dika mengatai Akhsa pun langsung undur diri dari hadapan Akhsa.


"Lawan dong, Sa. Jangan melempem begitu jadi laki-laki," oceh Alma.


"Iya, kamu jangan diam saja," sahut Nathan dan Nala.


Alma sering kali membantu Akhsa, Akhsa bukan tak ingin melawan. Pada kenyataannya, ia memang tak memiliki mama. Hanya Alma, Nathan dan Nala yang tahu semua tentangnya.


Akhsa tak menjawab, ia merasa mengajak pengasuhnya saja tak membuat teman-temannya percaya. Akhsa langsung ke luar kelas dan tak mengikuti pelajaran.


Nana yang melihat pun langsung mengejarnya.


"Akhsa?" panggil Nana.


Akhsa pun terhenti, anak kecil itu menangis sesegukkan.

__ADS_1


"Kamu kenapa, sayang? Kenapa menangis? Apa teman-temanmu masih meledekmu?"


"Mereka tidak percaya kalau aku datang bersama mamaku." Tangis Akhsa semakin pecah.


"Siapa? Siapa yang bilang tidak percaya? Ayok kita temui dia, bilang padanya kalau aku ini memang Mama-mu. Untuk sekarang dan nanti aku yang menjadi Mama-mu." Entah kenapa, Nana tidak suka jika ada orang yang menyakiti Akhsa, ia begitu menyayanginya lebih dari apa pun. Nana tak jadi masalah jika Akhsa memanggilnya mama, meski Adam tak pernah ada hati padanya.


Nana meraih tangan Akhsa dan membawanya kembali ke dalam kelas. Tersirat kemarahan di dalam matanya, kesabaran Nana sudah habis. Bahkan ia ingin menegur orang tua anak itu.


"Siapa yang tidak percaya kalau aku ini Mama-nya Akhsa, siapa?" tanya Nana langsung pada murid-murid di dalam kelas.


"Ada apa, Bu?" tanya wali kelas.


"Kenapa Ibu diam saja saat salah satu murid ibu menyakiti bahkan sering meledek teman sekelasnya sendiri, apa Ibu tidak memperhatikan murid-murid? Akhsa sering menangis, bahkan alat tulisnya pun sering dirusak oleh teman yang lain. Kenapa tidak memperhatikan mereka?"


Nana begitu murka, selama ini Adam pun bersikap sabar saat anaknya sering mengadu saat pulang dari sekolah. Sikap ayah tidak akan mungkin sama dengan seorang ibu. Nana bersikap demikian karena sipat keibuannya muncul setelah mengasuh Akhsa. Ia menganggap Akhsa anaknya sendiri.


"Sabar, Bu. Ini bisa dibicarakan baik-baik," kata ibu wali kelas.


Anak yang sering menyakiti Akhsa pun langsung bersembunyi di balik tubuh ibunya yang subur.


"Oh, ini Mama-nya Akhsa. Kenapa mesti marah? Kalau Ibu itu Mama kandung Akhsa harusnya setiap hari mengantar jemput anaknya dong," cela ibu gendut itu.


Ibu gendut itu lebih sangar dari Nana. Bahkan ia ikut campur saat Nana menyakan siapa anak yang tidak percaya akan dirinya sebagai ibu Akhsa. Pertengkaran Nana dengan ibu Dika dilerai oleh bu guru. Setelah semuanya tenang, anak-anak kembali belajar seperti biasa.


Jam pelajaran pun selesai, Akhsa tak lagi menangis karena ibu gurunya sudah menjelaskan pada teman-temannya bahwa Akhsa memiliki ibu. Akhsa pun riang saat pulang sekolah. Ia bergelayut manja di lengan Nana.


"Benar, aku boleh memanggilmu, Mama? Untuk selamanya?" tanya Akhsa.


"Iya, sayang," jawab Nana.


Mereka tengah menunggu Adam menjemput, duduk di taman sekolah sembari berbincang dan Akhsa terlihat begitu manja pada Nana.


Saat mereka tertawa riang, Adam tengah melihatnya. Senyumnya tersimpul di buah bibirnya, apa ini saatnya Akhsa memiliki seorang ibu? Pikir Adam.


Tapi, apa Nana akan menerimanya menjadi suaminya? Nana tak menunjukkan rasa suka sedikit pun padanya. Itu yang menjadi keraguan Adam mengajak Nana menikah.


Ia juga tidak tahu, apa selama ini gadis itu memiliki kekasih? Ia takutnya Nana memiliki kekasih tanpa sepengetahuannya. Lamunan Adam buyar saat Akhsa memanggilnya, keberadaanya sudah diketahui oleh anaknya itu.

__ADS_1


"Papa ...," teriak Akhsa.


Adam langsung turun dari mobil dan merentangkan tangan saat Akhsa berlari ke arahnya.


"Maaf, Papa terlambat," sesal Adam, "apa kalian sudah lama menunggu?"


"Belum kok, Mas."


"Iya, aku dan Mama tidak lama menunggu Papa," tutur Akhsa.


Adam mengerutkan kening saat mendengar Akhsa memanggil Nana dengan sebutan mama.


"Mama," Adam mengulang kata Akhsa.


"Iya, aku sudah punya Mama sekarang," kata Akhsa bahagia.


Adam menoleh ke arah Nana dengan heran, kenapa gadis ini mau menjadi mama Akhsa? Apa hanya karena ingin menyenangkan anaknya?


💞


"Seharusnya kamu tidak perlu melakukan itu, Na. Aku takut nanti semua orang menyangka kamu mamanya Akhsa. Kalau ada yang menyukaimu bagaimana? Nanti dia mundur saat tahu kamu punya anak, padahal itu bukan anakmu. Semua lelaki yang menyukaimu akan salah paham," kata Adam panjang lebar pada Nana.


Mereka tengah dalam perjalanan pulang. Saat Nana mendengar penuturan Adam, ia langsung menoleh ke arah jok belakang, ia takut Akhsa mendengarnya dan kecewa. Untung, bocah itu ternyata tidur.


"Kamu dengar aku, Na?" tanya Adam.


"Dengar, Mas." Hanya itu yang dijawab Nana. Apa aku tidak pantas dicintai olehmu, Mas? Kenapa selalu beranggapan aku akan menerima laki-laki lain? Tidak tahu 'kah bahwa selama ini aku tidak pernah dekat dengan siapa pun? Aku selalu bersamamu.


"Jadi, ini yang ingin kamu bicarakan?" tanya Nana, "kamu takut aku tidak menikah karena selalu mengasuh Akhsa? Apa aku perlu berhenti bekerja dan mematahkan hati Akhsa?"


Bukan, Na. Bukan seperti itu. Rasanya begitu sulit mengutarakan keinginannya untuk menikahinya? Ia rasa, ini saatnya melupakan Aileen yang tak kunjung kembali. Mungkin seperti ini akhir pernikahannya dengan Aileen.


"Kalau itu memang maumu, aku akan berhenti, Mas." Pada akhirnya, Nana pun tak lagi berharap akan cinta Adam. Ia terlalu sadar, ia tak ada apa-apanya dibandingkan istrinya.


Mereka pun sampai di apartemen, Nana hendak keluar tapi tangannya di tahan oleh Adam.


💞

__ADS_1


Maaf, kalau alur jadi ngaur, tapi cerita Adam Nana masih sesuai judul 'kan? Kalau ini antara majikan dan pengasuh🤭🤭🤭


__ADS_2