
"El, tunggu aku!" Roy terus mengejar, hingga hujan turun lebat membasahi seisi bumi.
Elena tak menggubris, entah kenapa, rasanya ia ingin menangis saat sang suami masih peduli pada mantannya yang sudah jelas-jelas tidak ada di muka bumi ini. Mungkin ini terbilang berlebihan, cemburu pada orang yang sudah mati.
"El, kamu marah?" tanya Roy saat ia berhasil meraih tangan istrinya.
"Lepas! Kamu tidak peduli padaku, kamu masih mencitainya!" Teriak Elena sambil menarik tangannya sendiri.
"Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu, kamu istriku! Aku berhak atas dirimu."
Hujan semakin deras, Elena mulai kedinginan. Ia menangis karena ia merasa sedang patah hati. Perasaannya mendadak melow. Roy menariknya ke dalam dekapannya, karena hujan ia tak dapat memberikan kehangatan pada istrinya itu.
Elena mendadak pusing, hingga ia jatuh pingsan saat itu juga. Roy panik mendapati kondisi istrinya seperti ini, ia langsung saja membawa tubuh istrinya ke dalam mobil. Ia tak membawanya ke rumah sakit, ia akan memanggil dokter jika diperlukan. Karena ia merasa, istrinya pingsan karena shock.
.
.
.
"Elena kenapa?" tanya Aileen yang masih berada di sana.
"Bantu aku, Ai. Tolong ambilkan baju untuk istriku," pintanya, "dan untukmu, tolong ambilkan air hangat," pintanya pada Adam.
__ADS_1
Mereka melakukan tugas masing-masing. Roy merasa beruntung akan kehadiran mereka, ia tak sendirian di sana. Tak lama, bi Asih pun ikut membantu. Ia melepaskan pakaian Elena dan segera membungkusnya dengan selimut.
Selepas itu semua, bi Asih membasuh tubuh majikannya dengan air serta menggunakan kain yang sudah dibasahi air hangat itu. Elena tidak demam, bi Asih sudah tahu apa penyebabnya. Tapi ia tak mengatakannya pada Roy, ia takut salah bicara. Jadi ia membiarkannya begitu saja, biar Elena yang memberitahukannya nanti, pikirnya.
"Saya permisi, Tuan," pamit bi Asih.
"Aku juga," sahut Adam, ia pergi bersama Aileen.
Kini hanya menyisakan Roy di sana, dengan setia ia menjaga istrinya sampai sadar. Beberpa menit kemudian, Elena sadar. Tapi sayang, Roy tidak tahu akan hal itu karena ia malah tertidur dalam keadaan terduduk dengan kepala yang bersandar di tepi tempat tidur.
Hingga kemudian, Roy terbangun karena Elena beranjak dari posisinya.
Roy pun bangkit, ia membantu istrinya untuk berdiri.
"Aku mau ke kamar mandi," ucap Elena.
"Ada yang kamu inginkan? Makan? Atau minum?" tanya Roy.
Elena hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. Ia malah, kepalanya terasa pusing. Ia memijat kepalanya sendiri. Tahu apa yang dilakukan istrinya, Roy langsung mengambil alih aktivitas istrinya. Ia menarik kepala istrinya untuk merebahkan di pahanya. Dengan secara perlahan, Roy memijatnya.
"Ada minyak angin tidak?" tanya Roy.
"Untuk apa?" tanya balik Elena.
__ADS_1
"Untuk memijatmu, setidaknya bisa mengurangi rasa pusingmu," tutur Roy.
"Ada di laci nakas." Ucapnya sambil menunjuk ke arah yang berlawanan.
"Bangunlah dulu, aku akan mengambilnya sebentar." Roy membantu istrinya untuk duduk. Dan ia segera menghampiri laci nakas, ia hendak mengambil minyak angin tersebut. Namun pandangannya tertuju pada sebuah gambar di sana. Lalu ia mengambilnya karena penasaran.
"El, ini." Ucap Roy sambil melihat ke arah istrinya,
Namun tak ada respon dari Elena, ia malah tertunduk lesu. Bukan ini yang ia harapkan saat akan menyampaikan kabar bahagia itu, niatnya ia ingin semalam, tapi berhubung sikap Roy yang dingin membuatnya mengurungkan niatnya.
Roy segera menghampiri istrinya, menciumnya bertubi-tubi. Ini kabar yang sangat membahagiakan baginya.
"Kamu hamil, El? Kenapa tidak bilang padaku?" tanya Roy.
"Apa ini berarti bagimu?" Elena balik bertanya.
"Apa maksudmu bicara seperti itu?" Roy tak habis pikir.
"Aku rasa ini tak ada artinya bagimu, yang kamu pedulikan hanya mantan pacarmu. Sedangkan aku-." Elena tak meneruskan kata-katanya, kejadian ini membuat mata hatinya terbuka, ia malah kembali menangis tersedu-sedu.
"Jangan lagi kamu mengatakan itu, dia hanya masa lalu. Lagi pula dia sudah tidak ada, El. Kamu mempermasalahkan orang yang sudah meninggal."
"Jika dia masih hidup mungkin kamu pasti kembali padanya dan membuangku jauh-jauh dari hidupmu."
__ADS_1
Rasanya Elena ingin marah dan pergi, tapi ada calon anak yang harus ia jaga dan merawatnya bersama-sama.
"Aku mencintaimu, El. Jangan beranggapan kalau aku tidak peduli padamu." Roy menarik tubuh istrinya, ia menenangkannya berharap sang istri akan mengerti soal kejadian kemarin.