Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 61


__ADS_3

Setelah menjadi saksi dari pernikahan anak buahnya, Andra dan Nindya segera meluncur ke rumah sakit untuk memeriksa kandungannya. Semakin hari, mereka semakin mesra. Hidupnya diwarnai dengan kebahagiaan yang tak terkira.


Selama di perjalanan pun, Andra tak melepaskan tangan istrinya. Menggenggamnya, dan sesekali ia menciumnya. Nindya sampai merasa malu karena sang sopir yang berada di deoan selalu meliriknya dari kaca mobil yang menggantung di tengah.


Bukannya kurang ajar, ia ikut bahagia karena melihat Nindya yang selama ini hanya pembantu kini menjadi ratu di rumah utama. Mertuanya begitu baik padanya, bahkan Wiliam yang terkenal dingin menjadi hangat setelah Nindya menjadi menantunya. Ditambah lagi dengan kehamilannya yang menjadi penghubungnya.


Wiliam berharap, bahwa cucunya akan menjadi penerus.


"Sudah ... Malu dilihat orang," bisik Nindya saat suaminya selalu mengecup punggung tangannya.


"Malu sama siapa? Pak Arman, hmm? 'Kan sudah biasa, jadi ngapain mesti malu sih?" Andra malah menarik tubuh istrinya ke dalam pelukkannya, lalu mencium pucuk rambut istrinya.


"Iya-iya ..." Nindya pun mengalah karena merasa tak bisa mencegah tingkah suaminya padanya.


Beberapa saat kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Berhubung dokter Elena tidak bisa memeriksanya kali ini, terpaksa Andra meminta bantuan dokter yang lain untuk memeriksa kandungan istrinya.


Sebelum ke rumah sakit, Andra sudah menghubungi direktur rumah sakit. Ia meminta padanya agar ada dokter setibanya ia di sana. Dan mereka pun langsung masuk ke ruang kandungan yang memang dikhususkan langsung untuk menyambut kedatangan mereka. Bahkan direktur rumah sakit ikut menemani pemeriksaan kali ini.


"Selamat datang, Tuan?" sapa direktur.


Mereka saling berjabat tangan, dan Andra hanya tersenyum tipis saat melihat keadaan sekitar. Ia tak melihat dokter perempuan di sana, lalu mana dokter yang akan memeriksa istrinya? Pikirnya.


"Silahkan duduk," kata direktur lagi. "Dok, ini pasiennya. Saya minta hati-hati dan teliti saat memeriksanya," ucap direktur pada dokter yang akan memeriksa Nindya. Karena direktur tahu betul siapa yang menjadi paseinnya kali ini.


"Iya, Pak." Dokter yang akan memeriksanya mengangguk karena ia juga tahu siapa mereka.


"Tunggu!" cegah Andra. "Saya minta dokter perempuan untuk memeriksa istri saya, saya tidak mau ada pria lain yang sentuh-sentuh bagian tubuh istri saya," sergahnya lagi.


"Mas ...," protes Nindya pada suaminya. Menurutnya setiap dokter itu sama, punya keahlian masing-masing. Ia tak masalah jika harus diperksa oleh dokter laki-laki.

__ADS_1


"Tapi, sayang. Aku gak rela kamu disentuh pria lain!" kekeh Andra.


"Udah, deh. Jangan drama, dokter itu hanya memeriksaku!" bisik Nindya geram.


"Maaf, Tuan. Kebetulan dokter wanita di sini jadwalnya sedang padat, mereka sedang menangani pasien yang akan melahirkan," jelas dierktur.


"Tidak apa-apa, Pak. Siapa pun dokternya yang terpenting hari ini saya diperiksa," tutur Nindya.


"Nanti dibantu suster kok, Tuan Andra," terang dokter yang akan memeriksa Nindya.


"Ya sudah, lakukan sekarang pemeriksaannya," kata Andra.


"Sus, bantu Nyonya ini berbaring di sana. Tunjuk dokter ke arah brankar. "Lalu berika gel di perutnya." Karena pemeriksaannya akan USG.


"Iya, Dok." Suster membantu Nindya merebahkan tubuhnya di atas brankar lalu meletakkan gel diperutnya. Pemeriksaan di mulai.


"Bagaimana?" tanya Andra yang tidak sabar dengan hasil pemeriksaannya. Ia terus memeperhatikan layar monitor bahkan sampai tidak berkedip sekali pun.


"Kembar?" Andra tersenyum bahagia ketika mendengarnya.


Tak lama, pemeriksaan pun selesai. Mereka segera pulang untuk memberikan kabar bahagia ini pada orang tuannya.


* * *


Di rumah utama.


Karena hari sudah menjelang sore, dan hari sudah mulai gelap. Wiliam dan istrinya sedang duduk santai bersama istrinya, meski sudah tua mereka tetap terlihat harmonis. Sayang, ibu Rahayu dan kedua anaknya sudah pulang dari sana, sehingga mereka tak mendengar secara langsung akan kabar gembira ini.


Kini, Andra pun sampai di rumah. Setibanya di sana, ia langsung mencari keberadaan orang tuanya.

__ADS_1


"Mom, Dad?" panggil Andra.


"Ada apa? Kenapa teriak-teriak?" tanya Anye.


Andra segera berlari saat tahu di mana orang tuanya. Bahkan ia langsung duduk di tengah-tengah mereka, menjadi pemisah di antara kedua orang tuanya.


"Kalian ingin tahu dengan kabar yang akan aku sampaikan?" kata Andra antusias.


"Kabar apa? Roy yang sudah menikah?" duga Wiliam. "Kalau itu Daddy sudah tahu," sambungnya lagi.


"Bukan, Dad. Kabar ini lebih bahagia dari pada itu."


"Lalu kabar apa yang lebih bahagia?" tanya Anye yang ikut penasaran.


Andra langsung memberikan selembar poto hasil USG tadi. "Lihat." Tunjuk Andra memperlihatkan poto itu pada orang tuannya.


Sedangkan Nindya wanita itu masih berjalan ke arah mereka, ia melihat betapa bahagianya suaminya.


"Calon anakku kembar," ucap Andra.


Wiliam dan Anye terkejut, tapi mereka ikut bahagia.


"Sungguh?" tanya Anye.


"Iya, Mom. Aku bahagia sekali," jawab Andra.


Sedangkan Wiliam, pria itu beranjak dari tempatnya menghampiri menantunya. Ia memeluk Nindya dengan hangat.


"Terima kasih sudah memberikan cucu kembar untuk kami," ucap Wiliam.

__ADS_1


Nindya hanya tersenyum ketika Wiliam memeluknya, ini pertama kali pria dingin itu memeluknya. Anye dan Andra pun saling berpelukkan.


__ADS_2