
Andra mencari jalan agar bisa masuk ke dalam kamarnya, sempat menggunakan kunci cadangan tapi dirinya tak bisa masuk karena kunci di dalam sana masih menempel di pintu, sehingga lubang itu tertutup dari dalam.
Hingga akhirnya, ia nekat masuk ke dalam melalui jendela. Karena posisi kamar berada di lantai 2, ia menggunakan tangga untuk sampai sana. Kakinya gemetar karena ia tak bisa menaiki tangga seperti itu.
"Akhirnya ..." Ia sampai pada perjuangan pertama, "aku harus bisa masuk." Andra mencari cela jendela. Sayang, jendela pun ternyata tertutup rapat. Ia beralih ke jendela yang satunya, dan berhasil. Jendela itu tidak terkunci.
Sedangkan Nindya, ia tak mendengar suara jendela yang terbuka karena suara tv lumayan cukup keras. Berniat menghindari suara suaminya yang terus menggedor pintu sambil memanggil namanya. Sebuah tontonan drakor yang membuatnya merasa terhibur, kisah film itu membuatnya teringat akan masa lalu.
Andra bersedekap tangan di dada, ia tengah memperhatikan istrinya. Meski kesal, tapi hatinya terasa lega. Karena sang istri ternyata menipunya, semua orang tertipu olehnya. Banyak bekas makanan di sana.
"Pantas tidak mau makan, ternyata," ucapnya dari arah belakang.
Seketika, Nindya langsung menoleh.
"Sejak kapan kamu di sini?" tanyanya dengan mulut yang penuh makanan.
"Istriku sudah pandai berbohong rupanya, siapa yang mengajarkanmu, hah?"
Nindya menelen saliva, merasa sudah terciduk mengelak pun percuma, ia hanya cengengesan tak jelas. Pasang muka yang seakan tidak terjadi apa-apa.
"Semua orang mengkhawatirkanmu, termasuk aku," kata Andra.
"Mau marah?" tanya Nindya.
Andra menggeleng, mana berani ia marah pada istrinya. Dicuekin seharian saja ia sudah ketakutan setengah mati, ia malah mendekat dan mengajak istrinya duduk. Merangkulnya dari samping sehingga Nindya bersandar di bahunya.
"Lain kali jangan seperti ini ya? Aku sampai nekat masuk ke sini lewat jendela. Kaki-ku terasa lemas saat manjat tadi," keluhnya.
"Maaf." Hanya kata maaf yang terucap, ia merasa bersalah dan kasihan sudah membuat suaminya nekat, tapi ia lakukan karena ingin membuat suaminya jera.
__ADS_1
Andra sampai lupa bahwa malam ini ada acara di rumah Roy, di mana pernikahan Adam Aileen akan dilaksanakan malam ini. Ponsel milik Andra berdering, menandakan ada panggilan masuk. Dan ia pun mengangkatnya.
"Ada apa, Roy?" jawab Andra pada panggilan itu.
"Tuan lupa kalau malam ini Adam menikah?" tanya Roy.
Andra menepuk keningnya, sejak kapan ia menjadi pikun seperti ini?
"Ada apa?" tanya Nindya penasaran.
"Siap-siap sekarang, kita ke rumah Roy," titah Andra.
"Ngapain?"
"Jadi saksi dipernikahan Adam dan Aileen."
"Apa perlu aku ikut?" Nindya ragu untuk ikut, apa lagi menyangkut mantan istri dari suaminya.
"Harus, biar tidak salah paham. Nanti di kira aku tidak jujur padamu, aku gak mau kalau sampai kamu berpikir bahwa aku ke sana hanya semata karena ingin bertemu dengannya," jelas Andra.
"Mana mungkin aku berpikir seperti itu?" kata Nindya.
"Mulut bisa berbohong, hati siapa yang tahu?" ujar Andra. Meski tidak jujur, ia tahu ada secuil darinya rasa cemburu. Mustahil bagi siapa pun tidak cemburu pada pasangannya jika bertemu dengan mantan. Meski tidak ada perasaan sedikit pun.
"Mau ikut apa tidak?" tanya Andra.
"Tidak!"
"Yakin?" Andra mencermati wajah istrinya yang seperti menahan sesuatu, entah apa itu?
__ADS_1
"Ikut, deh." Dan akhirnya, istrinya pun memutuskan untuk ikut. Bertemu dengan Aileen, itu urusan belakangan. Yang pasti, kemana pun suaminya pergi selain urusan kantor ia harus ikut.
Andra tersenyum sambil mengelus pipi mulus sang istri, dan lalu menciumnya.
"Aku mandi dulu, kamu siap-siap saja."
.
.
.
Kediaman Roy.
Di sana terlihat sedikit ramai, karena ada beberapa orang yang akan ikut menjadi saksi di acara sakral mereka. Bagas, Ingga, serta ibu Rahma ikut hadir.
Penghulu pun sudah siap, yang ditunggu tinggal Andra sang bos mereka. Tak berselang lama, Andra dan Nindya pun hadir. Nindya terlihat anggun, menggunakan dres bermotip pulkadot berwarna hijau botol. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih.
Hingga mereka pun kini siap menjadi saksi. Pengantin pun tak kalah cantik, karena aura kehamilan yang terpancar. Nindya hanya menunduk tak berani melihat ke mempelai wanita. Sampai akhirnya, ijab qobul pun terucap dengan sekali tarikan napas.
Adam dan Aileen pun kini sah menjadi sepasang suami istri, keduanya nampak bahagia. Termasuk Elena, ia jadi teringat akan pernikahannya waktu itu. Tersenyum sendiri karena merasa lucu.
Roy melihat istrinya tersenyum, berpikir bahwa istrinya sudah tidak marah lagi. Dengan percaya diri, ia menghampiri duduk di samping istrinya. Tahu suaminya datang, Elena berpindah tempat.
Elena duduk di samping Rahma, ibu mertuanya. Sedangkan Roy, seketika menjadi lemas. Ternyata istrinya masih merajuk.
...----------------...
Hadir lagi readers, selamat malam, selamat beristirahat ya. Aku mau ucapin maaf, marhaban ya ramadan. Semoga di bulan puasa besok semuanya dalam keadaan sehat ya? Dilancarkan puasanya. Amin.
__ADS_1