
Andai, suara jantung itu terdengar. Mungkin Dewi sudah malu karena debarannya saat ia duduk di samping suaminya. Nathan terus menatap istrinya, tersenyum tipis lalu membelai pipi. Putih, halus. Berwarna merah yang dipancarkan oleh make-up.
"A-aku ... aku mau ke kamar mandi," ucap Dewi gugup. Ia bukan gadis polos yang tidak tahu harus apa setelah resmi menjadi seorang istri. Sang mertua sudah mewanti-wanti agar dirinya siap menjalani kebwajiban seorang istri. Terlebih dengan permintaan mereka yang memintanya untuk segera memiliki momongan.
"Apa tidak risih ke kamar mandi masih memakai gaun? Gaun itu panjang sekali, nanti basah." Penuturan Nathan membuat Dewi menghentikan langkah.
Dewi menggaruk lengan salah tingkah, masa ia harus melepasnya di hadapan suami, pikirnya. Tentu malu, ini hal pertema dalam sejarah hidupnya.
"Aku bantu, bagaimana?"
"Kakak mau ikut ke kamar mandi?" Dewi membulatkan matanya, itu lebih malu dari tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun. "Aku bisa sendiri," tolak Dewi.
"Yakin?"
Dewi mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya. Belum sampai ke dalam, langkahnya kembali terhenti. Gaun yang dikenakannya nyangkut di sisi pintu. Nathan yang melihat langsung mendekat.
"Sudah ku bilang, kamu tidak mungkin bisa sendirian ke kamar mandi dalam keadaan seperti ini. Setidaknya lepas dulu gaunnya." Tanpa permisi, Nathan menarik res-sleting bagian belakang. Menurunkannya secara perlahan.
__ADS_1
Dewi tak bisa menolak karena ia sudah tidak tahan untuk buang air kecil. Gugup, itu pasti. Bahkan keningnya mengeluarkan keringat dingin.
"Rilex, jangan gugup. Aku hanya membantu melepasnya," bisik Nathan.
Pundak mulai terekspose, punggung dengan pengait bra terpangpang jelas di hadapannya. Menghirup aroma tubuh Dewi begitu sangat memabukkan. Menghirupnya begitu dalam sampai gadis itu mendesir. Bulu kuduk seakan berdiri kala hembusan itu menyapu area tubuh belakangnya.
"Kak, aku sudah tidak tahan," kata Dewi.
Yang dimaksud Dewi tak sejalan dengan pemikiran suaminya. Nathan membalikkan tubuh gadis itu ke arahnya. Gaun yang hampir terlepas itu tersangkut di area gunung kembar yang di miliki Dewi. Nyaris sempurna, bulatan itu nampak berisi. Menyembul terlihat seakan mau tumpah dari tempatnya. Nathan menelan saliva.
Dewi menutup dadanya dengan kedua tangan yang disilangkan. Ia menahan sesuatu di bagian tubuhnya. Sebuah cairan yang ingin segera dikeluarkan, ia benar-benar tidak tahan ingin segera ke kamar mandi. Namun tertahan dengan aksi suaminya.
Nathan segera membantu melepaskan gaun yang masih melekat di tubuh istrinya. Hanya tersisa bra dan celana ketat sebatas paha. Dewi tak pernah menggunakan baju ketat, dan sekarang, Nathan melihat bentuk tubuh yang sangat sempurna.
"Aku ke kamar mandi dulu." Dewi segera masuk ke kamar mandi dan melakukan niatnya yang ingin buang air kecil. Beberapa menit sudah berlalu, Dewi masih belum keluar. Entah apa saja yang dilakukan oleh gadis itu di dalam sana.
Nathan merasa tubuhnya sudah lengket, ia ingin membersihkan tubuhnya segera.
__ADS_1
"Wi, apa kamu masih lama?" Nathan mengetuk pintu.
"Sebentar, Kak. Aku sekalian mandi," sahut Dewi.
"Apa aku tidak boleh masuk? Aku juga sudah tidak tahan," kata Nathan yang kebelet menahan pipis.
"Tunggu sebentar, aku belum selesai." Dewi sengaja mengulur waktu di dalam kamar mandi, meski ia tahu akhirnya akan tetap bersama, tidur dalam satu ranjang malam ini.
"Tapi aku sudah kebelet, Wi. Izinkan aku masuk." Nathan memutar kenop pintu. Dan sepertinya Dewi lupa mengunci pintunya. Alhasil, Nathan menembus kamar mandi dalam keadaan Dewi berdiri di sana. Hanya kaca tebal yang menjadi pembatas antara ia dan suaminya.
Tanpa rasa malu, Nathan buang air kecil di sana.
"Ah ... Lega," ucapnya.
"Kalau sudah selesai, cepatlah keluar," ucap Dewi, "aku belum selesai." Bukannya pergi, Nathan malah menghampirinya. Ia lebih tergoda di sini ketimbang harus menunggu di tempat tidur.
Tubuh Dewi membelakanginya, berdiri dengan pembatas kaca. Embun yang ditimbulkan membuat pandangan itu buram, tubuh molek tanpa sehelai benang itu masih mematung. Dalam sekejap, Nathan sudah berada di hadapan istrinya. Dewi memejamkan mata karena takut suaminya mendekat. Dan benar saja, saat ia membuka mata pria itu sudah ada di hadapannya.
__ADS_1
Keberadaan Nathan mendebarkan seluruh tubuhnya.
"Kita mandi bersama," bisik Nathan.