
Nathan dan Dewi akhirnya sampai di Eropa. Dewi begitu antusias saat tiba di sana. Dan mereka langsung ke hotel Grend Hotel Excelsior, hotel yang memang sudah dipesan oleh William secara pribadi karena ia memiliki kerabat dekat yang bertugas di sana.
Mobil mewah menjemputnya ke Bandara, dengan pengucapan bahasa asing membuat Dewi diam dan hanya menjadi pendengar. Nathan sangat lancar dengan bahasa luar tentu tidak diragukan karena ia kuliah di luar negri.
"Ayo, kita langsung ke hotel. Aku sangat lelah." Nathan meraih tangan istrinya lalu masuk ke dalam mobil tersebut. Dewi menyandarkan kepala di bahu suaminya, ia juga merasa lelah dan mengantuk. Apa lagi tadi ia sempat mabuk di dalam pesawat.
Nathan memaklumi karena itu pertama kali istrinya naik pesawat. Beberapa menit kemudian, mereka sampai di hotel. Nathan pun membangunkan istrinya.
"Sayang, kita sudah sampai," bisiknya lembut di telinga Dewi. Dan gadis itu membuka mata, melihat disekelilingnya membuat takjub. Gedung nan tinggi serta megah itu nampak di depan mata, biasanya ia melihat hanya di layar televisi.
Pintu mobil terbuka, pihak hotel menyambut kedatangan mereka.
__ADS_1
"Nathan William?" tanya staff hotel.
"Ya," jawab Nathan tersenyum, Dewi pun tersenyum.
Staff hotel itu memperkenalkan diri, dia bilang mengenal dengan keluarga William. Dan akhirnya mereka pun di ajak masuk dan diantar ke kamar.
* * *
Nathan datang dari arah belakang, lalu memeluk istrinya. Mencium pundaknya. Dewi pun membalikkan tubuhnya, kini mereka saling berhadapan. Menatap satu sama lain, pacaran setelah menikah ternyata lebih indah. Tak ada larangan bagi mereka untuk melakukan apa pun.
Pemandangan ibu kota membuat mereka terbawa suasana, langit mulai gelap. Wajah mereka saling bersentuhan, seperti biasa. Mereka melakukannya tanpa aba-aba. Puas dengan aktivitas saling menyesap bibir, Nathan meraih tubuh istrinya. Menggendongnya ala bridal style. Ciuman itu kembali terjadi saat perjalanan menuju tempat tidur.
__ADS_1
Keinginan keluarga yang ingin memiliki hadirnya penerus sepertinya akan terkabul. Nathan benar-benar tak memberi ruang untuk hanya berdiam diri. Sebelum magrib mereka melakukan aktivitasnya. Mencumbu dengan lembut, perlahan tapi pasti.
Permainan yang semakin hari semakin liar. Dewi benar merasakan kenikmatan yang hakiki saat lidah suaminya mulai menjelajah di kepemilikkannya. Memberikan sentuhan-sentuhan yang membuatnya mabuk kepayang. Jangan ditanya kapan pakaiannya terlepas. Dewi menggunakan dres tanpa lengan, dengan seutas tali kecil di bahu.
"Terus bersuara, aku suka suara seksi-mu seperti ini," ucap Nathan melepas aksinya sebentar.
Dewi menjambak rambut suaminya menekan kepala agar memperdalam lidah yang menerobos.
"Ah ...," racau Dewi, sesaat tubuhnya menggelinjang karena pas puncaknya.
Nathan menarik diri, menatap wajah sang istri dengan napas yang tersengal. Merasa sangat puas karena bisa memuaskan hasrat istrinya. Ia kembali bermain, menaikkan dres itu sampai dada. Meraba bagian belakang mencari pengait bra. Terlepas sudah penghalang itu, nampaklah gunung kembar yang selalu menjadi kunjungannya. Lidahnyaa kembali menari-nari di ujung yang sudah mulai mengeras. Dewi kembali menikmatinya.
__ADS_1
Tangan yang mulai menjelajah di bawah sana. Nathan benar-benar membuat Dewi melayang. Setelah puas memberi kenikmatan, ia melepas pakaiannya sendiri. Mulai menunggangi, perlahan tapi pasti. Mengunjungi surga dunia bersama.