
"Aku rasa itu kurang!" Andra hendak melepaskan pukulan kembali pada Adam, tapi dengan cepat Roy menahannya.
"Sabar, Tuan. Di sini ada anak-anak." Ucap Adam sambil menahan tangan yang kian melayang di wajah Adam lagi. Andra membuang pukulan ke udara, andai tidak anak-anaknya mungkin Adam ikut masuk rumah sakit karena babak belur.
"Hentikan, Mas!" kata Nindya.
"Daddy." Nala merengek karena takut.
"Sudah, tidak apa-apa." Nindya mengelus rambut putrinya.
"Maafkan Daddy membuatmu takut." Andra langsung menggendong putri kecilnya.
"Boleh aku temui istriku?" Adam meminta izin terlebih dulu saat ingin menemui istrinya. Ia tahu, kedua lelaki yang kini ada di hadapannya tengah murka padanya. Untuk sekedar menoleh pun ia tak berani.
"Masih punya muka kamu untuk menemuinya?" tanya Andra.
"Mas ...," protes sang istri, "biarkan dia menemui Nana," ucapnya pada suaminya, "sana, temui istrimu. Jika kamu membuatnya menangis, aku pastikan kamu tidak akan bertemu dengannya lagi!" ancam Nindya.
Adam tak menjawab, ia langsung menemui istrinya yang terbaring di atas brankar. Adam tidak tahu apa yang terjadi pada istrinya, saat ia melihat Nana, betapa terkejutnya ia. Kaki Nana diperban. Pandangan Adam dan Nana bertemu, Nana memalingkan wajahnya. Ia tak ingin melihatnya, dan itu malah semakin membuatnya rindu.
Perlahan, Adam menghampiri. Ia langsung berlutut di sisi brankar. Nana yang tahu akan hal itu merasa tak peraya, apa yang dilakukannya? Pikirnya.
"Maafkan aku, aku sudah bersalah padamu. Sudah membuat hidupmu susah dan kamu harus mencari uang sendiri demi sesuap nasi. Aku memang tak berguna, aku tidak tahu kamu tak memiliki uang," jelas Adam.
Teringat itu, apa lagi saat kelaparan, Nana akhirnya menangis karena sedih. Entah kenapa ia jadi cengeng. Rasanya sakit saat ingin memakan makananan keinginannya tapi tak terpenuhi.
"Kamu mau 'kan pulang bersamaku?" ajak Adam.
Nana tak menjawab, menoleh pun tidak. Ia tetap pada keinginannya, merelakan Adam bersama istri yang sesungguhnya.
"Na ...," panggil Adam, "mau ya?" bujuknya lagi.
"Mama ...," panggil Akhsa di ambang pintu. Nana yang mendengar pun langsung melihat ke arah pintu. Air mata terjatuh begitu saja, bibirnya mengulas senyum. Nana merentangkan tangan, dan disaat itu juga Akhsa berlari menghampiri. Saat akan memeluk ibu sambungnya, ia mengurungkan niatnya karena melihat kaki yang terbungkus dengan perban.
__ADS_1
"Kaki Mama kenapa?" tanya Akhsa, " apa itu sakit? Kalau sakit, aku tidak akan mendekat karena takut mengenai kaki Mama" jelas bocah itu.
"Yang sakit kaki, bukan tangan. Jadi Akhsa boleh memeluk Mama." Ujar Nana sambil kembali merentangkan tangannya lagi. Jelas, Akhsa dengan senang hati menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukkan ibu sambungnya.
Sedangkan Adam, ia masih berlutut. Akhirnya ia ikut memeluk mereka. "Mama jangan pergi lagi, jangan tinggalkan aku juga Papa. Kami tidak bisa tanpa Mama, aku tidak bisa tidur jika tidak ada yang membacakan dongeng untukku."
"Lihat, Papa juga kena pukulan dari Daddy-nya Nala karena marah pada Papa," tuturnya pada Nana, "Papa jangan buat Mama pergi lagi ya? Kalau itu terjadi, bukan Uncle Andra yang akan memukul Papa, tapi aku sendiri."
"Itu tidak akan, sayang. Apa lagi ada calon adik di perut Mama," kata Adam pada putranya. Akhsa langsung menatap wajah Nana, mencari jawaban yang pasti. Dan ia melihat ibu sambungnya mengangguk.
"Serius?" tanya Akhsa tak percaya.
"Iya," jawab Nana. Akhsa begitu antusias saat mendengar kabar tersebut. Mungkin hanya Akhsa yang merasa girang dengan kabar ini. Sedikit pun Nana tidak tersenyum kepada suaminya, masalah ini belum selesai, bahkan ia belum tahu keputusan suaminya.
"Akhsa boleh keluar sebentar? Mama mau bicara dulu sama Papa," kata Nana pada Akhsa. Bocah itu mengangguk dan langsung menemui Nathan dan Nala yang masih berada di luar.
Perlahan, Adam bangkit dari posisinya. Nana pun mencoba untuk duduk dan dibantu oleh suaminya.
"Apa keputusanmu? Aku sudah siap jika memang harus berpisah," kata Nana.
"Maksudmu? Kamu ingin memiliki keduanya begitu? Mbak Aileen yang lebih berhak. Aku hanya kupu-kupu yang hinggap sementara," jelas Nana.
"Aileen sudah merelakanku untuk bersamamu juga Akhsa," kata Adam, "dia tidak bisa maksa Akhsa untuk selalu bersamanya, karena Akhsa lebih membutuhkanmu. Dan itu bukan aku yang mengucapkannya, melainkan Aileen sendiri."
"Kamu tidak bohongkan, Mas? Kenapa dia yang mengalah?"
"Katanya, dia tidak ingat tentangku. Dan itu bisa lebih mudah untuk melupakanku."
"Tapi kasihan dia jika harus berpisah denganmu, apa lagi untuk selama-lamanya."
"Jangan khawatirkan itu, dia masih bisa datang menemui Akhsa. Pintu rumah selalu terbuka untuknya." Setelah meyakinkan Nana, Adam hendak memeluk istrinya.
Tapi Nana langsung mencegahnya dengan sebuah pertanyaan. "Mau apa?"
__ADS_1
"Memeluk istriku, memangnya tidak boleh? Ada larangan suami untuk memeluk isrinya?" tanya Adam.
"Kamu tidak pernah berpikir bagaimana perasaanku?" tanya Nana.
"Emangnya kenapa dengan perasaanmu? Jangan bilang kalau perasaanmu sudah tidak ada untukku," duga Adam.
Lagi-lagi Nana tidak menjawab, ia ingin mendengar segala pengakuan tentang ini dari Aileen langsung, ia takut akan ada dendam di antara ia dengan Aileen kelak.
"Pulang ya, kasian Akhsa. Dia ingin kamu yang membacakan dongeng untuknya," bujuk Adam begitu memohon.
"Tapi ada syaratnya, aku ingin bertemu dengan Mbak Aileen, bagaimana?"
"Iya, nanti kita ketemu. Tapi tunggu kamu sembuh dulu ya?" Adam merasa lega, meski Nana mengajukan syarat.
* * *
Sedangkan Aileen, ia tengah duduk di balkon sambil merenung. Ia menatap cuaca yang sedikit mendung, awan sudah menggulung mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Angin mulai menerpa, ia mengusap kedua tangan karena angin mulai meresap kulit.
Hawa dingin membuatnya kembali masuk ke dalam. Tapi hati dan pikiran begitu resah, menanti detik-detik percerain untuk kedua kalinya. Aileen mendudukkan tubuhnya di sofa sambil memainkan ponselnya mengalihkan rasa kegelisahannya.
Saat memainkan ponsel, tiba-tiba benda pipihnya berbunyi. ID pemanggil itu ternyata Marsya.
"Hallo," jawab Aileen.
"Aunty apa kabar?"
"Baik, ada apa telepon, Aunty?"
"Aunty, mau gak temenin aku di rumah? Daddy ada tugas keluar kota, aku sendirian di rumah. Bibi lagi libur karena anaknya yang di kampun menikah, Aunty mau ya temenin aku di sini?"
Aileen nampak berpikir, maunya ia menyendiri dan tidak ingin diganggu, tapi ia juga kasihan pada Marsya. Gadis kecil itu juga sering datang untuk menemaninya di apartemen.
"Ya sudah, nanti Aunty temenin."
__ADS_1
"Ok, nanti Daddy jemput Aunty ke apartemen. Tapi nanti malam, soalnya Daddy masih di rumah sakit."
Panggilan pun berakhir, karena memang sudah mulai gelap, Aileen putuskan untuk membersihkan diri terlebih dulu. Mungkin jika bersama Marsya, kegelisahannya akan terobati, dan ia harus move on.