Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 32


__ADS_3

"Apa maksud, Nyonya?" Nindya masih belum mengakui karena ia takut berada dalam masalah.


"Katakan, apa anakku sudah bertanggung jawab terhadapmu?"


"Tanggung jawab apa, Nyonya?"


"Ayolah, Nindya. Kamu tidak perlu takut padaku, tidak akan terjadi apa-apa denganmu jika kamu mengakui yang sebenarnya. Ayo katakan?" desak Anye.


"Tu-tuan Andra sudah menikahiku," jawabnya sedikit terbata. "Ta-tapi saya sudah menolaknya, maafkan saya, Nyonya. Saya tidak bermaksud untuk merusak rumah tangga tuan Andra dan istrinya."


"Tanpa dirimu rumah tangga anakku sudah hancur, Nindya. Apa kamu mencintai putraku?"


"Maafkan saya, Nyonya. Saya sudah lancang."


"Untuk apa minta maaf, kalau kalian saling mencintai saya merestui. Tapi tunggu sampai Andra berpisah dengan Aileen, walau bagaimana pun Andra masih berstatus suami orang. Makanya saya bawa kamu kemari untuk tidak terlibat dengan rumah tangga Andra. Kamu tahu apa yang terjadi dengan mereka?"


Nindya mengangguk karena ia memang tahu pernikahan apa yang dijalani oleh suaminya itu.


"Untuk sementara kamu tinggal di sini, dan jangan pernah menampakkan diri dihadapan Aileen. Dia wanita nekat, saya takut dia mencelakaimu."


"Iya, Nyonya."


"Berhenti memanggilku Nyonya, kamu sudah menikah dengan anakku itu artinya kamu sudah menjadi bagian keluarga Wiliam. Panggillah aku Mommy."


"I-iya."


"Makanlah, ini sudah waktunya makan malam. Mommy tidak ingin kamu sakit."


Meski tak berselera makan, ia pun mencoba memakannya. Ia juga tak menyangka kalau Anye akan berpihak padanya. Selama ini Anye memang baik padanya, tapi ia kira kalau Anye akan marah besar padanya karena sudah berani masuk ke dalam hidup anaknya yang sudah berkeluarga.


Sedangkan Anye, lebih baik memiliki menantu sederhana tapi bisa menjaga nama baiknya, lagi pula, Andra dan Nindya sepertinya memang saling mencintai tidak ada salahnya jika ia merestuinya. Karena sebuah pernikahan bukan sekedar untuk berkomitmen, pernikahan adalah suatu hubungan yang harus terjalin dengan serius.


"Kenapa cuma diaduk-aduk saja? Apa makanannya tidak enak?" tanya Anye.


"Bukan tidak enak, Nyonya. Hanya tidak berselara saja."


"Apa kamu ingin bertemu dengan Andra?"


Nindya kembali menatap wajah Anye dengan penuh harapan, tak dipungkiri rasa rindu itu memang sudah sangat menggebu. Ia merindukan suaminya, apa lagi ia sudah beberapa hari tidak mendapatkan kabar darinya.


"Kalau Andra kemari, apa kamu akan makan?"

__ADS_1


Harus jawab apa? Rasanya Nindya malu ditanya seperti itu, dikira nanti malah seperti wanita manja. Tentu Anye tahu dengan pasutri itu, ia juga pernah merasakan bagaimana rasanya jika jauh dengan suami. Anye ingin melihat putranya bahagia, apa pun akan ia lakukan meski harus menentang suaminya.


"Apa kamu sudah siap bertemu dengan suamimu? Mommy akan menghubungi Andra untuk datang kemari."


Senang, tentu iya. Nindya tak lagi bisa berkata apa pun terhadap ibu mertuanya, ini semua terasa mimpi baginya. Lambat laut kepalannya mengangguk karena ia memang ingin bertemu dengan suaminya itu.


* * *


Sedangkan Aileen, kini wanita itu tengah berpikir. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Gara-gara ia mengandung semuanya jadi berantakkan. Bahkan Adam sudah beberapa kali menghubunginya, setelah tahu kekasihnya hamil, Adam terus gencar memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi miliknya.


"Aarrgghhh ..." Aileen membanting ponselnya karena ponselnya terus berdering. Ponsel itu seketika hancur berserakan di lantai, ia merasa tertekan karena keadaan. Ia tidak ingin berpisah dengan Andra, sementara anak yang dikandungnya bukanlah darah daging suaminya.


Aileen semakin histeris sambil memukul perutnya. Karena mendengar suara dari lantai atas, Mona segera menghampiri sang majikan. Kini ia tahu semuanya, bahkan anak yang dikandung wanita itu.


"Nyonya, hentikan. Itu bisa membahayakan bayi itu, Nyonya."


"Biar, biarkan dia mati!"


"Aduh, bagaimana ini?" batin Mona.


Jiwa yang terguncang membuatnya kehilangan akal sehatnya, ia berpikir semua akan membuangnya termasuk Wiliam. Rahasia yang ia sembunyikan tentu tak akan tersimpan rapi untuk selamanya, apa lagi kalau sampai Adam nekat menemuinya kemari.


Lemas, Aileen pun tak sadarkan diri. Seketika wanita itu ambruk di depan Mona.


"Aduh, malah pingsan," kata Mona. Mau tak mau ia menghubungi tuannya.


"Tuan, Tuan. Pulanglah, Nyonya Aileen pingsan."


* * *


"Merepotkan saja," celetuk Andra setelah menerima panggilan dari Mona.


"Ada apa?" tanya Roy.


"Aileen pingsan, kamu urus dia, Roy. Bila perlu hubungi Adam untuk menemaninya, aku mau mencari Mommy."


"Baiklah," jawab Roy.


Roy menepikan mobil yang dikendarainya, dan ia pun turun dari mobil tersebut. Andra berpindah posisi, ia yang mengemudi sendiri. Sedangkan Roy menyuruh anak buahnya untuk menjemputnya, ia akan mengurus wanita pembohong itu.


Sedang berkemudi, ponsel Andra berdering.

__ADS_1


"Mommy." Ucap Andra ketika melihat layar ponselnya, ia langsung menggeser tombol hijau.


"Mom, Mommy di mana?"


"Temui Mommy di apartemen XX lantai 26."


Belum Andra menjawab, Anye langsung menutupnya.


"Apartemen?" Tak berpikir panjang lagi, Andra memutar balik mobilnya dan langsung menuju apartemen yang dimaksud sang mommy.


Andra semakin yakin kalau Nindya bersama Anye, pikirannya sudah menerawang jauh. Ia takut terjadi sesuatu pada istrinya.


"Semoga mommy tidak melakukan apa-apa pada istriku."


Jius ...


Mobil melaju sangat cepat, yang dipikirkannya sekarang ingin segera bertemu dengan Anye. Tak peduli dengan kendaraan lain yang beberapa ia salip, sampai ia diteriaki oleh pengemudi lain karena menurutnya itu sangat membahayakan.


Hingga akhirnya, mobil yang ia kendarai sampai di apartemen. Andra turun dari mobil dan memasuki apartemen dengan tergesa. masuk ke dalam lif dan langsung menombol angka 89. Sampailah ia di lantai 26, Andra melihat beberapa orang berjaga di depan pintu. Ia mengenal salah satu di antara mereka.


"Tuan," sapa penjaga itu. "Nyonya ada di dalam," sambungnya lagi.


Penjaga itu membuka pintu dan Andra langsung masuk. Dilihatnya sang mommy tengah berdiri bersedekap tangan di dada dan menghadap ke arahnya. Lalu ekor matanya menjumpai sosok wanita tengah berdiri di belakang Anye dengan wajah menunduk.


Hati Andra sudah ketar-ketir. Tubuhnya terasa tak berpijak, sang mommy sudah tahu tentang Nindya. Perlahan, ia pun menghampiri ibunya.


"Mom," ucap Andra.


Mata tajam bak elang menyorot kearahnya, rasa kecewa Anye tentu ada terhadap putranya itu. Yang ia inginkan dari putranya itu adalah kejujuran, bukan jadi lelaki pengecut seperti sekarang.


"Siapa dia?" tanya Anye pada Andra sambil menunjuk Nindya.


"Nindya," jawab Andra dibuat seolah santai padahal hatinya sudah dag dig dug.


"Iya Mommy tahu dia Nindya, dia siapa-mu?"


Andra menghela napas sebelum menjawab, ia rasa sang mommy sudah tahu. Ia pasti lebih dulu mengintrogasi Nindya.


"Jawab! Dia siapa-mu?" desak Anye.


"Di-dia, dia istriku." Jawab Andra sambil memejamkan mata. Beberapa saat semuanya menjadi hening, Andra siap mendapatkan kemarahan dari ibunya.

__ADS_1


__ADS_2