
Pulang pilihan yang tepat. Bagai hidup tanpa pasokkan, ia lemas tak berdaya. Setibanya di rumah, ia langsung pergi ke dapur. Lagi-lagi ia bersikap konyol. Hati yang terasa panas ia guyur dengan air dingin. Meneguk air minum yang ia ambil dari dalam lemari pendingin.
"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu ingin menyiksa tubuhmu dengan air es itu?" Sang mommy mengambil botol minuman yang tengah dipegang oleh anaknya, "kamu bisa sakit minum air dingin terlalu banyak, kamu itu kenapa?"
"Tidak apa-apa, hanya ingin meredakan hati yang ikut terbakar," jawab Nathan apa adanya.
"Maksudmu?"
"Tidak ada maksud apa-apa." Nathan kembali mengambil botol yang berisi air mineral dingin itu. Meneguknya hingga tandas.
Nindya geleng-geleng kepala dengan tingkah anaknya. Apa Nathan sudah bertemu dengan Dewi? Apa ini ada hubungannya dengan gadis itu? Pikirnya.
Setelah minuman itu habis, Nathan segera pergi ke kamar. Hawa dingin mulai menjalar, tapi ia tak peduli. Menghempaskan tubuhnya begitu saja di tempat tidur. Kejadian hari ini, berharap semua hanya mimpi.
* * *
Tubuh menggigil, bibir bergetar. Kepala pusing tidak karuan. Meraih selimut untuk dibalutkan pada tubuhnya, tapi itu tidak ada efek. Tubuh menggigil itu semakin menjadi pada pukul 02.00. Perasaan yang tak terbayangkan sebelumnya.
Padangan meredup dengan sendirinya, ia tak lagi merasakan apa-apa karena sudah tidak sadarkan diri. Jika orang lain sedang patah hati, mereka akan mabuk sampai rasa sakit itu hilang. Lain halnya dengan Nathan, ia pria yang hidup sehat. Tak pernah menyentuh minuman haram itu, yang ia lakukan agar tak sadarkan diri cukup gampang baginya.
Hanya dengan minum air es sebanyak mungkin bisa membantunya melupkan dengan hidup yang tak bisa ia hadapi. Pengecut, tidak percaya diri menjadi alasan utama. Terlebih, tidak ingin lagi menyakiti wanita itu.
Matahari mulai menampakkan diri, rasa hangat terasa di kulit pipinya yang mulus. Sinar matahari mulai dirasakan. Masuk lewat cela jendela kamar. Nathan mengerjap-ngerjapkan matanya. Tubuh tak berdaya, pusing masih menjalar di kepala. Disertai flu yang begitu berat.
* * *
Khawatir akan kondisi putranya. Bangun tidur Nindya langsung menemui anaknya. Melihat keadaannya, berharap tidak ada masalah serius sehingga anaknya berbuat nekat demikian.
"Tubuhmu panas." Nindya menyentuh kening anaknya. Nathan diam saja karena memang tak berdaya.
Hanya mata yang selalu berkedip, entah perasaannya seperti apa?
"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu seperti ini?" Nada seorang ibu yang begitu mengkhawatirkan putranya. Mengusap lembut pucuk rambutnya, membenamkan kecupan beberapa kali. Baginya, Nathan anak kecilnya. Meski sikapnya dingin, tapi dibalik itu ada kerapuhan. Ia tahu betul betapa menyesalnya atas sikapnya kepada Dewi.
__ADS_1
Sorot mata yang tak bisa dibohongi, penyesalan begitu besar sehingga ia salah langkah.
"Mommy akan menghubungi Dewi, dan menyuruhnya kembali dan tinggal di sini. Spertinya kamu rapuh tidak ada dia." Nindya beranjak dari tempatnya, saat membalikkan tubuh, tangannya diraih oleh Nathan.
"Jangan, aku tidak mau memaksa orang yang sudah membenciku. Mungkin ini hukuman bagiku karena sudah menyakitinya. Rasa sakitku tak sebanding dengan rasa sakitnya," lirih Nathan.
Nindya menjadi sedih mendengar penuturan putranya. Nathan benar-benar menyesal.
"Anak Mommy jangan terlihat lemah seperti ini. Cinta juga butuh perjuangan, jika kamu menyerah kamu akan kehilangan Dewi selamanya. Kesempatan tidak akan datang dua kali, Nathan. Mommy dukung kamu."
Dukungan itu seolah tidak berarti. Ia kalah sebelum berperang. Dewi sudah merasa nyaman dengan sahabatnya sendiri, haruskah ia merebutnya dengan paksa? Memikirkan perasaan Dewi, kepada siapa gadis itu akan melabuhkan hatinya? Nathan semakin pusing.
"Kamu istirahat saja, Mommy buatkan bubur untukmu."
* * *
Dewi sudah mulai dengan aktivitasnya. Pagi ini ia membersihkan kaca depan. Kehadirannya menjadi OB baru menjadi pusat perhatian. Kecantikkannya selalu membuat para lelaki terpana.
"Siang, Pak?" Sapaan dari karyawan lain ikut membuat Dewi ikut menyapanya.
"Siang, Pak," sapa Dewi. Hingga kedua mata mereka saling beradu. Ada pandangan lain di dalam sana, tapi tidak tahu. Seakan mata itu tidak asing. Seperti pernah muncul dalam mimpinya.
Hanum? Apa aku bermimpi sampai melihatnya seperti melihat Hanum? Apa karena aku begitu merindukannya?
Dewi kembali bekerja. Doni menatap tubuh itu dari belakang. Ya, kini ia teringat akan tubuh itu. Seorang OB baru, yang kemarin membuatkannya kopi. Dari kopi itulah membuatnya teringat akan mantan istrinya.
* * *
"Berikan data OB baru itu padaku," perintah Doni pada staff bagian HRD lewat sambungan telepon. Hingga tak lama, berkas riwayat Dewi berada di tangannya.
Wajah yang begitu mirip dengan mantan istrinya membuatnya jiwa keingintahuannya membuncah. Membaca riwayat hidup gadis itu.
"Dewi, anak dari Rahayu dan Halim? Tapi kenapa wajahnya begitu mirip dengan Hanum?" gumamnya, "kota asal, Sukabumi?" Hanum bukan orang sana, hingga ia membantah jika pikirannya terbesit akan OB baru itu. Berpikir bahwa gadis itu anak Hanum. Tapi kenyataannya bukan, Dewi anak dari pasangan Rahayu dan Halim.
__ADS_1
Tapi kenapa begitu mirip bagai pinang dibelah dua? Rasa penasaran terus bergejolak, padahal ia tahu asal-usul gadis itu. Jika ada hubungannya dengan Hanum, mungkinkah ia kembali lagi dengan mantan istrinya itu?
Tok, tok, tok ...
Pikirannya buyar saat pintunya terketuk. Ada tamu hari, ia sudah ada janji dengan Aileen hari ini. Ada bisnis yang akan dijalani oleh mereka berdua, sehingga kedekatan mereka menajdi rumor aka adanya hubungan di antara mereka.
Tamu sudah masuk, kedatangan Aileen disambut hangat oleh Doni.
"Silakan duduk." Doni mempersilakan tamunya duduk di sofa, "kapan sampai?" tanyanya.
"Kemarin," jawab Aileen, "wah, banyak perubahan ya sekarang? Terakhir aku ke sini, dulu cat-nya berwarna pink."
"Jangan membahas masalah itu, aku sudah menceraikan istri-istriku setelah ayahku meninggal."
"Setelah bercerai dengan mereka, apa kamu akan kembali mencari istrimu yang dulu?" Aileen tahu sejarah hidup Doni, karena mereka sudah cukup dekat. Bahkan dulu, orang tua mereka sepakat akan menjodohkan mereka. Tapi Aileen mau pun Doni menolak. Tidak ingin menjadi wayang sehingga hidupnya diatur oleh dalang.
Ada tamu membuat pekerjaan Dewi bertambah. Bukan hanya satu kopi yang ia suguhkan untuk atasannya. Dewi membuatkan dua minuman untul diantar ke ruangan direktur.
Lagi-lagi perasaan Dewi berdebar saat akan masuk ke ruangan direktur. Dewi mulai mengetuk pintu.
"Masuk," jawaban terdengar dari dalam sehingga Dewi pun akhirnya masuk dengan membawakan dua cangkir kopi. Meletakkan kopi itu di atas meja.
Dewi pun akhirnya keluar setelah meletakan kopi tersebut. Aileen tertegun saat melihat Dewi.
"Kenapa aku melihat OB itu seakan melihat mantan istrimu? Kenapa mereka begitu mirip?" tanya Aileen.
"Aku kira cuma aku yang berpikir seperti itu."
"Apa jangan-jangan, OB itu memang anak dari mantanmu? Bisa saja dia sudah menikah dan memiliki anak?"
"Bukan, aku sudah tahu siapa orang tuanya. Dia anak dari Rahayu dan Halim."
"Rahayu dan Halim? Aku merasa tidak asing dengan nama itu. Tapi OB itu mirip sekali, bagai pinang dibelah dua."
__ADS_1