
Nathan sudah berada di depan gerbang kampus Dewi, menunggu sampai jam pelajaran selesai. Yang ditunggu tak kunjung keluar, bahkan beberapa siswa sudah mulai keluar dari gerbang. Lalu ia melihat sosok gadis cupu, berkacamata tebal. Ia ingat betul bahwa gadis yang memarahinya kemarin.
Nathan turun dari mobil dan langsung menghampiri gadis yang bernama Sisil itu.
"Tunggu," seru Nathan menghentikan langkah Sisil.
Gadis itu menoleh, menatap tajam ke arah Nathan. Nathan adalah pria tak berhati yang ia kenal. Tidak ingin ada urusan dengan pria itu, Sisil mengacuhkannya. Ia terus berjalan ke arah mobil yang sudah siap membawanya pulang.
"Tunggu! Apa kamu tidak dengar?" Nathan berlari kecil menghampiri Sisil, "mana Dewi? Apa dia belum keluar?"
"Kenapa menanyakan Dewi padaku? Kakak satu rumah 'kan? Harusnya Kakak tahu kalau Dewi tidak masuk hari ini," jawabnya dengan nada ketus, "maaf, aku buru-buru." Sisil pun berlalu meninggalkan Nathan yang terlihat shock.
"Tidak masuk? Tapi dia juga tidak ada di rumah, jangan-jangan ..." Tak berpikir panjang, ia langsung pulang detik itu juga. Memastikan Dewi benar-benar pergi atau tidak.
Nathan ngebut, ia tak peduli dengan jalan sekitar. Yang ia pikirkan hanya Dewi, rasa penyesalan muncul begitu saja.
Tin, tin ... Nathan memberi klakson pada mobil yang ia salip, berharap pengemudi memberi jalan padanya. Sayang, mobil itu tak memberi jalan.
"Sial!" rutuk Nathan, ia menyipitkan mata memastikan mobil yang ada di depannya, "itu mobil Akhsa, apa jangan-jangan dia mau ke rumah untuk menemui Dewi?"
Nathan berhasil menyalip mobil yang ada di depannya. Ia tak rela kalau Akhsa menemui Dewi, apa lagi setelah kejadian semalam. Mereka saling mengejar, sampai pada akhirnya mereka pun sampai di mansion milik Andra.
Melihat sang mommy tengah berada di depan, duduk santai di gazebo taman. Ia langsung menghampirinya, begitu pun dengan Akhsa, ia menyusul Nathan menemui Nindya.
"Mom, apa Dewi ada?" tanya Nathan, bukan cuma ia yang ingin tahu keberadaan Dewi, Akhsa pun ingin mengetahuinya. Ponsel milik Dewi tidak bisa dihubungi sehingga rasa bersalahnya semakin besar akibat semalam.
Nindya acuh tak menjawab pertanyaan anaknya, ia sengaja karena ia tengah menghukum anaknya.
"Mom, jangan diam begini. Di mana Dewi?" desak Nathan. Nindya menghela napas panjang sebelum menjawab, keberadaan Akhsa membuatnya ingin bersuara.
__ADS_1
"Kalian berdua mencari Dewi? Untuk apa kalian mencarinya? Setelah puas menyakitinya kalian baru sadar? Dan untukmu!" Nindya menunjuk Akhsa, "apa kejadian semalam belum cukup manyakiti Dewi?"
"Ini salah paham, Aunty. Aku dengan wanita semalam tidak ada hubungan apa-apa, aku ke sini untuk minta maaf pada Dewi. Aku ingin bertemu dengannya," jelas Akhsa.
Merasa cukup dengan alasan Akhsa, kini Nindya menatap tajam pada anaknya. "Untukmu! apa alasanmu mencari Dewi? Apa selama ini belum cukup menghinanya? Mommy kecewa padamu, Nathan! Kalau Nenekmu tahu soal ini, dia pasti marah. Nenekmu lebih menyayangi Dewi ketimbang kamu!"
"Maafkan aku, Mom. Aku menyesal, dan aku mau minta maaf pada Dewi, di mana dia sekarang?"
"Dewi tidak ada, dia sudah tidak tinggal di sini. Semua ini gara-gara kamu!"
"Apa? Pergi? Kenapa Mommy mengizinkannya pergi?"
"Kalau itu membuat Dewi nyaman, Mommy mengizinkan itu. Mommy tidak mau ikut berdosa karena ulahmu, cemburumu itu tak beralasan, Nathan! Cara mencintaimu itu salah! Kamu tidak bisa menyembunyikan perasaanmu dengan membencinya, dan sekarang kamu menyesal setelah dia pergi, iya?"
"Di mana Dewi sekarang, aku ingin menemuinya?" tanya Nathan.
"Cari sampai dia ketemu, itu pelajaran bagimu karena sudah menyakitinya." Setelah berkata demikian, Nindya pergi meninggalkan kedua pria itu yang tengah kelimpungan mencari Dewi.
* * *
"Kamu menyalahkanku? Bukannya semalam kamu menyakitinya, kalau sudah punya pacar jangan ngajak Dewi jalan!"
Kedua pria itu malah saling menyalahkan, kalau sudah begini mau bagaimana lagi? Dewi sudah tidak ada, saling menyalahkan pun percuma.
"Dia bukan pacarku. Dari pada bertengkar begini, lebih baik kita cari Dewi. Aku yakin dia masih disekitar sini," kata Akhsa, "apa kamu mencntainya?" tanya Akhsa.
Nathan tidak menjawab, karena ia tahu kalau Akhsa juga pasti menyukai Dewi. Meski Nathan tak menjawab, Akhsa sudah tahu jawabannya. Ia hanya ingin memastikan pengakuan itu terucap dari bibir sahabatnya.
* * *
__ADS_1
Cukup lelah dengan hari ini, Dewi menghentikan aktivitasnya sejenak yang sedang berbenah. Apartemen yang sudah lama tak terhuni membuat debu-debu bertebaran. Rasa lapar kian menjalar, cacing-cacing sudah berdemo. Ia putuskan untuk keluar dari apartemen, berniat membeli makan untuknya.
Untung, ia memiliki uang hasil uang jajan yang selalu ia simpan selama ini. Kuliah selalu membawa bekal. Melihat isi dompet yang totalnya cukup lumayan dan bisa membeli makan untuk beberapa hari ke depan. Ia tak berani memakai kartu yang diberikan oleh Nindya, mencoba mandiri mulai saat ini.
Ia akan membuktikan bahwa ucapan semua orang salah, ia tak pernah memanfaatkan keluarga Andra apa lagi ingin merebut kasih sayang orang tua Nathan, bukan cuma hinaan yang ia terima selama ini. Orang-orang selalu mengungkit akan siapa dirinya. Ia bukan-lah siapa-siapa di keluarga Andra. Maka dari itu, ini kesempatannya memulai hidup tanpa bantuan orang lain.
Jam 8 malam Dewi baru keluar setelah membereskan rumah. Ia mencari tukang nasi goreng yang ada di sebrang jalan gedung apartemen. Ia membeli 1 bungkus nasi goreng untuknya, setelah itu ia kembali ke apartemen. Tak sengaja, ia melihat Akhsa tengah celingak-celinguk seperti mencari seseorang.
"Dewi?"
Dewi yang berniat kabur dari Akhsa kini ketahuan, baru ia mambalikkan tubuhnya tapi Akhsa keburu memanggilnya. Mau tak mau Dewi menoleh.
* * *
Sementara di tempat lain, Nathan masih mencari. Ingin memastikan apa Akhsa sudah berhasil menemukan Dewi apa belum, ia pun menghubunginya.
Panggilan tersambung, tapi langsung mati sebelum terjawab. Akhsa mematikan ponselnya. Sengaja ia lakukan karena ia tak ingin Nathan tahu bahwa Dewi sudah ditemukan. Ini hukuman untuknya agar ia bisa lebih menghargai betapa berharganya Dewi.
"Kenapa malah dimatikan? Apa dia sengaja karena sudah bertemu Dewi?" Praduganya selalu buruk karena pikiran dan akal sehat sudah terkontaminasi pada sesuatu hal yang belum tentu benar adanya.
Rasa suka yang dimiliki mengakibatkan ketakutan yang luar biasa. Dan ia seakan mendapatkan hukuman atas semua kesalahannya selama ini kepada Dewi. Hati yang berkecambuk karena rasa bersalah, takut Dewi tidak bisa memaafkannya.
Terlebih, banyaknya pria yang menyukainya. Mungkin saja ia tak bisa kembali menggapai perasaannya kepada wanita itu. Bisa saja, Dewi berpikir berulang kali untuk memaafkannya, apa lagi sampai bisa memilikinya kian jauh.
"Arrgghhhh." Nathan menendang kerikil ke sembarang arah. Benar-benar menyesal karena selalu menduga yang tidak-tidak. Hukuman ini membuatnya sakit.
...----------------...
Selagi nunggu up, kalian bisa mampir di sini.
__ADS_1