Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 171 Jodoh Rahasia Tuhan


__ADS_3

"Lalu aku harus apa? Memaksanya dengan perasaan ini? Aku tidak mau membuatnya tertekan dengan perasaanku," kata Nathan.


"Tapi Mommy yakin kalau Dewi juga mencintaimu."


"Masalahnya bukan cuma aku yang mencintainya, Mom. Akhsa juga mencintainya. Aku tidak mau persahabatanku hancur karena masalah ini, kami sudah sepakat, siapa pun yang dipilih Dewi nanti aku mau pun Akhsa harus bisa menerimanya," jelas Nathan, "yang harus aku lakukan bagaimana caranya Dewi memiliki perasaan padaku tanpa pemaksaan, aku ingin dia mencintaiku dengan seiring berjalannya waktu."


"Terserah kamu saja, jangan menyesal kalau Dewi memilih Akhsa pada akhirnya."


Ucapan sang mommy membuatnya takut hal itu terjadi. Tapi mau bagaimana lagi, ikhlas kunci utama. Mendengar ocehan orang tuanya malah menambah beban pikiran, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Nathan putuskan untuk keluar dari kamar orang tuanya. Mengistirahatkan tubuhnya yang tidak baik, itu lebih baik agar ia bisa cepat sembuh dan mengejar cintanya.


* * *


Dengan perasaan yang tak menentu membuat Dewi berjalan serasa tak berpijak, ucapan orang tua Nathan membuatnya terus kepikiran akan perasaan lelaki itu. Benar 'kah pria itu mencintainya? Tapi kenapa tak menunjukkan rasa sukanya? Pria itu malah terlihat membencinya.


Lambat laun, ia sampai dijalan keramaian. Dan disaat itu juga ia bertemu dengan Akhsa, pria itu memang berniat menyusulnya. Dewi pun melihatnya. Pria itu turun dari mobilnya dan menemui Dewi.


"Kak Akhsa? Kakak mau kemana?" tanya Dewi.


"Sengaja menyusulmu, aku khawatir takut Nathan menyakitimu," jawabnya.


"Kak Nathan sudah berubah, Kak. Dia tidak bersikap buruk lagi padaku, dia sudah baik."


"Oh begitu ya, ayo sekarang naik, papamu sudah menunggu," ajak Akhsa.


Dalam perjalanan menuju kantor, perasaan Akhsa mulai memikirkan bagaimana perasaan Dewi kepada Nathan. Apa gadis itu memiliki perasaan yang sama? Hatinya mulai berkecamuk. Sesakali ia melihat ke arah gadis itu, Dewi terlihat melamun.


"Apa yang membuatmu melamun?" Pertanyaan Akhsa membuyarkan lamunan Dewi.


"Apa Kakak percaya kalau kak Nathan menyukaiku? Rasanya konyol sekali lelaki dingin itu suka padaku." Dewi tertawa akan perasaan Nathan kepadanya.


"Kalau itu benar bagaimana? Apa kamu akan membalas perasaannya? Kamu tahu kalau dia suka padamu? Apa dia sudah menyatakan perasaannya padamu?" tanyanya tanpa jeda. Akhsa takut sahabatnya itu berkhianat.


"Dia menyatakan perasaan?" tanyanya berbalik, "aku rasa itu mustahil, Kak. Pria dingin sepertinya mana mungkin mengungkapkan perasaannya." Jawabnya seraya tertawa lucu. Menurutnya itu tidak mungkin, mungkin dunia akan runtuh jika pria itu bersikap demikian padanya.


"Kamu kenapa tertawa? Bisa saja dibalik rasa bencinya itu ada perasaan padamu." Akhsa mamancing perasaan gadis itu, siapa tahu dia berkata jujur soal perasaannya, "apa kamu tidak menyukainya?"

__ADS_1


Dewi tak menjawab, ia hanya tersipu malu. Tak berani mengungkapkan perasaannya. Tak lama, ia menggelengkan kepala dengam cepat. Sayang, jawaban itu sepertinya terlambat, dan Akhsa menyimpulkan bahwa Dewi pun memiliki perasaan.


Ok, kamu harus menerima kekalahan, Akhsa. Ternyata mereka saling mencintai, kamu jangan jadi penghalang. Pikirannya sibuk berkelana. Mundur secara perlahan tak membuatnya begitu sakit, jika Dewi bahagia ia pun ikut bahagia. Tapi di sini, ia akan menguatkan perasaan Nathan kepada Dewi. Ia ingin lelaki itu memperjuangkan cintanya, ingin tahu seberapa besarnya cinta Nathan kepada Dewi. Apa dia pantas mendapatkan Dewi?


Perjalanan terus berlanjut, sampailah mereka di kantor Doni. Sesuai dengan perkataan Akhsa, pria paruh baya itu memang sudah menunggu kedatangan putri semata wayangnya. Ia akan mengajaknya pulang dan mengenalkannya kepada ibunya. Beruntung, sang ayah sudah tiada. Tidak akan ada lagi yang akan memisahkannya dengan putri kandungnya.


Meski itu terlambat karena orang yang dicintainya ternyata sudah meninggal. Berharap, kedatangan Dewi diterima oleh ibunya nanti.


* * *


"Terima kasih sudah menjemput Dewi," ucap Doni kepada Akhsa.


"Sama-sama, Om. Kami berteman baik, tentu aku tidak akan kerpotan menjemputnya," jawab Akhsa.


"Putra-putri kita sudah besar ya, Don? Aku tidak menyangka kalau mereka berteman baik," ujar Aileen.


"Iya, dan sepertinya mereka cocok ya?" kata Doni lagi.


Akhsa dan Dewi saling menoleh saat mendengar perbincangan para orang tuanya. Jangan sampai mereka berniat menjodohkannya, kalau itu terjadi bagaimana dengan Nathan? Apa Dewi akan menerima perjodohan itu? Semoga orang tua mereka tak berniat menjodohkan.


"Mama," protes Akhsa.


"Loh, kenapa? Jodoh rahasia Tuhan, Akhsa. Mana tahu kalau kalian berjodoh, iya 'kan? Dewi cantik, gadis baik-baik. Mama setuju-setuju saja kalau kalian bersatu, dan Mama menjadi besanan dengan pria yang tidak jadi suami, Mama." Aileen tergelak saat teringat perjodohan mereka. Perjodohan yang ditolak dari keduanya, sehingga Morano tak lagi menjodohkan anaknya. Ia kapok karena Aileen begitu menentang perjodohannya dengan Doni.


"Iya, aku tahu jodoh itu rahasia Tuhan. Setidaknya perkataan Mama tidak membuat Dewi terlihat shock. Dewi sudah punya calon, Ma. Iyakan, Wi?" Tanyanya seraya menyenggol pundak gadis itu.


"Apaan sih, Kak Akhsa," jawab Dewi malu-malu.


"Wah ... Benar 'kah? Papa jadi ingin tahu siapa calon mantu, Papa," sahut Doni.


"Kak Akhsa jangan ngarang, siapa jodohku? Itu masih rahasia Tuhan, benar apa kata Tante Aileen," elak Dewi.


Mereka berempat jadi membahas siapa yang akan menjadi jodoh Dewi. Menurut Doni, siapa pun yang menjadi menantunya kelak, ia tak akan mempermasalahkan. Asal Dewi bahagia ia akan merestuinya.


"Kenapa jadi aku yang menjadi bahan perbincangan. Aku masih kuliah, belum sempat memikirkan jodoh," kata Dewi.

__ADS_1


Perbincangan diakhiri dengan perpisahan. Doni mengajak ankanya pulang ke rumahnya. Menyandang status duda membuatnya kembali ke rumah orang tuanya, tinggal sendiri merasa kesepian.


Saat dalam perjalanan pulang, Doni teringat akan nasib Hanum yang lebih dulu meninggalkannya.


"Wi, di mana tempat peristirahatan mama-mu? Papa ingin berkunjung," ucap Doni tiba-tiba


"Di Sukabumi, Pa. Apa kita akan kesana?" tanya Dewi.


"Tapi ini sudah sore, besok saja kita kesana."


"Sekarang juga tidak apa-apa, sekalian aku kenalkan pada ibu dan ayah di sana. Aku juga rindu kepada mereka, sudah lama tidak bertemu."


"Baiklah, kita kesana dulu sebelum menemui nenek-mu."


Doni memutar arah jalan, ia tak jadi pulang. Mereka langsung berkunjung ke tempat peristirahatan Hanum di sana.


* * *


Cukup larut mereka sampai, tapi kedatangan mereka disambut hangat oleh Panji. Lelaki yang masih menyandang status jomblo. Padahal umurnya cukup matang untuk menikah.


"Kak Panji," ucap Dewi. Tak segan-segan ia merangkul lelaki itu, karena sejak kecil sudah sangat dekat.


"Masuk, Wi. Ibu sudah menunggu."


"Kak, kenalkan. Ini Papaku," kenalnya pada Panji.


Panji dan Doni pun berkenalan. Panji ikut senang dengan kabar bahagia ini.


"Dewi?" panggil Rahayu.


"Ibu ..." Dewi menghamburkan tubuhnya di pelukkan Rahayu.


Uhuk, uhuk, uhuk ... Rahayu terbatuk.


"Ibu sakit?" tanya Dewi.

__ADS_1


__ADS_2