
"Rupanya di sini," ucap Elena, "aku kira kamu kemana?" Elena memeluk suaminya dari belakang, bumil itu tengah manja pada suaminya.
Roy tengah menatap aquarium besar yang terdapat banyak macam-macam ikan hias di sana. Roy menhilangkan kejenuhannya setelah beraktivitas seharian bersamanya. Tak terasa, hari mulai gelap. Mereka berdua masih berada di rumah Andra karena si pemilik rumah tidak membolehkan mereka pulang sebelum makan malam.
Roy membalikkan tubuhnya, lalu membalas pelukan bumil itu. Ia mencium pucuk kepala istrinya dengan dalam, meski ia sering kena omel, ia tetap menyayangi istrinya.
"Kenapa mencariku?" tanya Roy.
"Makam malam sudah siap, Nyonya Anye menyuruh kita segera ke sana," jawab Elena.
"Ya sudah, ayo?" Roy merangkul istrinya dan mereka berjalan bersamaan menuju ruang makan.
Semua sudah kumpul di sana, rumah ini semakin ramai akan kehadiran orang tua Nindya. Roy ikut tersenyum saat melihat kedua bocah itu, Panji dan Nisa.
"Sini, Roy. Ajak istrimu," titah Anye.
Mereka mulai makan.
"Adam kemana?" tanya Roy.
"Dia sudah pulang, memangnya kamu tidak tahu?" tanya Andra.
"Tidak," jawab Roy.
"Lupa, tadikan kamu ceritanya marah ya?" ucap Andra lagi.
"Marah kenapa?" tanya Elena pada suaminya.
"Tidak marah, kamu jangan dengarkan omongannya," kata Roy.
Setelah beberapa menit berlalu, makam malam pun selesai. Roy dan Elena pamit, karena sudah terlalu larut bagi bumil seperti Elena.
.
.
.
* * *
Di dalam mobil, lebih tepatnya dalam perjalanan Roy dan istrinya pulang.
Sejak tadi, Roy begitu fokus dengan kendaraannya. Pria itu menjadi dingin, tak banyak kata. Bukan karena marah, ia hanya mencari aman agar tidak kena amukan dari istrinya itu.
Sedangkan Elena, ia mulai bingung dengan sikap suaminya yang mendadak diam. Tak seperti biasanya, biasanya suaminya selalu mengoceh padanya mengusir rasa sunyi. Kini pria itu kembali ke habitat-nya, di mana Elena saat pertama kali bertemu. Dingin dan serius, tapi setelah menikah Roy menjadi pria hangat dan humoris.
"Kamu marah padaku?" tanya Elena tiba-tiba.
Roy menoleh sambil mengerutkan keningnya, ia bingung dengan pertanyaan istrinya.
"Kenapa harus marah? Kamu tidak salah," jawab Roy.
"Tapi sikapmu berubah, bukan suamiku yang biasanya menggodaku," tutur Elena.
"Aku lagi fokus saja, jangan berpikir kalau aku itu marah. Tidak ada alasan untukku marah padamu," jelas Roy.
Meski Roy berkata demikian, tapi hati Elena terasa mengganjal. Ia mulai mengingat apa yang sering dilakukan pada suaminya.
__ADS_1
"Maafkan aku ya?" Ucapnya seraya menyandarkan kepala di bahu suaminya.
"Minta maaf untuk apa?"
"Maaf dengan sikapku yang terkadang tidak masuk diakal, tanpa disengaja aku sering menyakitimu. Aku janji tidak akan seperti itu lagi, kamu jangan diam saja bila aku sudah keterlaluan kamu berhak menegurku." Tak terasa, Elena malah menangis bahkan sampai sesegukkan.
Roy langsung menepikan kendaraannya, setelah mobil berhenti Elena mengangkat kepalanya dari sandaran itu. Kini mereka saling menatap satu sama lain. Roy menangkup kedua pipi istrinya lalu berkata.
"Wajar bila sikapmu seperti ini, kamu 'kan sedang hamil emosimu naik turun. Bagaimana pun sikapmu, aku tetap sayang. Terkecuali-."
"Kecuali apa?" pungkas Elena.
"Kamu cukup setia saja, El. Aku siap menerima apa pun yang kamu lakukan, anggap saja aku menebus kesalahan yang pernah aku buat padamu." Setelah berkata demikian, Roy mencium bibir istrinya dengan lembut.
Seketika hati Elena meleleh, ia tak menyangka kalau suaminya begitu memikirkan perasaannya setelah kemarin suaminya membohonginya.
"Aku mencintaimu, El. Jadi jangan kecewakan aku."
Elena langsung memeluk Roy sambil berkata, "di hatiku cuma ada kamu, Roy. Tidak ada yang lain."
Setelah memahami isi hati masing-masing, Roy kembali menyalakan mobilnya dan melanjutkan perjalan yang sempat terhenti.
* * *
Keesokan paginya tepat jam 6 pagi.
Ibu Rahayu tengah menghubungi seseorang dan menyuruhnya untuk segera bersiap-siap, karena akan ada orang yang menjemputnya. Setelah itu selesai, ibu Rahayu menutup ponselnya.
"Bagaimana? Sudah menghubungi Nana-Nya?" tanya Halim.
"Sudah, Mas. Dia setuju untuk menjadi pengasuh anaknya Adam, lagian di kampung juga mau kerja apa? Lebih baik ke kota itung-itung mencari pengalaman, jangan cuma jadi pengasuh anak tetangga saja," ujar Rahayu.
Sebetulnya, Nana bukanlah saudara Nindya. Melainkan teman sekampungnya yang rumahnya tak jauh dari rumah ibu Rahayu.
Tak lama dari situ, Andra datang untuk memastikan apa orang yang akan menajdi pengasuh Aksha sudah siap? Jika sudah siap, ia akan segera menyuruh orang untuk menjemputnya.
"Nak Andra, pasti mau menanyakan soal Nana, ya?" tanya Halim.
"Iya, Yah. Hana sudah siap 'kan?"
"Sudah, Ibu sudah menyuruhnya untuk siap-siap," terang Rahayu.
"Iya, Bu. Orang yang akan mengantar Nana ke sini supir kantor yang ada di Sukabumi, jadi Nana tidak lama menunggu."
"Oh, begitu. Ibu coba telepon lagi Nana-Nya, mau bilang kalau yang akan menjemputnya akan segera datang.
.
.
.
* * *
Terlihat seorang gadis sederhana sedang melihat tampilannya di cermin, ia memoles wajahnya dengan sedikit bedak tabur. Hanya bedak bayi yang dikenakannya. Tak lupa dengan lifbam ia tak terlihat pucat. Ini pertama kali dirinya akan ke kota.
Hingga tak lama dari situ, sebuah ketukkan pintu terdengar.
__ADS_1
"Cepat sekali orang itu sampai," kata Nana sendiri. Dengan segera, ia meraih tas besar miliknya dan segera menemui orang tersebut.
Tanpa berlama-lama lagi, Nana segera berangkat dengan supir yang menjemputnya. Kenapa Nana jadi dag dig dug saat akan datang ke kota? Nana hanya bisa berdoa semoga ia diberi kelancaran dalam segala urusannya di kota. Selama dalam perjalanan, Nana terus menatap ke arah jalan lewat jendela samping. Kini gedung-gedung tinggi nampak terlihat, Nana tersenyum saat melihatnya. Tak menyangka bahwa ia sudah berada di kota metropolitan.
Hingga akhirnya, ia sampai di rumah utama. Di sana sudah ada Roy yang menunggu kedatangan Nana, rencananya Roy akan segera mengajak pengasuh itu ke apartemen yang di tempati oleh Adam.
"Bu?" panggil Nana saat melihat ibu Rahayu.
"Nana, sudah sampai kamu?" tanya Rahayu.
"Bu, aku boleh bertemu dengan Nindya sebentar? Temu kangen, sudah lama tidak bertemu denganya," pinta Nana.
"Tentu boleh, ayo Ibu antar." Nana pun mengekor dari arah belakang ibu Rahayu.
Mata gadis itu terus melihat-lihat seisi rumah.
"Nindya beruntung sekali ya, Bu? Punya suami orang kaya," tutur Nana yang merasa takjub.
"Alhamdulilah, sudah rezeki," jawab Rahayu.
"Nindya, ada Nana tuh," ucap Rahayu setibanya di kamar.
Kedua wanita itu langsung antusias dan berpelukkan. Sudah lama mereka tidak bertemu, saat sedang asyik Roy datang. Ia harus cepat-cepat mengajak Nana ke apartemen karena Adam akan segera ikut bersamanya untuk meeting.
Mau tak mau, Nana dan Nindya pun berpisah.
"Nanti aku akan menghubungimu," ujar Nindya pada Nana. Nana hanya mengacungkan ibu jarinya sebagai tanda ok.
* * *
Nana dan Roy pun akhirnya sampai di apartemen.
"Dam, kamu siap-siap sekarang. Biar Nana yang akan menjaga Akhsa," tutur Roy.
"Siapa Nana?" tanya Adam.
"Pengasuh untuk Akhsa, jangan bilang kamu lupa. Dia ada di depan," kata Roy lagi.
"Dia bisa dipercaya tidak, Roy? Kok, aku jadi khawatir."
"Jangan lebay deh, nona Nindya sangat mengenalnya kamu tidak perlu khawatir."
Kini Adam menemui Nana, gadis itu tengah menatap ke arah luar lewat jendela.
"Indahnya," ucap Nana saat melihat pemandangan kota.
"Ehem," suara deheman membuat Nana menoleh ke belakang, dan melihat sosok pria asing di sana.
"Kamu, Nana?" tanya Adam tanpa basa-basi.
"Iya, saya Nana," jawabnya.
"Sudah berpengalaman mengurus bayi? Sejak kapan mulai mengurus bayi? Kalau saya lihat umurmu tidak jauh dari nona Nindya."
"Iya, Tuan. Nindya teman sekampung, tapi dulu sebelum dia ke kota."
"Sudah, kamu cepat siap-siap," kata Roy pada Adam.
__ADS_1
Karena waktu sudah mendesak, Adam pun segera bersiap-siap. Ia akan mewawancarai Nana setelah pulang dari tempat kerjanya.