Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 8


__ADS_3

Hari mulai berubah petang, ini waktunya Andra pulang dari kantornya. Yang biasanya ia pulang diantar oleh supir, tapi kali ini tidak. Sejak kejadian di mana ia merenggut mahkota Nindya, ia selalu menyetir mobilnya sendiri. Selalu ada penyesalan dalam hidupnya, apa lagi sejak kejadian semalam membuatnya semakin ingin melindungi gadis itu.


Ia selalu menggerutu ketika sedang mengendarai mobilnya, seperti sekarang.


"Aku akan bertanggung jawab, Nindya. Tidak peduli dengan kelakuanku yang konyol."


Lalu, ia teringat sesuatu. Gadis itu akan pulang kampung selama dua bulan sekali. Andra manggut-manggut sendiri jadinya, ia tahu kapan rencananya akan dimulai. Dan itu tidak akan membuat keluarganya tahu akan tindakan yang ia ambil nanti.


Jalanan hari ini sedikit macet, tak seperti biasanya. Padahal ia keluar dari kantor sebelum karyawan pulang. Hingga rasa penasarannya sedikit memberontak, ia turun dari mobilnya karena ingin memeriksa apa terjadi sesuatu di ujung jalan sana?


Andra terus berjalan melewati mobil, hingga akhirnya ia tahu apa penyebab jalan macet. Ternyata ada kecelakaan, seorang wanita menggunakan seragam seperti yang selalu dipakai oleh Nindya di rumah utama. Hanya beda motif, Andra menyimpulkan bahwa yang kecelakaan itu pasti asisten rumah tangga.


Lalu, ia jadi teringat akan gadis itu, apa lagi Nindya sering pergi ke pasar. "Ya, Tuhan ... Mungkin Nindya sering menyebrang jalan seperti ini, bagaimana jika ini terjadi padanya?" Rasa kekhawatiran itu tiba-tiba saja muncul.


Andra tidak bisa tenang jika ia belum bertemu dengan gadis pujaannya. Selama Nindya bekerja di rumahnya, ia sering memperhatikan gadis itu dari kejauhan. Tak ingin berlama-lama lagi, ia harus segera pergi dari sana dan mencari jalan lain.


Dan akhirnya, ia bisa keluar dari kemacetan.


"Apa sebaiknya aku menemuinya? Tapi bagaimana kalau daddy dan mommy tahu aku datang tanpa Aileen, pasti mereka menduga yang tidak-tidak."


Ide konyol tiba-tiba saja muncul dalam benaknya, kini ia tahu bagaimana caranya menemui Nindya tanpa orang di rumah utama tahu.


* * *


Di rumah utama, Nindya sedang mengobati luka di tangannya. Lukanya masih belum mengering karena banyak aktivitas yang ia kerjakan hari ini, dan semua ini karena Lee. Lee sengaja berbuat demikian karena ia mendapat penolakan dari Nindya.


"Gara-gara si tua bangka aku jadi kayak gini," keluh Nindya. Tak biasanya Lee memberikan pekerjaan berat padanya.


"Sabar, Nindya ... Ini demi Ibu dan Kaila juga Roni. Aku harus kuat." Nindya menyemangati diri sendiri.


Hingga ia selesai dengan aktivitasnya. Nindya menyimpan kotak obat di dalam laci nakas. Karena hari ini merasa lelah, ia putuskan untuk tidur cepat malam ini. Ia mulai merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Disaat ia menarik selimut, tiba-tiba saja ia mendengar sesuatu dari arah jendela.


"Suara apa itu?" Nindya kembali beranjak, ia penasaran dengan suara aneh itu. "Kali ini aku harus waspada, bisa saja itu Lee."

__ADS_1


Nindya mengambil sesuatu di bawah kolong tempat tidurnya, ia selalu siap siaga untuk menghindari hal yang tidak-tidak. Dan kali ini benda itu berguna untuk ia kenakan. Nindya mengantipasi keadaan, ia sudah siap-siap untuk memukul. Pegangan tangannya begitu erat pada benda panjang itu, alat untuk main kriket siap ia layangkan.


Dan suara dari jendela semakin terdengar jelas.


Nindya terkejut ketika melihat jendela kamarnya terbuka, meski ruangan itu terlihat gelap, tapi wujud itu nampak jelas. Seperti laki-laki yang sedang manjat jendelanya, dan ia yakin kalau orang itu adalah Lee.


Bugh ... Bugh ... Bugh ...


Pukulan itu mendarat di bagian punggung orang itu, hingga ia mengaduh karena sakit.


"Aww ... Aww .. Hentikan, Nindya!"


Tapi tunggu dulu, Nindya mengenali suara itu.


Nindya melepaskan benda yang ia pegang, lalu ia menyalakan lampu. Betapa terkejutnya ia melihat siapa yang datang ke kamarnya malam-malam begini.


"Tuan ... Apa yang Tuan lakukan? Kenapa membobol jendela?" Bukannya menolong, Nindya malah mengintrogasi tuannya yang datang ke kamarnya melalui jendela.


"Ini sakit, Nindya! Kenapa kau berbuat ini?"


"Saya bukan, Lee. Dan ini sakit sekali," keluh Andra di bagian punggung.


"Mana yang sakit?" Nindya pun panik karena ia sadar dengan apa yang ia lakukan itu salah. Nindya mendekat karena hendak melihat lukanya di bagian punggung. Reflek, Nindya membuka kancing baju tuannya.


Hingga pada akhirnya, tatapan mereka malah beradu saling pandang. Padangan itu saling mengunci, ada cinta yang sangat besar dikeduanya. Akhirnya Nindya tersadar, ia mencoba melepaskan tangannya dari kemeja tuannya. Tapi sayang, itu tertahan oleh Andra.


"Kenapa? Apa kau tak berniat mengobatiku, saya yakin ini pasti lebam."


"Aku akan mengobatinya."


Andra pun melepas kemeja yang ia kenakan, hingga dada bidang itu terekspose dengan sempurna. Nindya hanya bisa menelan ludah, ia pernah menyentuh dada bidang itu. Seketika, ia teringat akan kejadian waktu itu.


Lamunan Nindya tersadar saat Andra membalikkan tubuhnya.


"Coba lihat, apa itu lebam? Jika lebam, kau harus mengobatiku sampai lebam ini hilang dari punggungku."

__ADS_1


"Apa pukulanku sangat kuat?" tanya Nindya.


Karena terdapat kemerahan di kulit tuannya itu, dan ia harus mengobati lukanya. Jika tidak, ini bisa berisko.


"Tuan janji jangan memecatku, aku akan bertanggung jawab." Setelah mengatakan itu, Nindya segera pergi ke dapur untuk mengambil kompresan.


Dan di dapur, ia bertemu Loly. Asisten yang paling ember.


"Untuk apa itu?" tanya Loly ketika ia melihat Nindya mengambil wadah di isi dengan air.


"Bukan urusanmu, kamu lanjutkan saja pekerjaanmu." Nindya langsung pergi meninggalkan Loly, ia tak ingin tuannya menunggu lama dengan kesakitan yang telah ia buat.


* * *


"Maafkan aku, Tuan. Aku tidak bermaksud menyakiti, Tuan. Aku hanya-." Ucap Nindya terhenti karena Andra semakin mendekat.


Andra mengambil alih wadah kompresan, luka yang ia alami mungkin tak sesakit luka yang dialami gadis itu. Andra memulai aktivitasnya, ia sendiri malah mengompres luka di tangan Nindya.


"Mungkin ini lebih sakit. Kau tidak akan bisa mengobatiku jika tanganmu saja luka seperti ini." Ujarnya seraya mengompres tangan Nindya.


"Tapi ini sudah diobati, Tuan tidak perlu mengobatinya lagi."


"Jangan membantah! Dan saya rasa, saya perlu melakukan ini."


Nindya terdiam sesaat, tapi ia sadar, ini tidak boleh terjadi. Dan ia teringat akan kedatangan pria ini ke kamarnya.


"Apa tujuan Tuan datang kemari? Kalau Tuan Wiliam dan Nyonya Anye tahu Anda di sini, aku bisa dipecat."


"Kedatanganku kemari ingin mempertanggungjawabkan perbuatanku, tidak seharusnya saya lepas dari tanggung jawab, Nindya. Bagaimana pun saya yang pertama kali melakukannya."


Andra masih ingat bercak darah itu, dan ia tak akan bisa melupakannya begitu saja. Di mana ia tak akan mendapatkan momen itu dengan Aileen.


...****************...


Mampir di sini juga yuk.

__ADS_1



__ADS_2