
Roy terus memperhatikan Elena dari kejauhan, entah kenapa ia merasa ingin tahu kenapa wanita itu berwajah masam.
Karena dokter Alan terlihat begitu asyik bersama kekasihnya, Elena melipir secara perlahan. Dadanya terasa sesak karena penantiannya selama ini hanya untuk luka. Tak terasa cairan bening terjatuh membasahi pipinya.
Di pesta itu terhidang beberapa makanan serta minuman. Karena emosi, Elena mengambil minuman yang mengandung alkohol. Ia duduk sendirian sambil meneguk minuman itu hingga tandas. Tak berapa lama, seorang pria duduk di sebelahnya.
Elena menyadari siapa pria itu, bola matanya sedikit memutar karena jengah. "Ngapain dia ke sini?" batinnya.
"Sendirian aja," celetuk Roy.
"Kamu juga sendiri! Emangnya kalau sendiri kenapa? Haram gitu?" cetus Elena.
"Galak bener! Pantas saja gebetanmu berpaling ke wanita lain."
Elena langsung menatap Roy dengan tatapan tajam, seolah mengintimidasinya. Tapi, tunggu. Tahu dari mana kalau gebetannya berpaling? Apa dari tadi ia memperhatikan? Pikir Elena.
"Sudah pergi sana! Jangan menggangguku!"
"Harus aku pergi? Kenapa mengusirku?"
Ini orang maunya apa sih? Gak ada kerjaan lain apa?
Roy tidak tahu kalau Elena begitu kesal, bahkan kehilangan mood-nya. Dan itu semua karena dokter Alan. Wanita itu kembali mengambil minuman saat pelayan melintas di depannya, ia hendak meminum minuman beralkohol itu lagi. Belum gelas itu menyetuh bibirnya, Roy langsung mengambilnya begitu saja.
"Kamu itu Dokter, harusnya kamu tahu mana minuman sehat, dan mana minuman tidak sehat."
"Tidak usah mencampuri urusanku! Kembalikan!"
Roy bukannya mengembalikan gelas itu, ia malah meneguknya sampai tak tersisa.
"Sudah habis." Ucapnya seraya menunggingkan gelas tepat di depan wajah wanita itu.
__ADS_1
"Menyebalkan!" gerutunya.
Elana pun beranjak, berada di sini membuatnya kesal. Ia memilih untuk undur diri dari pesta itu, bahkan ia pergi tanpa mengucapkan apa-apa pada Roy. Sedangkan Roy, ia hanya bisa melihat kepergian wanita itu.
* * *
Pesta akan segera berakhir. Satu persatu, tamu undangan mulai undur diri. Hingga kini menyisakan beberapa tamu saja, dan yang tersisa di sana, ada dokter Zack bersama istrinya juga dokter Alan yang diketahui Roy adalah lelaki yang disukai oleh dokter Elena. Meski hanya menebak, tapi ia yakin itu.
"Roy, siapkan mobil," kata Andra.
"Baik, Tuan."
Roy sudah tahu akan ke mana bos-nya pergi. Pengantin itu akan pergi ke sebuah villa yang terletak di sebuah pulau. Dan, Roy. Ia pun pergi dari sana untuk menyiapkan mobil, dan akan mengantarkan tuannya sampai di tujuan.
Mobil sudah siap ia parkiran di depan hotel, saat ia turun dari mobil, ia melihat dokter Elena yang tengah berdiri tak jauh dari mobilnya. Padahal, cuaca kurang bagus pada malam itu. Hujan gerimis membasahi bumi.
Karena ada tugas dari sang bos, ia tak bisa memperhatikan wanita itu lebih lama lagi. Akhirnya ia kembali masuk untuk menemui sang tuan. Di ruangan acara resepsi itu kini sudah mulai sepi. Andra dan Nindya sudah terlihat lelah, apa lagi dengan keadaanya yang tengah hamil muda.
"Iya, Roy. Kita berangkat sekarang, kasihan istriku dia begitu kelelahan."
Andra dan Nindya berjalan lebih dulu, Roy mengekornya dari belakang. Entah apa yang dilakukan pria itu sampai ia tertinggal jauh oleh bos-nya. Roy tengah mengirim pesan kepada anak buahnya.
Karena menyadari tuannya sudah tak terlihat, Roy langsung berlari untuk menyusul mereka. Setibanya di sana, ia langsung membukakan pintu mobil untuk bos-nya masuk ke dalam. Namun begitu, matanya mencari keberadaan seseorang yang berdiri tadi.
"Lihat apa, Roy?" tanya Andra.
"Tidak, Tuan." Jawab Roy sembari masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.
Kemana dia pergi? Jiwa keingintahuannya mulai meronta, kenapa ia jadi penasaran akan dokter Elena pasca ia melihat wajam muram-nya tadi? Wanita itu sedang mengalami patah hati, sungguh kasian, pikir Roy.
Dan akhirnya, Roy pun mulai menancapkan gas mobil yang ia kendarai. Meski mencoba fokus, kenapa hatinya malah memikirkan wanita itu? Ada apa dengannya? Tak biasanya ia seperti ini, apa hanya karena sering bertemu dan pertemuannya selalu diawali dengan pertengkaran?
__ADS_1
Karena melamun, Roy sampai kurang hati-hati. Hampir saja ia menambrak kucing yang tengah melintas, dan ia langsung mengerem mendadak.
"Hati-hati, Roy," kata Andra. "Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya-nya langsung pada istrinya.
"Tidak," jawab Nindya. "Dia kenapa? Aku perhatikan dari tadi melamun terus?" tanya Nindya pada suaminya tentang Roy.
Andra mengangkat kedua bahu sebagai jawaban.
"Apa ada masalah di kantor?" tanya Nindya lagi.
"Tidak ada, kantor baik-baik saja. Kamu kenapa, Roy? Kalau memang ada masalah cepat selesaikan, jangan seperti ini. Ini bisa bahaya."
"Hanya memikirkan ga-." Roy tidak meneruskan kata-katanya, hampir saja ia keceplosan. Bisa diledek habis-habisan oleh majikannya jika ia memikirkan dokter Elena. Padahal, ia sudah bilang kalau Elena bukan tife-nya.
Tidak, tidak mungkin aku menyukai wanita galak itu. Roy langsung menggelengkan kepalanya menepis semua dalam otaknya. Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, akhirnya mereka pun sampai di sebuah villa yang terletak di pulau. Pulau yang tidak terlalu luas namun sangat cantik dengan pemandangannya.
Tak terasa, Nindya sampai tertidur selama di perjalanan. Tak ingin mengganggu istrinya, Andra pun membopongnya ala bridal style. Saat Roy turun dari mobil, ponselnya bergetar. Menandakan ada pesan masuk.
*Dia ada di pantai, apa perlu kami awasi terus?
Pantau terus, saya akan ke sana*. Roy membalas pesan dari anak buahnya. Setelah memastikan majikannya sampai di tempat dengan aman, ia pum akhirnya pamit karena tak ingin mengganggu momen indah pengantin itu. Meski bukan pengantin baru, tapi momen ini momen pertama bagi mereka.
Roy segera pergi menuju lokasi yang sudah diberitahukan oleh anak buahnya. Ia hanya ingin tahu apa yang dilakukan oleh gadis itu sendirian di pantai, apa lagi tengah malam begini? Apa cinta membuat semua orang gila? Pikir Roy.
* * *
Kecewa, itulah yang dirasakan Elena. Kenal dengan dokter Alan sejak kuliah dulu. Bahkan ia sering bersama sampai sekarang. Tapi saat hadirnya suster Mira membuat mereka jarang bertemu, dan di pesta tadi, ia berharap akan menghabiskan malam ini bersama dokter Alan.
Elena sudah pikirkan matang-matang, ia menghilangkan rasa gengsi-nya. Ia akan menyatakan cintanya pada dokter Alan. Belum kata cinta itu terucap, dokter Alan sudah lebih dulu menutup pintu hatinya untuk wanita lain. Hingga hatinya kini sudah berlabuh pada suster Mira.
"Aarrgghhhh ..." Elena teriak sekencang-kencangnya, semoga dengan begini hatinya bisa lega. Mencoba untuk ikhlas, tapi itu butuh waktu.
__ADS_1