Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 76


__ADS_3

Kring ... Kring ... Kring ...


Ponsel milik Roy berdering tepat di samping telinganya, pria itu mengerjapkan mata. "Siapa sih pagi-pagi sudah mengganggu?" rutuknya kesal.


"Hmm, ada apa?" jawab Roy tanpa melihat siapa yang menghubunginya.


"Bangun, cepat!" titah orang itu.


Roy begitu mengenali suara itu. "Ada apa? Bukankah aku sudah dipecat? Untuk apa menghubungiku lagi?" tanya Roy.


"Dasar kurang ajar! Mau kupecat beneran, hah?"


Roy langsung saja terbangun, ia memang tak bisa membantah apa kata bosnya. Elena yang terganggu pun ikut terbangun, sang istri memeluknya dengan manja. Sedangkan Roy, ia mengacak rambut istrinya dengan gemas.


"Jangan drama, ini masih pagi. Cepat bersihkan tubuhmu, setelah itu temui aku di rumah," kata Andra di sebrang sana.


Roy mengerucutkan bibir, ia berpikir kenapa bosnya tahu apa yang tengah ia lakukan pada istrinya? Apa jangan-jangan, CCTV masih berkeliaran di rumahnya? Roy mencium istrinya terlebih dulu sebelum pergi ke kamar mandi.


Saat berada di ambang pintu, Roy kembali berucap. "Ayok, kamu ikut?" ajak Roy, "kamu masih punya hutang padaku," ucapnya lagi.


Tapi Elena tak merespons, ia malah bergidik karena ia tahu apa yang dimaksud suaminya. Kini, Roy malah kembali menemui istrinya. Dan ia langsung membopong tubuh mungil itu ala bridal style. Roy mendudukkannya di bath-up, dan ia pun ikut ke dalam sana. Bath-up sudah terisi oleh air, hanya saja airnya begitu dingin sehingga Elena langsung memeluk suaminya.


Roy suka dengan perubahan istrinya itu, tanpa menunggu lagi ia melakukan aktivitas suami istri di bath-up. Karena dikejar waktu, Roy langsung memacu. Yang bisa Elena lakukan hanya menerima setiap apa yang dilakukan oleh suaminya. Dirinya hanya milik sang suami, apa pun itu ia terima.


"Sayang ..." Roy berada di puncak kenikmatan.


Elena menjambak rambut suaminya karena ia pun mencapai puncak secara bersamaan. Roy berhasil menanamkan benih di rahim istrinya, ia berharap akan segera menyusul sang bos menjadi calon ayah.


* * *


"Roy, aku juga mau ke rumah sakit," ucap Elena setelah selesai memakai baju dinas-nya.


"Yakin?"


Elena mengangguk. "Aku tidak bisa meninggalkan rumah sakit lama-lama, lagian yang mereka tahu aku belum menikah Jadi tidak bisa mengambil cuti seenaknya tanpa izin," tuturnya.


"Hmm, baiklah. Aku akan mengantarmu sebelum ke rumah si bos."


"Gak takut kesiangan?" tanya Elena, "aku bisa bawa mobil sendiri."

__ADS_1


"Mobilmu di rumah om-mu, kita 'kan sekarang di rumah kita. Jangan bertingkah mau berangkat sendiri, kamu itu sekarang sudah punya suami."


"Iya, iya ... Jangan bilang kalau kamu takut aku sama cowok lain?"


"Iya, aku takut kamu selingkuh, sama dokter Alan." Tak bisa dipungkiri, rasa cemburu kemarin masih tertanam dalam hati. Apa lagi ia tahu bahwa istrinya memiliki rasa pada pria itu.


"Tidak akan. Setelah aku jadi istrimu, aku hanya milikmu. Jangan pernah beranggapan kalau aku akan mengkhianti pernikahan kita." Elena memberikan sebuah kecupan panjang di bibir suaminya. Saat ia akan melepaskan tautan itu, Roy menahan ceruk leher istrinya.


Ia malah bermain lidah sebentar, tapi Roy malah memperdalam ciumannya. Karena Elena tak bisa melepaskannya, terpaksa ia menggigit bibir bawah milik Roy.


"Aduh, aduh ... Sakit!" keluh Roy.


"Bosmu nanti marah, menunggumu terlalu lama" kata Elena.


Roy yang mengingatnya langsung buru-buru keluar dari kamar. Berada di kamar lama-lama malah menimbulkan setan, ia malah tak ingin berpisah dengan istrinya jika terus berduaan.


* * *


"Ingat pesanku, jangan dekat-dekat dengan pria itu! Cuma aku yang ada dalam hatimu!" ucap Roy sebelum istrinya turun dari mobil.


"Iya, sayang." Elena menangkup kedua pipi suaminya, lalu menciumnya dengan gemas.


Saat mereka sedang berciuman di dalam mobil, seseorang telah melihatnya. Tak lama, orang itu pun pergi dengan rasa penasaran.


"Iya, jaga hatimu," Roy pun berteriak karena Elena semakin menjauh dari pandangan. Roy menancapkan gas, dengan cepat ia segera ke rumah utama.


Setibanya di sana, rumah nampak hangat. Keluarga Wiliam tengah sarapan bersama.


"Roy, ayok sini. Kita sarapan sama-sama," ajak Anye.


"Iya, Nyonya." Roy pun ikut bergabung, tatapan Roy tertuju pada seorang pria yang tengah duduk di samping Nindya. Ia baru pertama kali melihatnya, lalu ia menaikkan alis ke arah Andra seolah bertanya siapa lelaki itu?


"Yah, kenalkan. Ini Roy, sekretarisku," kenal Andra pada Halim. Halim langsung menoleh ke arah Roy sambil tersenyum.


"Ini, Ayahku," kenal Nindya kemudian.


Roy membalas senyuman Halim. Mereka sarapan dengan tenang. Setelahnya, Wiliam memerintahkan anak buahnya untuk segera ke kota Sukabumi. Menjemput Rahayu serta si kembar.


Sedangkan Roy, pria itu disuruh menggantikan sang bos diperusahaan. Andra tidak jadi memecatnya selama dua hari itu. Setelah urusannya selesai, Andra berjanji akan memberikan cuti pada pengantin baru itu.

__ADS_1


Kini semua bubar, dan mulai menjalani tugas masing-masing. Hanya keluarga inti yang masih berada di ruang makan itu. Anye meminta cemilan pada Loly untuk dibawakan ke ruang tamu. Loly sedikit kesal akan hal itu, tak bisa dibohongi, bahwa ia cemburu pada Nindya.


Wanita itu selalu menang banyak, Nindya selalu lebih unggul darinya. Nindya sendiri bisa merasakan ada perbedaan yang amat luar biasa dari teman seprofesinya itu sewaktu dulu. Meski begitu, Loly tetap mengerjakan apa yang disuruh Anye.


* * *


Keluarga Wiliam nampak bercengkrama di ruang tamu, Halim sedari tadi tersenyum melihat tingkah putrinya yang sedang bersendau gurau dengan pasangannya. Entah apa yang sedang dibicarakan oleh mereka, dilihat dari kejauhan putrinya terus tertawa lepas bersama suaminya. Mereka berada disatu ruangan, tapi agak berjauhan.


Dibalik musibah yang menimpanya, kini tergantikan kebahagiaan yang teramat luar biasa. Tak terasa, waktu terus berlalu. Hari semakin siang, anak buah Wiliam sedang berada di perjalanan dan sebentar lagi sampai di rumah utama.


Hingga beberapa menit kemudian, mobil yang diutus untuk menjemput Rahayu dan si kembar pun tiba. Nindya menyudahi aktivitas yang sedang dilakukannya dengan sang suami. Lalu, menuju kepada sang ayah. Menghampirinya dan mengajaknya untuk segera keluar. Menyambut Rahayu.


Halim gemetar, 5 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Keringat dingin nampak menyelimuti. Nindya menggenggam tangan sang ayah, seolah memberi kekuatan. Rahayu sendiri, wanita itu belum tahu kalau ia dijemput ke rumah bukan karena adanya Halim.


"Ayo, Yah. Kita ke depan," ajak Nindya.


Mereka berjalan bersamaan.


"Kakak ...," teriak si kembar.


Si kembar berlari menuju ke arah sang kakak yang berada di ambang pintu. Hingga detik berikutnya, Rahayu mematung saat melihat ke arah putrinya. Di samping sang putri terdapat sosok yang selama ini ia rindukan. 5 tahun tak bertemu tak membuat Halim berubah, hanya sedikit kurus dari perubahan itu.


Halim segera berlari menghampiri sang istri, memeluknya dengan erat. Rahayu seperti orang mati, ia merasa tak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya saking tak percaya. Tas yang berada dalam genggaman terjatuh seketika. Hanya air mata yang mengalir deras.


Halim menyambut kedatangan istrinya dengan sejuta kecupan, ia tak henti-hentinya menciumi wajah wanita paruh baya itu. Melepas pelukan, tapi kembali memeluknya lagi hingga berulang kali.


"Semua ini nyata?" ucap Rahayu, ia takut ini hanya ilusinya.


"Tidak, ini aku, Halim. Suamimu," tuturnya.


Tangis Rahayu kembali pecah, ia membalas pelukan suaminya. Si kembar yang tak mengenal siapa Halim, keduanya hanya bisa menatap dengan tatapan bingung.


"Kak, siapa orang itu?" tanya Nisa, "kenapa terus memeluk Ibu?"


Pertanyaan Nisa membuat Rahayu melepaskan pelukkannya dari tubuh suaminya.


"Mas, apa kamu tidak ingat bahwa kita memiliki anak kembar?" kata Rahayu.


"Mana mungkin Mas lupa." Halim membalikkan tubuhnya, ia melihat ke arah si kembar lalu merentangkan kedua tangan.

__ADS_1


"Temui dan peluk dia, itu, Ayah," tutur Nindya kepada kedua adiknya.


Si kembar antusias karena mereka merindukan sosok ayah dalam hidupnya. Mereka berlari menghampirinya, Nisa sampai terjatuh. Gadis kecil itu menangis. Halim segera menemuinya. Tangis mereka pecah tepat di hadapan Wiliam. Ia berjanji akan melakukan apa pun untuk menebus semua kesalahan yang ia buat dimasa lalu.


__ADS_2