
"Anak itu benar-benar ...," gerutu Andra setelah menerima panggilan dari anaknya.
"Ada apa, Mas," tanya sang istri.
"Nathan, dia menyuruh kita menemui Doni. Dia tidak bilang kalau kita ada di sini, kalau kita tidak datang sekarang nanti Doni mengira Nathan tidak serius. Ayo siap-siap, kita berangkat sekarang," ajak Andra, "suruh anak-anak bersiap."
"Iya." Nindya pun pergi menemui Nala dan Dewa.
Akhsa dan Nadien sudah pulang saat Nathan dan Dewi pergi. Tidak ada harapan baginya untuk tetap berada di sana. Ia merelakan gadis yang cintainya bersama orang pilihannya.
* * *
"Dewa, di mana kakak-mu?" tanya Nindya.
"Tidak tau, Mom. Sejak tadi aku tidak melihatnya." Jawab Dewa yang sedang bermain game di ponselnya.
"Ayo siap-siap, kita pulang ke Jakarta sekarang juga. Cari kakak-mu, suruh dia bersiap."
"Aku gak mau pulang, malam ini aku bermalam di sini, Mommy ajak kak Nala saja."
"Ya sudah, bantu Mommy mencari kakak-mu."
Dewa sudah merasa lelah, ia sudah mengitari rumah. Tapi Nala tak kunjung ditemukan, entah kemana gadis itu pergi. Sejak keberadaannya di sini, gadis itu lebih sering menyendiri, dan sibuk dengan laptopnya.
Nindya pun akhirnya pasrah, ia tak lagi mencari Nala. Gadis itu sudah besar, tidak ada salahnya jika ditinggal, pikirnya. Ia pun kembali menemui suaminya.
__ADS_1
"Mana anak-anak? Semuanya sudah siap 'kan?" tanya Andra.
"Dewa masih mau nginap, Nala tidak tau pergi ke mana. Aku sudah mencarinya tapi tidak ketemu, biarkanlah saja mungkin dia butuh hiburan."
Andra tidak mempermasalahkan itu, di sini pun bersama kakek dan neneknya. Mereka pamit kepada Rahayu dan Halim, juga Panji. Mereka langsung mengatakan kepulangannya.
"Hati-hati, beri tau kami jika tanggalnya sudah ditetapkan," ujar Halim.
"Iya, Yah. Kami langsung memberikan kabar itu jika sudah ditetapkan." Nindya dan Andra mencium punggung tangan orang tuanya secara bergantian. Setelah itu mereka pun pergi.
* * *
Setelah menempuh beberpa jam, akhirnya mereka sampai di kediaman Doni. Kedatangannya disambut oleh anaknya juga calon menantunya.
"Kamu pikir jarak dari sana ke sini dekat, hah?" Andra sedikit jengkel dengan tingkah anaknya itu. Nathan sama persis dengan dirinya, selalu tidak sabar dengan apa yang diinginkannya. "Kamu bikin repot saja, tidak bisa nunggu besok apa?" sengitnya.
"Sudah dong, Mas. Malu kalau sampai didengar orang lain," protes Nindya, "gak sadar kalau sendirinya juga gitu?" sindirnya kemudian.
Andra skakmat, ia tidak lagi bisa mengelak. Apa yang dituduhkan istrinya memang benar, ia pun sama tidak sabarnya.
"Ayo masuk," ajak Dewi, "Papa sudah menunggu di dalam."
Di dalam, Doni tengah bersama ibunya. Neneknya Dewi ternyata tengah sakit, wanita tua itu duduk di kursi roda setelah suaminya meninggal. Dan kini ia tak bisa berbuat apa-apa. Kehadiran Dewi diterima olehnya, meski dulu ia ikut menentang hubungan orang tua Dewi.
"Pa," panggil Dewi, "orang tua kak Nathan sudah sampai."
__ADS_1
Doni menoleh, lalu bangkit dari tempat duduknya. "Ayo, kita temui mereka." Kata Doni sambil mendorong kursi roda yang diduduki oleh ibunya.
* * *
"Kenalkan, ini orang tua Kak Nathan. Beliau yang sudah merawatku hingga sekarang," ucap Dewi.
Doni merasa berterima kasih sekali dengan semua ini. Tidak ada hak untuknya melarang cinta Dewi dan Nathan. Entah bagaimana jika tidak ada mereka, mungkin dirinya akan kehilangan Dewi juga.
Doni dan Andra saling berjabat tangan sebagai perkenalan. Berganti pada Nindya. Mereka pun duduk di ruangan keluarga, tidak banyak kata lagi, mereka langsung membicarakan tanggal pertunangan anak-anaknya. Andai tidak ada wanita tua yang tengah sakit, mungkin Nindya sudah melempar Doni dengan tas mahalnya itu.
Tidak ada masalah lagi, mereka semua merestui. Dan pertunangan sudah ditetapkan, berhubung sebentar lagi Dewi ulang tahun, jadi pertunangan akan dilangsungkan bersamaan dengan hari jadi Dewi.
"Kamu kenapa diam terus?" bisik Andra di telinga istrinya.
"Pengen hajar dia rasanya, tapi ada wanita tua itu," jawab Nindya gereget.
"Ish ... Aku kira ada apa. Jangan bikin masalah, gak kasian liat Nathan sudah ngebet begitu?" Mereka terus saling berbisik sehingga Doni menatap curiga dan tidak enak. Ia tahu dirinya berdosa besar kepada mendiang mantan istrinya itu, tapi bagaimana lagi? Semua bukan salahnya sepenuhnya.
...----------------...
Mampir di karya temanku juga.
Judul : Rumah Tangga
__ADS_1